Wacana Edisi VII April 2008

Tempe dan Monster

Tempe apa yang tidak bisa dimakan? Jawabnya ialah ”temperatur suhu”. Tempe busuk pun bisa dimakan. Buktinya ada yang namanya: jangan tempe bosok. Berbicara tentang tempe, kali ini kita tidak sedang membicarakan teknologi pangan. Melainkan kita sedang mengusung tema ”tempe” ke dalam ranah filsafat kebudayaan manusia. Lalu dari situ bergerak memasuki wilayah belantara ekonomi-politik globalisasi yang di dalamnya hidup makhluk seperti monster. Ruang diskusi Jumatan Bengawan (29 Februari 2008) kali ini mengusung tema yang diangkat oleh Majalah Basis edisi terbaru (edisi no 01-02, tahun ke-57, Januari-Februari 2008) yang memasang judul ”MASYAALLAH! KRISIS TEMPE”.


Dalam kolom editorial ”Tanda-tanda zaman” yang ditulis Sindunata membidik persoalan aktual di Indonesia pada pertengahan bulan Januari 2008 lalu yaitu melambungnya harga kedelai akibat Amerika sebagai pemasok import kedelai kita yang terbesar mengurangi jumlahnya. Sebenarnya bukan hanya Indonesia yang terkena dampaknya karena memang dari sononya lahan pertanian kedelai dialihkan menjadi lahan pertanian jagung sebagai bahan baku bio-fuel. Ironisnya, petani kedelai kita hanya mampu memasok 1/3 dari kebutuhan nasional dikarenakan harga kedelai kita tidak mampu bersaing dengan harga kedelai import.
Titik krisis ini ditempatkan oleh Sindunata bukan sekadar krisis kedelai, melainkan krisis tempe. Dari krisis tempe ini kemudian Sindunata membawanya kepada persoalan yang lebih dalam lagi yaitu krisis kebudayaan (selain juga krisis kecerdasan dan krisis harga diri, untuk keterangan lebih detil silakan baca langsung di majalah Basis). Jika kedelai masih berada dalam dimensi natural, maka tempe lebih dipandang mewakili dimensi kultural. Persoalan tempe akhirnya merembet ke persoalan identitas bangsa yang bermartabat dan persoalan penjajahan ekonomi.
Diskusi semakin panas ketika artikel utama mulai dibahas yaitu: ”Berburu Manusia Ekonomi”. Tulisan Herry Priyono yang berusaha melacak asal muasal ”monster” yang bernama homo oeconomicus (manusia ekonomi) ini akhirnya mengungkapkan bahwa sebenarnya sosok tersebut tidak terlahir sebagai monster. Selanjutnya, dalam perjalanan maknanya kemudian dia perlahan menjelma menjadi monster yang menyusup seolah-olah adalah kodrat. Monster ini menempel pada logika secara laten. Dengan mengenali ciri-ciri monster maka diharapkan kita dapat mencari siasat untuk menghadapinya. Dan untuk itu disadari perlunya mengambil jarak agar apat melihat dengan cermat tanpa terseret arus.
Secara umum peserta diskusi merasa disergap oleh ketakutan dan teror setelah membaca tulisan ini. Tetapi setelah berdiskusi, mulai disadari bahwa sebenarnya tulisan tersebut juga memuat dan menawarkan optimisme sebagai panglima melawan monster tersebut. Dari titik berangkat inilah Orang Muda Katolik (OMK) selanjutnya diharapkan bergerak mengisi ruang-ruang konkret hidupnya. Pembicaraan pun menjadi semakin manusiawi ketika masing-masing peserta diskusi mulai mencoba bercermin (refleksi) atas pengalamannya sembari membangun niat ke depan untuk berani menghadapi monster tersebut.
Seperti umumnya, diskusi yang membedah artikel dari Majalah Basis ini dilakukan dengan mencoba mengenali apa perspektif (sudut pandang) yang dipakai, apa subjek dan objek kajian yang diangkat, bagaimana metoda kajian yang dilakukan dengan mengamati struktur penulisan dan ditutup dengan mencoba menafsirkan ilustrasi-ilustrasi yang menyertai artikel ini. Dari sinilah upaya mengasah logika (beserta memupuk etika) mulai dicoba dijadikan sebagai bagian dari ”budaya” Orang Muda Katolik di Surabaya. Logika bagaikan kedelai yang masih natural. Tetapi dengan berdiskusi, logika diubah menjadi tempe, menjadi kultural maksudnya. Mulai dari beberapa gelintir orang, tetapi konsisten. Semoga!
(Peter Megantara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: