Peta Kekuatan Pilkada Jatim

Peta Kekuatan Pilkada Jatim

Thomas More Suharto, Direktur PT. Inkor Bola Pasific bertanya ke saya,”Siapa kandidat Gubernur-Wakil Gubernur yang unggul?” Saya menjawab,”Berdasarkan survei sementara, Soenarjo-Ali Maschan Moesa relatif unggul” Ia sedikit menggugah,”Apa tidak Khofifah yang bakal menang, sebab ini calon perempuan baru yang menjadi kuda hitam, basis dukungan kepada calon ini relatif ada terutama kaitannya aktifitas di Muslimat NU.

Saya tergelitik dengan jawaban senior saya di PMKRI Surabaya ini, saya jadi teringat dengan kolega lain yang ada di Komisi Kerawam Keuskupan Surabaya, ternyata juga menjadi bagian team sukses Khofifah Indar Parawansa seorang mantan aktivis PMII Surabaya ini. Tapi terserahlah, semua bebas mengekspresikan suara masing-masing. Namun dalam hati saya bergumam,”Sejatinya yang bakal unggul dalam Pilkada Jatim adalah pasangan golput alias pasangan kosong. Adalah pasangan yang tidak terdaftar, namun banyak dipilih, maksudnya banyak pencoblos terdaftar yang tidak mencoblos alias tidak datang ke tempat pemungutan suara.

Ini didasarkan banyak pengamatan, ternyata suara kosong (golongan putih) di mana-mana merebak, sebagai contoh pilkada di Surabaya, pemenang realnya Bambang DH tapi pemenang mayanya Golput. Baru-baru ini, Pilkada Jateng dimenangkan pasangan dari PDIP, namun sejatinya hampir 42 persen suara terdaftar golput dan seterusnya.

Marilah sejenak melihat bagaimana kekuatan masing-masing kandidat Gubernur Jatim ini. Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono, pasangan ini termasuk pasangan telat konsolidasi. Didukung partai-partai yang memiliki suara kecil di Jatim dalam Pemilu terdahulu dijumlah 16,72 persen. Di antaranya PPP, PPNU, PNI Marhaen, Partai Merdeka, Partai Pelopor, Partai PIB, PNBK, PKPI, PBR, PDS, PKPB, Partai Patriot Pancasila. Pasangan ini nyaris kandas, gara-gara berebut dukungan dengan pasangan Joko Subroto-Wahid Hasyim. Untung…Joko Subroto tersingkir dari bursa penetapan calon. Sehingga Khofifah siap maju perang. Sebagai kandidat percaya diri, Khofifah menegaskan, sudah saatnya Jatim dipegang orang NU, tidak wakil tapi Gubernur, begitulah slogannya untuk mempengaruhi massa NU di Jatim.

Kehadiran pasangan ini di luar perkiraan saya, sebelumnya saya meragukan pemimpin perempuan bakal ada yang lolos. Ini adalah kemajuan luar biasa dalam jagad perpolitikan. Mudah-mudahan membawa hawa baru segar. Kita perlu memberikan apresiasi yang baik. Langkah Khofifah merupakan keberanian luar biasa yang tidak dimiliki perempuan Indonesia.

Soenarjo-Ali Maschan Moesa, banyak disebut pasangan ideal, yang disebut nasionalis-religius (NU), sebab Soenarjo Ketua DPD Partai Golkar Jatim yang nasionalis, Ali Maschan Moesa, Ketua PW NU Jatim yang religius. Dalam beberapa survei, pasangan ini relatif memimpin perolehan suara. Namun demikian, kalau diperhatikan basis dukungan suara partai pada pemilu terdahulu, pasangan ini tergolong paling kecil, 15 persen suara Partai Golkar.

Pasangan ini menargetkan 30 persen suara untuk kemenangannya sehingga tidak memerlukan pemilihan putaran kedua. Partai Golkar termasuk partai nekad dan percaya diri, tanpa koalisi partai berani maju sendirian. Partai ini hanya mengandalkan koalisi sosok/pribadi semata yang Ketua PW NU Jatim. Ini merupakan kenekatan luar biasa.

Soekarwo-Saifullah Yusuf, diusung PAN dan Partai Demokrat (17 persen), kemudian secara mengejutkan PKS ikut bermain dalam pasangan ini. Pasangan ini belum kampanye sudah gencar publikasi, di mana-mana ada balihonya. Soekarwo adalah seorang yang sejatinya sejak lama bersosialisasi dibandingkan calon yang lain. Ia banyak melakukan konsolidasi pribadi. Sayang, Soekarwo kurang didukung partai besar, baru-baru ini saja, ia mendapatkan kendaraan setelah melalui negosiasi yang cukup alot. Soekarwo adalah sosok yang paling gampang hadir di forum-forum dibandingkan dengan calon yang lain. Disandingkan dengan Saifullah Yusuf, tokoh muda NU ia maju perang.

Soetjipto-Ridwan Hisjam, pasangan ini diusung PDIP dengan suara 24 persen. Pasangan ini juga termasuk nekad. PDIP berani juga mengusung sendirian tanpa koalisi. Koalisi dengan Ridwan Hisjam lebih bersifat pribadi, sebab Ridwan yang kader Golkar tidak mendapat restu organisasi, Partai Golkar hanya merekomendasi Soenarjo.

Pasangan Acmady dan Suhartono, diusung PKB yang dalam pemilu lalu meraup 31 persen suara. Pasangan ini didukung kekuatan yang paling besar. Namun karena ada konflik internal PKB, mengakibatkan pasangan ini relatif tidak solid dan tersendat-sendat. Konflik PKB sejatinya, menguntungkan banyak pihak di luar pasangan Achmadi-Suhartono.

Dalam momentum ini, sedikitnya ada empat orang yang berusaha merepresentasi kekuatan massa NU. Mereka itu Khofifah, Saifullah Yusuf, Ali Maschan Moesa dan Achmadi. Mereka ini berada pada kubu berbeda berusaha meraup massa mengambang NU. Berusaha saling mengalahkan.

Bola liar NU dan PKB, saat ini menjadi rebutan baik dari kadernya sendiri, simpatisan dan kaum nasionalis. Melihat gambaran itu, semua kemungkinan bisa terjadi.

Secara matematika kertas, pasangan Sutjipto-Ridwan Hisjam memiliki peluang besar, namun dengan catatan massa dan pengurus PDIP konsisten dan taat Megawati mengawal Sutjipto-Ridwan Hisjam. Dilihat dari pengalaman kepemimpinan, jelas pasangan adalah Soenarjo dan Ali Maschan yang dinilai banyak kalangan memiliki kapabilitas. Dilihat dari tampilnya generasi muda yang berani, khofifah orangnya, namun belum teruji.

Sekarang ini, tidak selalu pasangan yang didukung partai pada pemilu lalu memiliki suara besar akan menang. Kadang-kadang terbalik, bisa-bisa pasangan yang didukung partai bermassa gurem bisa menang. Nah ini namanya politik untung-untungan.

Dilihat dari program kerja dinilai semuanya hampir mirip, yang dikhawatirkan adalah kampanye program yang jelas-jelas bukan wilayahnya namun dikampanyekan. Ini berpotensi menimbulkan kebohongan publik. Seperti misal sekolah gratis dan yang serba gratis itu, kadang-kadang bukan wilayahnya namun tetap disuarakan. Yang lebih punya kewenangan adalah kota/kabupaten. Sementara propinsi adalah kepanjangan tangan pemerintah pusat yang kadang sulit menembus otonomi kota/kabupetan. Itu problem dasarnya. Bagaimana pendapat anda?

Kanisius Karyadi

pemerhati politik, tinggal di Sidoarjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: