Dinamika Edisi I Oktober 2007

Surabaya Indie Katolik (Sindiekat)
Menyatukan Semua Asa

Musik itu universal, karena musik dapat diterima semua orang. Musik menyatukan segala perbedaan dan menjadi media bagi segala segala pikiran, perasaan, harapan dan pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang berbeda dan unik.

Atas dasar itulah sebuah komunitas baru berlatarbelakang musik terbentuk di Keuskupan Surabaya, yaitu Sindiekat (Surabaya Indie Katolik). Komunitas ini dimotori oleh OMK pencinta musik yang diwujudkan dalam suatu ajang festival band indie. Di tengah “gelombang besar” semangat indie (dari kata independen) yang sedang melanda orang muda, festival ini mencoba memberi warna yang berbeda di tengah OMK.

Pada 20 Mei 2007 yang lalu bertempat di SMAK St Hendrikus Surabaya, Sindiekat menggelar sebuah Festival Band Rohani tingkat Keuskupan Surabaya, dengan tema “Wartakanlah Pengharapan”. Keterlibatan OMK dalam kegiatan ini akan membawa suatu perubahan dalam musik liturgi Gereja karena festival ini mensyaratkan aransemen musik liturgi bergaya OMK. Unsur indie seakan memberi suatu inspirasi bahwa OMK berusaha untuk mandiri dan tidak tergantung ketika hendak bergerak dan mencoba merealisasikan ide serta harapannya. Selain itu, tema yang diangkat juga membawa suatu pesan di mana musik menjadi suatu sarana untuk mewartakan pengharapan dan membawa perubahan bagi semua orang yang berjuang demi kehidupan bersama yang lebih baik. Hal ini akan terealisasi lewat album indie kompilasi rohani yang akan dirilis dalam waktu dekat. Karya-karya yang terangkum di dalamnya akan menjadi suatu inspirasi bagi banyak orang akan adanya pengharapan.

Dalam ajang ini, OMK diajak untuk berani menuangkan ide-ide baru lewat musik yang pada akhirnya dapat menjadi sebuah kontribusi yang berarti dalam kehidupan Gereja. Dengan begitu, OMK yang berpotensi akan mulai bermunculan dan dapat menjadi aset Gereja untuk mengembangkan kehidupan Katolik yang didasari oleh iman dan cinta kasih lewat kegiatan-kegiatan yang berarti. Terkait dengan hal itu, komunitas Sindiekat ini pada akhirnya akan menjadi mitra bagi Komisi Kepemudaan Keuskupan Surabaya di mana komunitas ini akan banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menggerakkan kaum muda untuk menemukan nilai-nilai yang baru dalam kehidupannya.
Agnes Lyta

Peserta 20 paroki – 21 group dari 4 regio plus 1 group dari SMA St MariaJuara 1 : Paroki Salib Suci – Herbal Band
Juara 2 : Paroki SMTB Ngagel – The Window of Glory
Juara 3 : Paroki Kelsapa Kepanjen – @min Band
Juara 1 Aransemen Terbaik : Paroki Kelsapa Kepanjen – @min Band
Juara 2 Aransemen Terbaik : SMAK St. Maria – God Never Sleep
Juara 3 Aransemen Terbaik : Paroki Sakramen Maha Kudus Pagesangan – Kamusamaku Band
Juara Harapan : Paroki St Maria DTBA Tulungagung – Chip+ Band
Juara Harapan : Kenjeran – STMJ Band

edisi-1-hal-5.jpg
——————————————————————————

WORKSHOP PARTICIPATORY ACTION RESEARCH

Pada tanggal 24 – 27 Juli 2007, Komisi Kepemudaan Keuskupan Surabaya ditunjuk oleh Komisi Kepemudaan KWI untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Workshop Participatory Action Research (PAR). Kegiatan ini bertempat di Sasana Kridha Jatijejer, Mojokerto dengan dihadiri oleh 24 orang dari Komisi Kepemudaan masing-masing Keuskupan di Indonesia. Keuskupan yang hadir antara lain Surabaya, Jakarta, Semarang, Bandung, Pangkal Pinang, Pontianak, Bogor, Padang, Palembang, Malang, Purwokerto dan Palangkaraya. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Komisi Kepemudaan KWI dengan Dinas Katolik Departemen Agama dan Pusdakota.


Proses pelaksanaan workshop ini dimulai dari pemahaman tentang PAR. Setelah itu, peserta diminta untuk menyusun desain penelitian yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip PAR dan diuji kebenarannya. Desain yang telah disusun tersebut akan diterapkan di masing-masing keuskupan. Keuskupan Surabaya sendiri mengambil tema “Orang Muda Katolik Surabaya dan Dialog Antaragama”

Berbeda dengan penelitian konvensional yang bertujuan untuk mengembangkan teori, metodologi Penelitian Aksi Partisipatoris ini terfokus pada faktor institusi atau kelembagaan sehingga kegiatan PAR mempunyai keluaran berupa aksi bersama untuk mencapai kondisi yang diharapkan masyarakat lokal.

Beberapa prinsip PAR yang membedakan dengan penelitian konvensional adalah partisipasi, belajar bergantian dan berbagi (prinsip 1). Peka jender dan berorientasi aksi (prinsip 2). Cepat tapi rileks, luwes dan adaptif (prinsip 3). Kerja lapangan (prinsip 4). Singkatnya, metode penelitian PAR ini paling pas ditujukan bagi OMK yang getol dengan penelitian sekaligus ingin terlibat dalam subyek penelitian dan berorientasi pada aksi bersama.

Antusiasme dari para peserta membuat acara ini cukup menarik, karena ternyata OMK pun bisa diajak untuk berpikir ilmiah melalui acara-acara semacam ini. Selain itu, model penelitian ini merupakan suatu bentuk terobosan yang baru sebagai cara pendekatan yang lebih tepat terhadap OMK, sehingga setiap kegiatan yang diadakan oleh Komisi Kepemudaan nantinya benar-benar dapat menjawab kebutuhan OMK.

Agnes Lyta
——————————————————————

Membangun Bangsa Lewat Solidaritas Orang Muda.

Bertepatan dengan HUT RI Ke-62, K3S mengajak seluruh OMK di Keuskupan Surabaya, ikut ambil bagian dalam usaha mengangkat nilai-nilai solidaritas OMK melalui acara bertajuk Kejuaraan Tradisional yang digelar di SMUK St. Louis II jalan Tidar Surabaya.


Dalam acara yang dihadiri OMK Regio I dan OMK dari Paroki Santo Matius, Pare, Santo Yosep Mojokerto dan Santa Maria Jombang, itu, ada beberapa permainan yang dilombakan. Antara lain sepak bola terong, nyunggih tampah dan balap karung duet.
Ada hal menarik dalam perlombaan yang digelar di halaman SMUK St. Louis II ini. Yaitu adanya suatu usaha untuk mengangkat permainan yang bersifat tradisional menjadi suatu kompetisi yang berbobot dengan tidak meninggalkan nilai-nilai solidaritas yang hendak diangkat.

Kegiatan yang juga menjadi simbol perekat OMK ini semakin meriah berkat dukungan band-band paroki yang menjadi pemenang Festival Band Sindiekat bulan Mei lalu. Apalagi penampilan mereka, juga sebagai ajang promosi untuk album kompilasi rohani yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Dalam kegiatan yang berlangsung sehari itu, tentu ada interaksi antarpeserta sehingga bisa menjadi cara untuk memperluas jaringan dan memperkuat relasi diantara OMK di Keuskupan Surabaya. Juara umum acara ini adalah Paroki St. Yusuf, Karangpilang Surabaya

Mungkin inilah yang diharapkan Romo Eko Budi Susilo, Pr (Pastor Paroki Katedral Surabaya), dalam bukunya “Gereja dan Negara”. Yaitu bahwa, “Gereja mengharapkan setiap umatnya untuk ikut berperan serta dalam pembangunan masyarakat Pancasila yang sesuai dengan kemampuan kita.” (Agnes Lyta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: