Resensi Edisi V – Februari 2008

Kamu Harus Tetap Hidup

Dalam salah satu adegan film mandarin berjudul The Promise, Kun Lun sang budak dipaksa menyamar oleh sang panglima yang sedang terluka parah untuk menggantikan tugasnya menyelamatkan raja. Ia sendiri belum pernah melihat raja dan tidak tahu ciri-cirinya. Panglima hanya berpesan bahwa raja adalah satu-satunya orang yang tidak pernah membawa senjata.
horda-5-hal-4.jpg


Sesampai di kota tengah terjadi kekacauan, beberapa kelompok sedang bertikai, Kun Lun kebingungan, krena semua orang membawa senjata. Namun dengan ketajaman indra alamiahnya sebagai bangsa negri salju, akhirnya menagkap sosok wanita cantik yang tidak membawa senjata. Sesuai dengan pesan panglimanya, ia membunuh orang yang hendak membunuh putri itu (yang adalah raja itu sendiri) dan membawa lari hingga di ujung kerajaan yang berupa jurang yang tak terseberangi. Ia dikepung tantara kerajaan yang mengejarnya. Jendral pasukan itu meminta supaya melepaskan Qing Cheng, puteri yang dibawanya lari serta menyerahkan diri untuk dihukum. Namun Qing Cheng memaksakan diri tak mau berpisah dengan Kun Lun, bila Kun Lun mati terjun ke dalam jurang; maka ia harus ikut dan sedangkan bila harus dipenjara ia juga rela ikut dipenjara. Pertemuan beberapa menit itu nampaknya menyebabkan mereka (Kun Lun dan Qing Cheng) saling jatuh cinta dan saling menemukan cinta sejati. Kun Lun semakin berada di dalam dilema yang sangat berat. Tetapi ia tidak menginginkan yang dicintainya itu harus mati. Sambil pura-pura untuk menyerahkan diri, ia menggandeng tangan Qing Cheng dan membisikan kalimat “kamu harus tetap hidup”; kemudian secepat kilat ia melompat ke dalam jurang.
Qing Cheng kemudian menjalani hidup yang sangat keras, ia dipaksa mencintai beberapa lelaki yang tidak pernah ia cintai. Namun ia tetap bertahan, karena kekuatan pesan dari lelaki yang memiliki cinta sejati. Dia tidak memilikinya secara fisik; merasakan hangat peluknya. Bukan sekedar itu cinta yang ia rasakan, tetapi telah menjadi bagian abadi terdalam hidupnya.
Dari cuplikan adegan film itu dapat terlihat bahwa kekuatan dasar dari cinta sejati adalah menghidupkan, menumbuhkan, menyembuhkan, menguatkan, memberi harapan. dan me-mungkinkan terjadinya mukjijat. Menjadikan sesuatu yang mustahil dapat terjadi. Membuat pohon yang layu mulai ber-semi lagi. Sungai yang kering mengalirkan air yang sejuk. Hujan di musim kemarau.
Cinta sejati bukan dibuktikan dengan beribu kali mengu-capkan “aku cinta padamu”, bepuluh-puluh ikat kembang mawar terbaik, berlimpah duit dan harta yang tak habis dimakan tujuh keturunan, tiap menit kirim sms atau telepon dengan kalimat “kamu sedang apa sayang..?”, atau bahkan merelakan “kehormatan” (keperawanan/keperjakaan red.) tubuhnya terenggut. Hal ini adalah jual-beli cinta. Seperti kita melakukan jual beli pulsa, akan habis masa tenggang dan pe-makaiannya. Bila sudah tak cocok, dibuang, ganti nomor yang baru. Relasi pragmatis yang berlabel demikian itu akan kehilangan daya survive-nya dan akhirnya menyerah dalam menghadapi tantangan. Di sini tidak ada kehidupan. Tidak akan terjadi mukjizat-mukjizat hidup. Karena tidak ada daya cinta sejati yang mengalir. Kalimat “kamu harus tetap hidup” sudah tak akan memiliki daya magisnya.

Rm Sabas Kusnugroho, Pr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: