Diksi Edisi VII – April 2008

Satu Hati Satu Jiwa

Zaman modern, bahkan postmodern, mendorong orang untuk semakin berkutat dan menghargai komunitas-kecilnya masing-masing dan dengan demikian menjadi kurang peka terhadap dinamika komunitas-kecil tetangganya. Sementara itu, kesadaran bahwa kelangsungan-hidup-ku selalu berarti kelangsungan-hidup-bersama semakin menguat. Artinya, makin hari orang makin menyadari pentingnya kerjasama untuk mempertahankan hidup, namun kondisi dan praktik hidup justru membawanya pada arah lain yakni menjadi lebih berorientasi individual, atau hanya sedikit lebih luas yakni berorientasi pada kelompoknya sendiri. Melihat situasi tersebut kita bertanya. Bagaimana berbagai pribadi dan komunitas orang zaman ini dapat didorong untuk berinteraksi sedemikian sehingga mampu saling memperkembangkan diri demi kebaikan bersama?


Gereja, kita, mengalami hal-hal demikian, baik kondisi maupun pertanyaan zaman ini. Gereja sudah mengalami tumbuhnya beraneka ragam komunitas kecil yang mencoba mempertanggungjawabkan imannya berhadapan dengan tantangan dan peluang yang dihadapinya. Masing-masing komunitas kecil itu mengembangkan suatu cara menggereja yang khas. Hal demikian merupakan sebentuk kekayaan hidup menggereja yang pantas disyukuri. Sebab kerapkali keanekaragaman tersebut muncul bukan dari nafsu “semua serba boleh”, “asal berbeda”, “sesuka-suka hasrat”, namun tumbuh dari semangat mempertanggung-jawabkan iman dalam hidup yang riil.

Bercermin pada perjalanan sejarah Gereja universal, ternyata keanekaragaman cara mengorganisasi jemaat sudah ada sejak awal perkembangan Gereja. Raymond E. Brown, dalam bukunya “Gereja Yang Apostolik” menunjukkan kepada kita bahwa sejauh tampak dalam teks Kitab Suci, Gereja tidak memiliki gaya menggereja yang seragam. Kitab Suci tidak memberikan kepada kita sebuah eklesiologi yang baku, yang seragam berlaku di semua tempat. Brown menunjukkan beberapa perbedaan tekanan dalam cara menggereja yang konkret pada zaman para rasul. Masing-masing komunitas jemaat Gereja Perdana mengembangkan suatu pola hidup bersama sesuai dengan tantangan dan peluang konkret yang sedang dihadapinya. Ada komunitas yang menekankan pentingnya struktur organisasi, sedangkan komunitas yang lain lebih mementingkan kesadaran kelompok sebagai perkumpulan suci. Sementara itu, suatu komunitas jemaat yang lain mengembangkan kesadaran hidup beriman yang hendak mengatasi kecenderungan gaya beragama yang yuridis dan formalis. Perbedaan-perbedaan demikian jelas menimbulkan gesekan dan ketegangan antarkomunitas jemaat pada waktu itu. Namun tidak pernah disebut dalam teks Kitab Suci, munculnya suatu usaha dari komunitas tertentu untuk menyingkirkan tradisi komunitas jemaat yang lain. Gesekan dan ketegangan selalu diusahakan untuk diolah dalam kerangka “correctio fraterna” (teguran persaudaraan). Mereka berusaha untuk terbuka menerima dan memberikan teguran supaya dicapai kebaikan bersama. Mereka mempunyai sebentuk keterikatan batiniah yang kuat sebagai sesama saudara, dalam iman kepada Yesus Kristus. Mereka menghidupi sebuah “Gereja Persekutuan”. Mereka hidup dan berjuang dalam persekutuan antarkomunitas.

Konteks menggereja antara zaman para rasul dan zaman sekarang tentulah berbeda. Oleh karena itu cara menggerejanya pun berbeda. Gereja zaman sekarang memang merupakan kelanjutan Gereja para rasul, yang telah berkembang melalui sejarah. Gereja zaman sekarang mempunyai unsur kontinuitas sekaligus diskontinuitas dari Gereja Para Rasul. Tanggapan Gereja masa kini terhadap sebuah persoalan, sudah sewajarnya berbeda dengan zaman para rasul. Maka kita bertanya dan mencari. Kalau Gereja zaman para rasul menghidupi suatu Gereja Persekutuan, bagaimanakah hal tersebut dihidupi oleh Gereja masa kini dengan segala tantangan zaman yang dihadapinya? Manakah gejala atau benih persekutuan yang ada di sekitar kita yang pantas kita perhatikan dan kepadanya kita perlu melibatkan diri secara tulus serta menaruh optimisme?

Rm Cuncun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: