Bengawan Edisi III Desember 2007

edisi-3-hal-3.jpg

Konser Kampanye GATK
Damai Adalah Usaha Manusia, Bukan Given

Bagaimana mendekatkan sebuah isu sosial untuk dicerna oleh orang muda berusia belasan tahun dan sedang terombang-ambing dalam fase pencarian identitas? Bukankah orang muda paling alergi untuk diwejangi petuah-petuah kuno meskipun mungkin petuah itu berguna? Lalu bagaimana merancang sebuah kampanye agar diminati orang muda tanpa harus menggurui?


Begitulah kira-kira sekumpulan pertanyaan yang menggelayut saat merancang acara besar ini. Jawabannya adalah lewat seni. Seni adalah sebuah ekspresi kebebasan yang paling digandrungi orang muda. Seni mencerminkan kreativitas, ke”liar”an berpikir dan apresiasi yang penuh kejujuran.
Untuk kampanye bahaya HIV/AIDS kita tahu ada konser musik Staying Alive berskala internasional yang rutin digelar di berbagai pelosok dunia. Sedangkan untuk kampanye global Millenium Development’s Goals (MDGs – Tujuan Pembangunan Milenium) kita kenal konser musik Make Poverty History yang melibatkan puluhan selebritis dunia dengan Bono dari band U2 sebagai ikon gerakan ini.
Nah, di Surabaya, Sabtu (1/12) lalu digelar Konser Kampanye Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK) dengan sajian utama berbentuk drama musikal berjudul “Damai Senja di Taman Kota”. Puluhan orang muda terlibat sebagai pengisi dalam acara yang juga berisi pameran foto dan seni instalasi ini. Lebih dari tujuhratus orang menghadiri konser yang digelar di Sport Hall St Agnes jalan Mendut ini.
Drama musikal sebagai sajian utama konser ini menampilkan cerita klasik tentang seorang anak korban keluarga berantakan yang nyaris diperkosa pacar dan lari dari rumah. Senja -tokoh utama- begitu merindukan damai dalam hidupnya dan malah menemukan damai di taman kota atas ajakan Ujang -si pengamen bijak- yang tidak sengaja bertemu.
Pesan utama dalam cerita yang ditulis oleh Erick Genjur dan disutradari oleh Dawer Widiantoro ini adalah bahwa damai bukanlah berkah yang jatuh dari langit, melainkan hasil kerja keras manusia. Taman kota yang memberikan damai bagi Senja berisi kaum marginal yang relasinya begitu egaliter. Ada tukang becak, penjual pecel, PSK, preman, gelandangan dan Mak Yah yang memandang hidup secara sederhana sehingga nyaris tidak ada konflik yang bisa memecah-belah persaudaraan mereka. Bagi kaum miskin kota ini, hidup sekali harus dinikmati dan itu artinya setiap orang adalah saudara. Damai sejati ada di taman kota ini dan Senja mengerti makna damai dan hidup yang indah, justru dari orang-orang pinggiran ini.
Senja terinspirasi oleh saudara-saudara barunya di taman kota dan membawa suasana damai itu kembali ke keluarganya. Damai memang bukan pemberian, melainkan usaha kehendak manusia. Meski panjang, berat dan berliku tapi itulah jalan menuju hidup yang lebih baik.

One Response to “Bengawan Edisi III Desember 2007”

  1. ansis Says:

    Logo baru, pasti donk spiritnya pun baru pula.
    Selamat ya
    Maju terus Horda-Maju terus Komkep
    Teruslah “mencubit” yang muda (Katolik) dan “mencibir” yg tua…
    Semoga Yesus Kristus memberkati perjalananmu.

    Salam
    (ansis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: