Bengawan – Horda Juni

Nikmatnya Produksi Film

Saat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara Temu Moderatores 2008, April lalu, tiba-tiba romo Cuncun menyampaikan kabar gembira ini. Dikatakan bahwa Komisi Komsos (Komunikasi Sosial) Surabaya mengundang para anggota Sanggar Sendang untuk terlibat dalam shooting sinetron religi Jejak Langkah Peziarah bersama Komsos Jakarta dan RCTI.


Seminggu setelahnya, berita ini mampir lagi. Kali ini nama Didiet Komsos disebut sebagai contact person. “Besok, teman-teman dari Komsos Jakarta dan RCTI akan ke Surabaya untuk survey. Tapi kami akan ke Pohsarang dulu. Teman-teman Sanggar bisa dikumpulkan di Ken Park Kenjeran, lusa?” berondong Didiet tanpa terkendali waktu aku menghubunginya. Akan susah mengumpulkan anggota Sanggar secepat itu, maka aku dan Ahong yang menyanggupi akan menyambut rombongan Jakarta. Asumsinya, aku yang akan menjadi talent agent yang bertugas mencari pemain untuk memenuhi casting dan Ahong yang akan bertugas dalam persoalan teknis (survey maupun setting lokasi). Sedangkan Komsos Surabaya menjadi penyedia transportasi, konsumsi maupun akomodasi selama di Kediri dan Surabaya.
Selasa, 22 April 2008, aku dan Ahong bertemu rombongan Jakarta. Ternyata, alasan mereka meminta anggota Sanggar Sendang menjadi pemain adalah karena membaca berita di Tabloid Jubileum Keuskupan yang memuat berita Konser Aktif Tanpa Kekerasan, 1 Desember 2007 lalu.
Singkat kata, setelah menunggu selama delapan hari, naskah scenario sinetron itu pun hadir. Tiga episode dari sinetron “Jejak Langkah Peziarah” yang dibintangi oleh Adi Kurdi, seorang aktor yang melambung namanya lewat sinetron “Keluarga Cemara”, pun menunggu untuk segera diisi oleh peran-perannya.
Casting (seleksi pemain) pun segera digelar. Sepuluh orang mengikuti casting dan ternyata itu masih kurang. Akhirnya aku hunting ke berbagai komunitas OMK. Akhirnya lima belas orang pemain dan tiga orang cadangan pun berhasil dikumpulkan. Hasil casting ini masih diseleksi lagi oleh tim Jakarta. Hasilnya, dua orang gugur sambil menyimpan kekecewaan. Aku juga kecewa dan inilah pelajaran pertamaku; keadilan.
Selasa, 5 Mei 2008, lima belas pemain, 25 orang crew dan Adi Kurdi berangkat ke Puhsarang. Hari pertama diisi penuh dengan shooting untuk episode pertama, “Duka Kita Duka sang Bunda”. Para pe-main, (Agnes Evani sebagai Karin, Boni Marbun sebagai Samuel, Andi Limantara sebagai Ferry, Sylvester sebagai Johan, Ibu Mariah Suharti sebagai Simbok Mariah, dan dr. Indah sebagai ibunya Karin), tampak sudah bersiap-siap sejak pukul lima pagi karena shoting akan dilakukan pukul sembilan tepat.
Di ruangan lain, Adi Kurdi berbagi pengalaman dalam hal akting bersama te-man-teman yang hari itu tidak shooting. Aku takjub melihat cara beliau mengolah teman-teman untuk dapat berakting secara natural. “Setiap kata punya jiwa”, ujarnya. Salah satu cara manusia berekspresi adalah lewat dialog. Dalam dialog manusia mengungkapkan perasaannya. Sehingga dalam acting, yang terpenting bukanlah interpretasi terhadap sebuah kata atau kalimat. Namun yang jauh lebih penting adalah menyelami serta memahaminya, sehingga emosi yang ada di dalamnya dapat ditemukan. Inilah pelajaranku yang kedua, cara mengolah acting yang alami.
Pengambilan gambar yang selanjutnya adalah untuk episode “Meninggalkan Tuhan untuk Tuhan”, sebuah film cerita semi dokumentasi tentang karya dari suster-suster Putri Kasih (PK). Hanya dua pemain yang terlibat dalam proses shooting kali ini yaitu Birgitta Ardhana sebagai Sr. Clara dan Ibu Hening Sudjiwanti sebagai ibunya Sr. Clara. Sedangkan pemain yang lain adalah suster-suster PK yang memerankan dirinya sendiri. Pengambilan gambar untuk episode ini dilakukan selama tiga hari dan setelah itu baru kemudian pengambilan gambar untuk episode “Duka Kita Duka sang Bunda” akan dilanjutkan kembali.

Proses semacam ini dalam produksi sebuah film biasa disebut jump shoot. Terpaksa dilakukan karena untuk mengejar waktu Adi Kurdi yang hanya bisa melakukan pengambilan gambar hingga Sabtu, 10 Mei 2008. Proses pengambilan gambar untuk episode ini cukup rumit. Adegan banyak yang dilakukan di jalan-jalan kecil di dalam kota Kediri. Sehingga dibutuhkan kendaraan yang cukup banyak untuk mengangkut kru, pemain dan peralatan. Bus yang semula digunakan sebagai alat angkut para kru terpaksa dikandangkan karena tidak memiliki daya untuk menaklukkan jalan-jalan sempit kota Kediri. Persoalan kekurangan mobil untuk transportasi muncul karena ketidaksiapan Komsos Surabaya yang diwakili oleh Didiet sebagai pimpinan proyek dalam mengantisipasi kondisi lapangan. Termasuk mobil yang dijanjikan untuk menjemput para pemain yang harus kembali para pemain yang pulang ke Surabaya pun gagal disediakan. Namun untunglah masih ada jasa travel.
Minggu, 11 Mei pukul dua dini hari. Proses pengambilan gambar di Kediri, akhirnya selesai sudah. Segera para crew dan pemain berkemas-kemas untuk meninggalkan Kediri dan kembali ke Surabaya. Tepat pukul lima dini hari satu unit bus yang membawa para crew, satu unit truk berlogokan “RCTI”, satu buah mobil kijang dan APV bertuliskan “Keuskupan Surabaya”, serta satu mobil kijang pinjaman tampak mengendap-endap pelan memasuki pelataran parkir Hotel Sirkuit di Taman Ria Kenjeran (Ken Park) untuk beristirahat. Hari itu, pengambilan gambar episode ketiga “Potret yang Terabaikan” mundur sampai waktu yang tidak ditentukan. Malamnya shooting baru dikerjakan di Wisma Pastoran jalan Mojopahit dan di pelataran gereja Katedral.
Sanggar Sendang dan Komkep belajar banyak dari pengalaman ini tentang sebuah proses produksi film. Para kru RCTI ternyata sangat royal dalam berbagi ilmu. Apa saja mereka bagikan. Dari mengatur setting, mengolah lighting, penggunaan kamera, hingga penulisan scenario, semuanya diceritakan. Mengamati dan menikmati dinamika kerja para kru yang penuh dengan energi, ide, kerjasama, dan saling mengisi sungguh nikmat. Hanya dua hari saja pengambilan gambar di Surabaya ilmu itu serasa tidak berhenti mengucur hingga bejana kepala hampirlah tumpah. Sangat berlimpah, dan sangat segar.
Sepertinya segala lelah hilang tanpa terasa. Itulah nikmatnya berproduksi film bersama dengan kawan-kawan dari Komsos Jakarta dan RCTI Jakarta. Pelajaran ketiga yang aku petik adalah dinamika kerja bersama.

Oleh : Erick “Genjour” Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: