Diksi Edisi II November 2007

BERKURANG DAN HILANG ADALAH NISCAYA

edisi-2-hal-7.jpg
Film “Burning Season” itu film inspiratif. Paling tidak bagi saya. Film itu berkisah mengenai perjalanan hidup Chico Mendez. Kalau Anda sempat, luangkan waktu untuk nonton film itu. Memang agak lama durasinya, sekitar dua jam, namun Anda tidak akan rugi nonton film itu. Saya sudah beberapa kali menonton film tersebut, dan selalu masih ada saja sudut hati yang tergetar oleh pesan-pesan yang digemakan film tersebut.


Berikut ini, saya ceritakan salah satu kesan setelah nonton film tersebut. Kesan ini mulai menyeruak dalam batin saya ketika ada dialog mengenai sembilan butir peluru yang ditemukan pada salah satu korban kekerasan dalam cerita tersebut. Sembilan butir peluru pada satu tubuh. Angka-angka yang biasa saja. Sembilan dan satu. Namun kalau kemudian kita ingat bahwa satu peluru saja sudah dapat membunuh, lantas kita sadar dan mulai bertanya, mengapa sampai ada sembilan butir peluru pada satu tubuh? Apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan oleh orang yang menembakkan peluru itu? Mungkinkah dia dicekam dendam yang begitu besar sampai perlu melampiaskannya dengan sembilan butir peluru? Ataukah dia dicekam ketakutan yang luar biasa, sehingga pada tubuh yang sudah tidak bernafas pun masih perlu ditambahkan beberapa peluru lagi?

Banyak orang dalam film tersebut digambarkan sebagai orang-orang yang mengalami rasa ketakutan. Para korban kekerasan dicekam rasa takut. Pelaku kekerasan pun dilukiskan sebagai orang yang dikuasai rasa takut pada potensi perlawanan korban. Para idealis dicekam ketakutan, apakah cita-citanya akan dapat terwujud? Para pebisnis dijuga dicekam ketakutan, apakah keuntungan yang diperoleh dapat terus bertambah seperti yang dibayangkan? Para politisi dicekam ketakutan, apakah jabatan dan kuasa masih dapat dipegang terus? Remaja berpistol pun takut gengsi harga dirinya berkurang kalau ia menaruh pistolnya. Begitulah, ternyata ketakutan dapat menyelinap dalam beraneka cara. Rasa saya film itu mau mengatakan bahwa semua orang sebenarnya adalah orang yang hidup dengan ketakutan. Tinggal orang mampu menyadari dan mengelola ketakutannya, atau orang justru tidak mau mengakui dan malah dikuasai oleh ketakutannya sendiri.

Dari dialog tentang sembilan peluru pada satu tubuh, timbul pertanyaan ini. Mungkinkah para pelaku kekerasan adalah orang-orang yang justru dikuasai oleh ketakutan yang besar? Jika ternyata benar bahwa pelaku kekerasan adalah orang yang takut, entah karena apa atau untuk apa dia takut, maka pentinglah untuk menyadari dan memahami rasa takut yang berada dalam diri kita, berikut kinerjanya. Dugaan saya, adalah sangat berguna bagi upaya-upaya bertindak aktif tanpa kekerasan, bahwa orang mulai mengelola pengalaman batinnya sendiri, khususnya berkenaan dengan rasa takut yang ternyata berpotensi mendorong terjadinya tindakan kekerasan. Sebab lingkar kekerasan memang harusnya mulai diretas dari diri sendiri.

Apakah ‘ketakutan’ itu? Ketakutan itu merupakan pengalaman manusiawi yang berdekatan dengan suatu sikap panik dan yang menolak datangnya realitas bahwa hidupnya akan “berkurang” (berkurang harga diri; berkurang keuntungan material; berkurang penghormatan dari orang lain; berkurang kemampuannya; dst). Kepanikan dan penolakan itulah yang kiranya mewujud menjadi tindakan kekerasan, yang muncul karena ingin menjaga hidupnya sendiri jangan sampai berkurang apapun juga.

Tindakan melindungi diri dapat kita pahami dengan mudah, namun ketika tindakan yang sama ternyata dialami oleh pihak lain sebagai tindakan yang merusak atau menghalangi hidup orang lain, maka kita mesti mulai bertanya. Sebab masing-masing dari kita hidup, tetapi tidak pernah hidup sendirian saja. Hidup-ku dan hidup-kita semestinya dilindungi sebagai dua dimensi hidup yang sama-sama penting. Namun pada kenyataannya selalu sulit menemukan kesimbangan dan ketepatan penghargaan terhadap hidup-ku dan hidup-kita. Kerapkali orang terpeleset jatuh pada upaya melindungi hidupnya sendiri dan ternyata merusak dan menghalangi perkembangan potensi dalam hidup orang lain. Saat itulah terjadi kekerasan. Seperti yang disebut Johan Galtung, 1978, “kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya lebih rendah daripada realisasi jasmani dan mental potensialnya”.

Mengalami realitas bahwa hidup akan “berkurang”, apalagi mengalaminya sendirian, memang merupakan pengalaman yang berat, dan sewajarnya kita mau menolaknya. Harus ada motif atau keyakinan yang kuat untuk menerima kenyataan bahwa “berkurang”, atau bahkan “hilang”, merupakan suatu keniscayaan bagi hidup yang fana. Lebih-lebih akan sangat membantu jika ada teman yang meyakinkan kita bahwa kita tidak pernah sendirian ditinggal tanpa pertolongan dalam menghadapi pengalaman itu.

Usai nonton film itu, saya berujar sendiri. “Pantas saja Lukas menaruh sapaan “Jangan takut”, sebagai kata-kata pertama dari Yang Ilahi dalam injilnya. Rupanya, takut adalah emosi dasar manusiawi yang berpotensi menghalangi terlaksananya kehendak ilahi yakni supaya semua manusia mengalami hidup sejati”.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: