Bengawan Edisi VIII Mei 2008

Mari Bersiasat dan Berstrategi

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”, begitu kira-kira kutipan Amsal 17:22. Semangat tersebut dapat dilihat jelas dari sosok Guido dalam film Life is Beautiful (La vita è bella) yang diputar Jumatan Bengawan (4 April 2008) yang lalu. Guido adalah seorang Yahudi Italia (diperankan oleh Roberto Benigni) yang jatuh cinta pada gadis Italia bukan Yahudi (diperankan oleh Nicolletta Braschi, istri Benigni yang sebenarnya). Setengah jam pertama kita disuguhi perjuangan-perjuangan Guido untuk menaklukkan hati Dora. Dengan gayanya yang kocak, romantis, dan penuh kejutan, Guido seakan ingin bercerita bahwa cinta tidak boleh putus asa.


Setelah beberapa adegan perjuangan cinta yang menggelikan berlangsung, penonton dikagetkan dan serentak diajak untuk membayangkan kalau jurus-jurus Guido menggaet Dora akhirnya berhasil. Adegan pertemuan mereka di rumah kaca tiba-tiba berganti dengan kehadiran seorang bocah kecil berusia sekitar 5 tahun yang berlari keluar dari tempat yang sama saat Guido dan Dora terakhir berada. Anak kecil itu adalah buah hati Guido dan Dora yang diberi nama Joshua.

Kisah berlanjut dan klimaks terjadi pada menit-menit berikutnya. Saat itu, Jerman yang percaya pada keunggulan RAS-nya merasa berhak untuk mengadakan penindasan terhadap kaum Yahudi (Jew). Seiring dengan dilakukannya invasi ke negara-negara lain, penangkapan dan pembunuhan kaum Yahudi oleh Jerman pun terjadi secara besar-besaran. Tepat saat Joshua berulang tahun, Guido, Joshua, dan Eliseo (Paman Guido) digiring dan kemudian dikumpulkan di stasiun untuk dibawa ke camp NAZI oleh tentara Jerman. Dora yang mendapati rumah dalam keadaan kosong dan berantakan segera menyusul mereka ke stasiun. Dengan penuh kesadaran, Dora meminta kepada tentara penjaga gerbang untuk diijinkan bergabung dengan keluarganya dan diperbolehkan.

Situasi di camp NAZI sangat memprihatinkan dan jauh dari kelayakan. Pria dan wanita dipisahkan dan kemudian diberi pekerjaan kasar. Para lansia dan anak-anak dikumpulkan dalam satu ruangan dan dibunuh dengan menggunakan tekanan uap panas karena dianggap tidak produktif. Melihat situasi demikian, Guido tidak tinggal diam. Dengan kegembiraan dan keberanian yang menantang, Guido menciptakan potongan-potongan kisah yang berbeda dari situasi senyatanya untuk Joshua. Melalui kebohongan-kebohongan yang cerdas, Guido berusaha meyakinkan Joshua bahwa camp hanya sebuah permainan dimana orang yang pertama memperoleh 1000 poin akan memenangkan sebuah tank.

Gambaran palsu yang dihadirkan Guido bagi Joshua berjalan dengan baik hingga akhir. Bahkan ketika -chaos terjadi karena Amerika akan datang untuk merebut aset-aset Jerman- Guido akhirnya tertangkap dan akan ditembak mati oleh tentara Jerman saat sedang mencari Dora, ia masih sempat membuat Joshua -yang bersembunyi di kotak besi- tertawa dengan berjalan mengikuti irama mars dan berlagak seperti seorang prajurit.

Guido telah merancang dan memperhitungkan semuanya dengan cermat. Di akhir cerita, Joshua benar-benar mendapatkan “hadiah”nya. Ia bertemu dengan tentara Amerika yang mengajaknya turut serta naik tank -yang sebenarnya. Dalam perjalanan, Joshua akhirnya bertemu kembali dengan ibunya dan mereka berpelukan dengan bahagia.

Terlepas dari kesan imposible, heroik, dan terlalu banyak kebetulan yang ditangkap oleh seorang peserta diskusi, film ini menawarkan cara pandang baru melalui tokoh Guido, yaitu: mampu bersiasat dan berstrategi di tengah pelik dan carut-marut dunia kala ini. Bersiasat dan berstrategi bukan berarti lantas menyederhanakan situasi yang berlangsung (contoh: melihat pemilu sebagai ajang bagi-bagi sembako, duit, kaos, dsb.) tetapi mampu membaca situasi sehingga dapat menghimpun kekuatan dan bertindak dengan tepat.

Masih mengusung tema politik di bulan ini, bersiasat dan berstrategi menjadi hal yang mutlak dan penting untuk dilakukan. Lebih-lebih karena kata-kata politik saat ini terdengar sangat menyeramkan di kalangan OMK. Kehadirannya bagai nyamuk yang mendekat ke telinga, bising, mengganggu dan siap untuk diusir. Nah, pendidikan politik yang mulai mengisi shelter-shelter OMK kala ini sedikit banyak ingin menggugah dan menggerakkan kekuatan besar yang ada di kalangan OMK. Melalui diskusi dan keterlibatan bersama, OMK diajak membangun siasat dan strategi. Semua dimulai dari hal yang paling sederhana, membangun kepekaan terhadap situasi, menumbuhkan kecintaan pada politik, hingga kemudian mampu bertindak nyata dan menularkan energi positif di tengah-tengah masyarakat.

Akhirnya, kecenderungan penyederhanaan yang tidak sehat -yang saat ini mulai menjadi penyakit menular- dapat dikonstruksi ulang. Sebagai hasil dari proses bersiasat dan berstrategi di kalangan OMK, di tengah masyarakat mulai muncul kesadaran bahwa keputusan-keputusan memilih pemimpin di tingkat lokal akan sangat berpengaruh terhadap hal-hal yang berdekatan bahkan bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari, dengan pendidikan, dengan minyak tanah, dengan beras, bahkan tempe sekalipun. Kemudian, harapan bahwa kesadaran ini akan mampu membuat dunia menjadi lebih baik bukan hanya menjadi mimpi belaka melainkan sebuah keniscayaan. TETAP SEMANGAT!!!

Reza Kartika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: