Wacana Edisi I Oktober 2007

 edisi-1-hal-6.jpg

Kekerasan Personal dan Struktural
Oleh : I Marsana Windhu

1.Arti, Sifat Kekerasan Personal dan Kekerasan Struktural
Tanpa mengesampingkan dimensi kekerasan yang lain, tulisan ini hanya akan membahas dimensi langsung/personal dan tidak langsung/struktural dari kekerasan. Menurut Galtung, kedua pembagian ini merupakan pembagian dasar. Disebut kekerasan personal/langsung, karena akibat-akibat kekerasan dapat dicari sebab-sebabnya sampai pada manusia konkrit. Dengan kata lain, ada subyek yang melakukan tindakan kekerasan dengan sengaja. Obyek yang menjadi korban (manusia) bisa menangis atau mengaduh, sampai kematian sebagai bentuk ekstrimnya. Jelaslah bahwa sifat kekerasan langsung ini mudah diamati, karena tampak dalam tindakan; ia bagaikan riak-riak, gelombang dalam masyarakat statis. Dalam kekerasan struktural, si obyek tidak bisa langsung menangis atau menjerit (namun sebenarnya ia atau mereka menderita berkepanjangan) karena tidak ada pelaku yang secara konkrit langsung melakukan tindakan kekerasan. Karena jenis kekerasan ini sudah menjadi satu dengan struktur, yaitu struktur yang tidak adil. Maka sifat kekerasan ini bagai air tenang, namun menghanyutkan dan tidak mudah diamati. Dengan ini Galtung menolak konsep sempit tentang kekerasan yang hanya menekankan tindakan yang menyakiti tubuh atau membunuh yang dilakukan oleh pelaku dengan sengaja. Galtung memang melawan pandangan sempit sebagaimana dipahami banyak oleh orang ini. Dengan mencanangkan kekerasan struktural, ia mau membangun konsep kekerasan yang luas. Karena baik kekerasan personal maupun struktural mempunyai akibat yang sama- sama mengerikan.

2. Hubungan antara Kekerasan Personal dan Kekerasan Struktural1
Dalam The True World. A Transnational Perpective(1980), Galtung mengungkapkan bahwa kedua jenis kekerasan ini bisa bersifat dialektis atau kausal. Terlalu menekankan kekerasan personal berarti melalaikan unsur-unsur struktural dan sebaliknya begitu menekankan kekerasan struktural berarti melupakan unsur-unsur individual. Bisa terjadi kekerasan struktural dipelihara dengan kekerasan personal entah yang terang-terangan atau yang tersembunyi (oleh pihak yang diuntungkan oleh adanya kekerasan struktural). Bisa juga terjadi kekerasan struktural yang berlarut-larut menimbulkan reaksi protes dengan kekerasan langsung. Secara empiris kedua jenis kekerasan ini bisa juga tidak ada kaitan. Jadi Galtung tidak mengungkapkan dengan tegas bagaimana persisnya hubungan itu; dia hanya memberi kemungkinan-kemungkinan pola hubungan. Pada bagian berikut ini akan lebih banyak dibahas jenis kekerasan struktural, karena jenis ini sering dilalaikan.

3.Bentuk-Bentuk Kekerasan Struktural
Menurut Galtung, ada dua bentuk dasar kekerasan struktural: represi dan ekploitasi. Baik represi maupun eksploitasi menghancurkan realitas yang sama (manusia) dengan tekanan berbeda: yang pertama menyangkut kebebasan, martabat dan hak-hak asasi; yang kedua berkaitan dengan hal-hal material ekonomis. Situasi masyarakat dapat menjadi sedemikian represif sehingga mengakibatkan kematian psikis atau mental; begitu juga situasi dapat menjadi begitu eksploitatif (misalnya dengan membatasi, mencegah terpenuhinya kebutuhan dasar) sehingga menyebabkan kematian atau penderitaan.
Demikian kita dapat menemukan bentuk-bentuk kekerasan struktural yang lain dalam tatanan dunia yang tidak harmonis (situasi-situasi negatif negatif) seperti kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan sosial, ketidakseimbangan ekologis, fragmentasi, penetrasi, ketidakmerataan. Galtung tidak akan menyebut situasi-situasi ini sebagai kekerasan, bila hal-hal tersebut bersifat alamiah. Ini berarti bahwa kekerasan itu diciptakan oleh manusia baik langsung atau tidak yang sudah mengendap dalam struktur yang korup mapan.

4.Faktor-Faktor pendukung Ketimpangan
Faktor-faktor apa saja yang membuat situasi-situasi negatif terus berlangsung dan ketimpangan cenderung meningkat? Pertama, adanya perbedaan ketidakmerataan dalam segi ada, memiliki, dan kedudukan-nya dalam struktur nasional dan mondial. Dari sinilah muncul perbedaan dan pemusatan kekuasaan (power) di tangan segelintir orang atau negara kuat-kuasa, yang kemanusiaan menciptakan ketergantungan, kepatuhan dan ketakutan di pihak rakyat banyak, massa bawah yang tidak mempunyai kedudukan tinggi, kekuasaan besar dalam satu sistem atau struktur, dalam sistem atau struktur lain, cenderung berkedudukan dan mempunyai kekuasaan yang tinggi pula, bahkan cenderung meningkat. Orang pandai, kaya dan berpangkat tinggi akan lebih mudah menaikkan posisinya. Sebaliknya, orang yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa (powerlessness) sangat sulitlah beranjak dari kubang penderitaan dan ketidakberdayaan. Ketiga, adanya pembagian kerja vertikal (tidak seimbang) yang terus berlangsung, yang dapat ditemukan dalam pola hubungan majikan-buruh, ahli/profesional-klien/tidak ahli, tuan-hamba, penguasa/ rakyat, genderisasi/sexisme (subordinasi kaum wanita), pembuat-peniru/penerima model-model keputusan, dst. Semuanya ini mendasari adanya eksploitasi dan represi yang akhirnya melanggengkan ketidakmerataan dan ketidaksamaan. Ketiga faktor ini turut mendukung lestarinya mekanisme kekerasan struktural. Akibatnya, susunan masyarakat akan tetap menunjukkan ketimpangan yang secara kasar terbelah menjadi dua: antara yang kuat (topdog) yaitu yang kaya, pandai, terampil, terorganisir, mempunyai kekuasaan atau wewenang untuk mendistribusikan sumber-sumber kemakmuran yang lemah (underdog) yaitu yang miskin, tidak terdidik, tidak terampil, terpecah-pecah dan tidak mempunyai apa-apa.
Sebenarnya dimanakah letak kejahatan kekerasan itu? Kekerasan itu sama dengan mereduksi manusia pada status benda2. Dalam kekerasan struktural pereduksian atau penghancuran melalui proses yang lambat , tak disengaja, namun mengakibatkan penderitaan, mengikis jiwanya dan akhirnya mematikan. Kelaparan yang dialami oleh sebagian besar penduduk dunia (khususnya di negara-negara sedang berkembang) adalah salah satu contoh konkrit. Kelaparan menjadi sebab yang menghalangi, menjauhkan proses realisasi kepenuhan diri manusia. Mereka tidak dimungkinkan untuk indah menyenangkan sebelum sang maut merenggutnya. Di sini menjadi jelas bahwa kekurangan dimensi memiliki bisa menghancurkan segi ada-nya Kata lain, manusia membutuhkan dimensi memiliki dengan cukup untuk bisa menjadi ada-nya.

(Dikutip dari majalah Filsafat Driyarkara No. 3&4/ Th. XV Mei 1989, Hal. 3-13)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: