Kata Edisi VIII Mei 2008

Wawancara Ketua-ketua Komkep

Rm. Yaya (Keuskupan Agung Medan)
OMK Medan mayoritas memiliki peran yang partisipatif dalam dunia politik. Sebagian dari OMK mulai terlibat ke dalam politik praktis setelah mereka lepas dari label sebagai OMK. Minat-minat terhadap politik praktis mulai muncul dari ajakan-ajakan rekan. Mereka memasuki dunia politik praktis lewat ormas-ormas. Sedangkan gereja, memonitor gerakan-gerakan politik serta peran umat dalam masyarakat melalui ormas melalui moderator-moderatornya seperti moderator PMKRI, Pemuda Katolik, WKRI, dan sebagainya. Media pembelajaran bagi umat masih sangat sedikit. Pendidikan mengenai politik merupakan suatu hal yang relatif baru.


Rm. Hary (Keuskupan Bogor)
Di Bogor, OMK memiliki sikap-sikap yang berbeda terhadap politik. Kebanyakan bertindak hanya sebagai suporter, namun ada sedikit OMK yang terlibat langsung sebagai aktivis politik. Keterlibatan tersebut dilakukan melalui berbagai ormas, bukan dalam tataran politik praktis melalui partai-partai. Uskup Bogor terutama, menaruh perhatian cukup besar terhadap politik. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi wilayah Bogor yang merupakan basis partai ’hijau’. Gesekan-gesekan politis antara Gereja dan kelompok masyarakat lain sering kali terjadi, misalnya dalam peristiwa Parung yang terjadi pada malam Paskah yang lalu. Dengan demikian, penyadaran politik bagi OMK di Bogor merupakan hal yang sangat mendesak. Penyadaran politik tersebut tentunya disesuaikan dengan kriteria lima nilai, keadilan, kejujuran, solidaritas, tanggung jawab, dan kemandirian.

Rm. Kopong (Keuskupan Agung Samarinda)
Saya baru tiga bulan terlibat di komkep Samarinda, karenanya masih banyak hal yang belum saya ketahui. Namun sejauh pengetahuan saya, kesadaran politik OMK di Samarinda masih sangat kurang. Dari dua kunjungan saya ke Paroki, terlihat bahwa animo OMK terhadap politik masih sangat rendah. Hal tersebut diperparah dengan persoalan etnis yang selalu turut mewarnai situasi politik di Samarinda. Orang-orang nomor satu bukanlah orang-orang asli Samarinda, atau suku Dayak, namun kebanyakan dari suku lain seperti suku Bugis, orang Toraja. Hal inilah yang menjadi akar persoalan politik di Samarinda. Menyadari hal ini, Komkep Samarinda berusaha menumbuhkan kesadaran OMK terhadap politik, terutama dalam menyongsong pemilihan gubernnur beberapa bulan ke depan. Pada tanggal 11 Mei misalnya, Komkep Samarinda akan mengadakan seminar tentang Pemilihan Gubernur di tengah kemelut politik di Samarinda.

Rm. Ary (Keuskupan Purwokerto)
Seperti halnya di keuskupan lain, persoalan politik belum menggugah kesadaran OMK di Purwokerto. Sikap-sikap yang cenderung apatis terutama disebabkan oleh munurunnya moral dan mentalitas OMK, OMK yang kebanyakan pelajar SMA, dan banyaknya hambatan untuk terlibat dalam politik seperti beban studi, kurang support dari orang tua, guru, dan pembina lainnya. Sebagai warga sipil yang baik, saya menyadari bahwa kesadaran politik sangat penting. Menjadi 100% orang Indonesia dan 100% orang Katolik merupakan perwujudan iman dalam perbuatan. Selama ini, orang-orang Katolik cenderung menikmati ’zona aman’. Uskup Purwokerto selama ini memiliki sikap yang cukup politis dengan terlibat banyak dalam dialog-dialog antar agama.

Rm. Carol (Keuskupan Makasar)
Di Makasar, OMK memiliki minat politik yang masih kurang. Meski ada beberapa orang yang juga sudah terlibat aktif dalam politik. Mereka-mereka yang sudah terlibat aktif ini terutama banyak terlibat dalam proses pemilihan gubernur. Kebanyakan yang terlibat dalam politik adalah mereka yang sudah mapan. Mahasiswa masih sangat sedikit yang mau terlibat dalam politik. Komkep, terutama setelah Temu Moderatores ini berusaha turut membangun kesadaran politik OMK lewat dialog-dialog interaktif ke mahasiswa melalui KMK-KMK dan mendorong PMKRI memperluas bidangnya.

Anjar (PPM Bandung)
Sikap mahasiswa yang tergabung dalam komunitas GEMA di Bandung terhadap politik masih censerung pasif, terutama setelah PEMILU 2004. sebelum Pemilu 2004 beberapa mahasiswa sempat aktif dalam membangun kesadaran politik. Mereka berusaha untuk belajar politik dengan metode mahasiswa membimbing mahasiswa. GEMA akan berusaha untuk membangun kesadaran berpolitik dengan sosialisasi, terutama hasil TEMOD. Sosialisasi dilakukan melalui KMK, dengan gaya yang ’mahasiswa banget’, sehingga mampu membangkitkan minat politik di kalangan mahasiswa.

Agnes Rosari & Dyah Setyorini

One Response to “Kata Edisi VIII Mei 2008”

  1. thompson hs Says:

    orang muda katolik lahan subur permainan politik agenda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: