Diksi – Horda Juni

Berpolitik Supaya tetap Manusiawi

Aku tak pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Entah dari mana, tiba-tiba dia hadir di depanku dan berbicara banyak kepadaku. Dia seorang muda. Kata-katanya bernas. Tutur dan alur pikirannya mengalir dengan tenang dan jernih, pertanda integrasi mendalam antara akal dan budinya yang halus. Yang dia ungkapkan adalah hasil kontemplasinya tentang kehidupan. Juga tentang politik.
Awalnya, dia mengakui, tanpa nada mengeluh, bahwa menjalani hidup sekarang semakin berat. Beban hidup harian menjadi semakin sering menimbulkan kelelahan. Sementara kondisi sosial terlanjur membuat banyak hal semakin tidak terjangkau oleh kemampuannya. Akibatnya kepuasan menjadi makin mahal. Dan ia bertanya entah kepada siapa; manusia manakah yang tahan menjalani hidup bermoral dan tidak berubah menjadi serigala yang memangsa sesama, jika kepuasan sederhana yang sewajarnya makin susah digapai?
Dia menyadari dirinya sedang mengalami kelelahan mendalam sebagai manusia. Teman-temannya pun mengalami yang sama. Dan banyak orang juga mengalaminya. Namun aneh betul bangsa ini, kendati ada pengalaman prihatin seperti itu yang membentang dari ujung timur ke ujung barat negeri ini, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat menghibur diri dan media televisi tetap dipenuhi hingar bingar orang bersorak sorai seolah sedang berlomba tawa dan bersuka. Dan ia bergumam, kita ini sedang menjadi gila; kita mengalami kepribadian pecah; dan syaraf kejiwaan kita robek, hati sedang merana mulut malah tertawa.
Lantas aku bertanya kepada dia. Bagaimana orang dapat tetap bertahan hidup sebagai manusia dan tetap waras dalam pengalaman seperti itu? Dia tersenyum santun. Kemudian dia menjawabku. Dengan berpolitik! Ya, dalam kondisi sekarang ini, orang harus berpolitik, kalau ia mau bertahan hidup sebagai manusia yang waras. Berpolitik! Bukan dalam pengertian yang seram-seram, sok hebat-hebatan, serba misterius dan penuh kasak-kusuk, dan tiba-tiba orang tampil di tengah pasar, berteriak-teriak mengucapkan bahasa aneh yang tak dapat dimengerti, sambil menakut-nakuti orang di sekitarnya, seperti nabi-nabi palsu jaman dulu. Bukan itu. Jangan yang begitu.
Lha, yang bagaimana, tanyaku. Dia berkata lagi. Banyak. Tetap tenang. Dia menjelaskan padaku apa artinya berpolitik; yang menurutnya dapat menjadi jalan untuk bertahan hidup sebagai manusia yang waras. Dari penjelasan yang dia sampaikan, aku mengerti beberapa hal berikut ini. Berpolitik itu sederhana. Seperti orang yang bangun dari tidur. Ia membuka mata, kemudian menyadari dan mengerti situasi, baru mengambil tindakan. See! Jugde! Act!
Membuka mata. Orang mesti melihat dan mengakui realitas. Kalau realitas tampak buruk, jangan ia menutup mata lagi untuk bermimpi. Buruk katakan buruk, baik katakan baik. Kalau ada yang tak beres, sebutlah. Kalau melihat kemiskinan katakanlah kemiskinan. Kalau melihat kesengsaraan katakanlah kesengsaraan. Dalam hal ini, eufemisme tidak banyak manfaatnya. Jujur, itulah berpolitik.
Mengerti situasi. Pada langkah ini ada berbagai aktifitas mental dan rasional yang harus dikerahkan untuk dapat mengerti tentang situasi yang sedang berlangsung, tentang asal dan arah kecenderungan situasi, tentang posisiku di tengah situasi ini. Pada tahap ini, kemampuan melakukan analisa sosial amat berguna. Biasanya orang akan sampai pada kesimpulan berikut. ”Kehidupan dan kegiatan masyarakat ditata sedemikian sehingga sekelompok kecil anggota masyarakat mendapat amat banyak sedangkan sebagian besar anggota masyarakat tidak mendapat cukup”. Dengan perhatian khusus pada istilah ”ditata”. Inilah kesadaran struktural. Ada sesuatu yang besar, yang bebas dan di luar jangkauan pengaruh kita, yang bekerja secara sistematis, yang menentukan hajat hidup kita; dan yang memungkinkan terjadinya kemiskinan dan penderitaan pada banyak orang. Pada tahap ini, jika orang melihat penderitaan dan hatinya tergerak oleh belas kasih, belas kasihnya itu pasti mengandung suatu protes, bahkan kadang-kadang kemarahan; kepada orang atau peraturan atau hal-hal lain yang menyebabkan orang-orang menderita. Cerdas, berbelas kasih, solider, adil; itulah berpolitik.
Bertindak. Titik krusial ada pada tahap ini. Sebab bisa saja orang berargumentasi canggih dan memilih tindakan yang nyatanya mengikuti saja arus umum masyarakat yang berebut menumpuk uang sebagai jaminan keamanan dan kenyamanan individual. Berpolitik di sini berarti, setelah menimbang dengan jernih kearifan tradisi dan kehidupan; orang bertindak berdasar pada keyakinan dan harapan bahwa setiap manusia adalah sesama saudara yang bermartabat luhur dan secitra dengan Allah; dan tidak pantas menerima penderitaan akibat perilaku manusia lain yang rakus. Tindakan berbelaskasih ini, mau tidak mau akan membawa orang pada cara yang berbeda dari arus besar kecenderungan masyarakat, bahkan akan berlawanan dengan para penindas yang memiliki kekuasaan sosial politik ekonomi yang besar. Sangat penting dalam tindakan berbelas kasih ini, orang memiliki jiwa besar dan keberanian. Ia mesti mengantisipasi dan bersiap menerima keadaan yang akan menyulitkannya karena perlawanan para penindas. Juga, ia harus siap menerima situasi di mana ia tidak memperoleh simpati, ucapan terima kasih, atau balas budi dari orang-orang terdekatnya. Ia harus rendah hati. Ia harus bersikap sebagai hamba yang berterimakasih telah diberi tugas, dan yang setelah melakukan tugas tidak menuntut ucapan terima kasih atau pujian dari tuannya. Spiritual, berjiwa besar, berani dan rendah hati; itulah berpolitik.

Rm Tri Kuncoro Yekti, Pr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: