Wacana Edisi III Desember 2007

edisi-3-hal-6.jpg

”Populorum Progressio” Perkembangan Bangsa-Bangsa menuju Damai

Populorum Progressio merupakan salah satu bagian dari rangkaian ajaran sosial gereja (ASG) yang merupakan perwujudan kepekaan dan kepedulian Gereja terhadap perkembangan zaman. Ensiklik yang ditulis oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967 ini menyuarakan pentingnya meningkatkan solidaritas seluruh elemen masyarakat di dunia untuk memerangi kekerasan dalam berbagai bentuknya: kemiskinan, kelaparan, wabah penyakit, dan kebodohan. Dalam Ensiklik ini Sri Paus menyatakan ’Perkembangan adalah nama baru untuk Perdamaian.’


Gereja menunjukkan keprihatinan atas terciptanya jurang yang lebar antara negara yang kaya dan yang miskin. Jurang itu menunjukkan kesenjangan yang semakin hari bukan semakin berkurang, tapi malah semakin lebar. Negara-negara yang kaya semakin maju dengan pesat, sedangkan di negara-negara miskin kemajuan semakin tersendat-sendat. Bahkan, kesenjangan itu semakin terpelihara dengan adanya sistem kapitalis di dunia yang melegitimasi terjadinya apa yang dikatakan Hobbes sebagai ’homo homini lupus’, manusia adalah serigala bagi manusia yang lain.
Melihat kenyataan akan adanya kesenjangan itu, Gereja berusaha merangkul negara dan bangsa di dunia untuk bersama-sama melakukan perubahan menuju ke dunia yang lebih baik. Bagi negara yang kaya khususnya Gereja mengajak untuk menciptakan solidaritas, keadilan sosial, dan cinta kasih terhadap masyarakat di negara yang kurang beruntung. Dengan demikian kemajuan di negara-negara yang kaya tidak akan merugikan bagi kemajuan di negara-negara yang lain.
Kepada para pemimpin bangsa yang ketika itu masih disibukkan dengan hasrat untuk menjadi negara yang paling kuat, Gereja menghimbau agar para pemimpin dunia itu menolehkan kepala sejenak dan memperhatikan orang-orang yang menjadi korban hasrat mereka. Di tahun-tahun ketika Ensiklik ini ditulis, dunia berada dalam kondisi Perang Dingin yang dampaknya sangat dirasakan di negara-negara yang menjadi korban ambisi superpower, seperti yang terjadi di Korea, Vietnam, Kamboja, dan sebagainya.
Damai, menurut Paus Paulus VI, tidak melulu berarti tidak adanya perang, berdasarkan keseimbangan kekuatan yang mudah sekali goncang. Damai diwujudkan melalui usaha-usaha yang dari hari ke hari ditujukan kepada pembangunan alam semesta yang serba teratur seperti dikehendaki oleh Allah, disertai perwujudan keadilan yang lebih sempurna antar manusia. (Rosi)

Heal the world/Make it a better place/For you and for me and the entire human race
Michael Jackson

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: