Wacana Edisi VI – Maret 2008

Komunitas Berpengharapan

Dahulu ada yang namanya Wiji Tukul, penyair dari Solo yang konon kabarnya hilang diculik ketika rezim Orde Baru. Ketika itu, darinya dikenal kalimat pendek “Hanya ada satu kata: Lawan!”. Kalimat itu telah menjadi api bagi simbol perlawanan rakyat tertindas terhadap sebuah kekuatan besar nan rakus yang menggunakan kekerasan sebagai bahasa sabdanya. Sayangnya, anak muda jaman sekarang lebih mengenal Tukul Arwana, komedian pembawa acara Empat Mata yang fenomenal dengan kalimat “Tak sobek-sobek mulutmu!”. Bahasa kekerasan yang sama sekali tidak mengerikan karena diucapkan secara kocak dan tanpa intensi mengancam. Parodi yang menertawakan kekerasan sebagai komoditas.

Tukul artinya tumbuh, awal munculnya kehidupan baru. Kelahiran yang memberikan harapan. Dari situ berangkat berbagai rencana besar. Tukul sebenarnya tidak pernah bisa tepat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ada daya hidup yang siap menawarkan dunia baru. Kondisi tukul memaksa kita untuk menyiapkan diri menyongsong masa depan. Sesuatu yang tukul tidak pernah mengacu pada dirinya sendiri. Sesuatu yang baru tumbuh akhirnya mengacu pada kelak dia mau jadi apa. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa kondisi tukul adalah kondisi yang rawan. Belum kuat dan masih tertatih-tatih. Perlu perhatian khusus karena jika salah menangani maka duka menanti.

Meskipun sesuatu yang tukul punya segudang masalah, tetapi selalu menawarkan optimisme. Salah satu syair Wiji Tukul yang berjudul ”Ada Pelangi di Langit Sore” mencoba menyajikan harapan yang tidak pernah mati. “ada pelangi di langit sore / seusai siang badai / ada damai menjelang senja / lalu malam / selamat tidur … / sampai jumpa esok pagi / badai nanti lagi / seperti biasa”. Badai membuat resah, panik, tetapi tidak berhenti di situ. Wiji Tukul mengingatkan bahwa setelah badai ada pelangi yang bisa kita nikmati. Damai menjelang senja. Seakan tidak ingat lagi bahwa ada badai sebelumnya. Tidur nyenyak dan siap menyongsong hari esok. Walau badai akan datang lagi, tetapi itu bukan masalah. Karena kita yakin bahwa badai tidak datang sendirian. Pelangi datang sebagai harapan.
Wiji Tukul dan Tukul Arwana adalah dua pribadi yang mewakili semangat jaman generasi. Kita adalah generasi Tukul yang baru akan mencoba mekar dewasa. Entah generasi Tukul Arwana atau generasi Wiji Tukul, yang jelas kita perlu banyak belajar. Karena kita sadar bahwa kita masih tunas. Dari tunas itulah muncul harapan. Tunas akan tetap menjadi tunas jika tidak punya harapan. Berani menatap esok. Meski ada badai, toh pelangi antri di belakangnya.

Peter Megantara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: