Diksi Edisi III Desember 2007

edisi-3-hal-7.jpg

“MY HEART NOT UNTIL”

Tanya (T): Jadi, mengapa kamu mau dan tetap terlibat dalam Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK)?
Jawab (J) : Aku rasa, dalam GATK aku menemukan teman.
T: Teman macam apakah? Bukankah teman tersedia di mana-mana?
J: Ya betul. Tersedia teman di manapun. Banyak. Juga di GATK ini. Maka itu, aku tetap terlibat di GATK. Karena ada teman di sini. Lebih lagi pertemanan di sini terjalin dalam ruang dan atmosfir yang menyegarkan serta inspiratif. Yakni ruang pertemanan yang menyediakan wawasan dan perspektif yang ‘gue banget’.


T: Maksudmu?
J: Kamu tahu masyarakat kita ini sarat dengan cara-cara kekerasan dalam mengelola hidup. Dan kamu tahu aku paling gak suka menjadi objek kekerasan. Aku tidak suka dibohongi. Aku tidak suka dimanipulasi. Aku tidak suka diteriaki. Aku gak senang diteror, dipukuli, diintimidasi, diancam, digusur. Dan kamu tahu juga, aku sering berpikir untuk membalas perlakuan semacam itu dengan kekerasan yang jauh lebih kejam. Bahkan kadang-kadang dengan menganggap mereka sudah tiada. Wong ndeso wong jowo bilang, dadia godhong emoh nyuwek, dadia banyu emoh nyawuk. Artinya, andai suatu kali mereka itu datang padaku dengan rendah hati dan ketulusan tanpa hidden agenda, seperti dedaunan dan air tenang, aku takkan sudi menyentuhnya. Meski mereka mau datang berserah diri memohon kemurahan hati, aku tak akan sedia menanggapi, sebab aku sudah menganggap mereka tiada dalam hidupku. Dan kamu tahu, begitulah pola dasar dari sebuah pembunuhan, yakni menolak keberadaannya dan menjadikannya tiada.
T: Ooo …
J: Iya. Aku bahkan merasa takut dengan sikap pribadiku yang semacam itu. Kejam sekali. Namun aku merasa tak ada cara lain dalam bertindak praktis menghadapi kekerasan. Dari satu sisi, aku merasa harus membalasnya, tapi di sisi lain, bagaimanapun hatiku tidak tega, my heart not until, you know? Nah, GATK menawarkan wawasan dan perspektif yang memberiku peluang untuk keluar dari pola tindakan dan interaksi yang semacam itu. Lebih lagi, GATK memberiku teman dalam berjuang menyelamatkan diri dari siklus dendam pembalasan dan kekerasan.
T: Bukan bermaksud menciderai pertemanan kita, tapi aku ingin tahu. Apakah GATK merupakan sesuatu yang cukup realistis? Bukankah kekerasan itu hal wajar, lumrah, biasa atau bahkan perlu di dalam memperjuangkan hidup di dunia yang sedang memberlakukan hukum rimba. Dalam bisnis, bukankah biasa mengorbankan mereka yang menghalangi laju penumpukan keuntungan? Jadi, apakah GATK itu realistis?
J: Oh, iya. Itu realistis. Sama realnya dengan kekerasan. Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan itu sesuatu yang realistis, artinya dapat dialami secara nyata. Ia dapat membangkitkan kegembiraan, antusiasme, pengharapan. Bahkan ia dapat menimbulkan rasa kangen yang besar. Kalau ia dapat menghadirkan berbagai pengalaman macam itu, apakah aku dapat meragukan riilnya GATK? Tidak. Justru sebaliknya, aku yakin GATK merupakan sesuatu yang sungguh riil. Sama seperti kamu memandang kekerasan adalah juga realitas. Dan aku mau menambahkan lagi. Adalah suatu kecenderungan bahwa kita ini berelasi hanya dengan mereka yang kita mau mengakui keberadaannya, yang kita mau menganggapnya sebanding dengan keberadaan kita. Aku mau berelasi dan berteman dengan GATK karena aku melihat bahwa GATK itu ada, sungguh riil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: