Lokakarya Teater Rakyat Komkep

Dalam teater rakyat tidak ada sutradara atau penulis naskah, yang ada adalah diskusi bersama merumuskan akar masalah. Juga tidak pernah ada “pesan titipan” dari pihak manapun. Yang ada adalah kegelisahan bersama yang ditemukan bersama oleh seluruh pemain teater. Setelah akar masalah ditemukan maka dibuatkan premis (alasan) yang menghubungkan antara akar masalah dan masalah umum. Dari premis itulah sinopsis cerita teater disusun. Sinopsis yang sudah dirancang bersama itu lalu dibuatkan treatment (cara melakukannya) alias adegan yang akan dimainkan.
Ending teater rakyat adalah kegelisahan bersama. Tidak pernah menawarkan solusi kepada penonton. Cerita berhenti justru ketika masalah mencapai klimaks. Keberhasilan teater rakyat adalah ketika penonton pulang dengan membawa permenungan akan sebuah masalah yang menjadi tema pentas.
Begitulah penutup sessi satu Lokakarya Teater Rakyat (LTR) yang disampaikan oleh Wiwid dan Budi Gemak dari kelompok Wiridan Sarikrama asal Yogya. LTR ini diadakan Komkep pada Sabtu – Minggu, 19 – 20 Juli lalu di Bengawan. 
Sekitar 20-an OMK menjadi peserta dalam kegiatan yang terbilang baru ini. Beberapa dasar-dasar teater diberikan oleh fasilitator di awal cara. Dalam latihan teater bunyi, misalnya, peserta diminta memakai benda apa saja di lingkungan sekitar untuk dijadikan sumber bunyi. Peserta dibebaskan mengekspresikan sense of sound-nya tanpa dibatasi alat. Sontak para peserta segera mencari benda apa saja untuk dijadikan sumber bunyi. Ada yang membawa gulungan koran, gagang sapu, sandal dan bahkan tas kresek.
Sebelumnya, peserta diajak untuk menggunakan mulut sebagai sumber bunyi. Peserta diminta untuk membuat bunyi sebebas-bebasnya dan membuat irama yang menarik. Bunyi itu bisa diteriakkan, didesahkan atau bahkan dibisikkan, asal membentuk irama yang harmonis..
Sesi Minggu lebih menarik lagi. Peserta diajak mengeksplorasi gerak tubuh dengan berbagai metode. Dalam teater patung, separuh peserta menjadi patung yang sedang digarap oleh separuh peserta lainnya. “Patung” harus patuh pada imajinasi pematung. Dalam teater gerak, peserta berpasang-pasangan dan salah seorang dari pasangan itu disebut penghipnotis. Tugasnya adalah menghipnotis pasangannya dengan jari telunjuk. Pasangannya mengikuti gerak jari telunjuk itu dengan mata sehingga tubuh akan mengikuti kemana mata bergerak. Dalam latihan ini yang di-tekankan adalah ekspresi gerak tubuh sebebas-bebasnya. Oleh Budi Gemak, hal ini dikatakan un-tuk membongkar kelembaman tubuh yang setiap hari hanya dipakai untuk aktivitas rutin. Kelem-baman yang dimaksud bukan hanya terjadi pada tubuh tapi juga pada dinamika OMK selama ini.
Sebagai penutup, peserta dibagi menjadi dua kelompok dan diminta mempersiapkan sebuah cerita yang dipentaskan tanpa dialog, hanya diiringi musik. Kelompok satu mementaskan cerita tentang masa panen yang ditunggu-tunggu oleh para petani, lengkap dengan orang-orangan sawah-nya. Kelompok dua mementaskan cerita tentang masyarakat urban yang kerapkali berkonflik masalah gender.
Direncanakan LTR ini akan dilanjutkan pada 26-27 Juli dengan materi latihan yang lebih variatif. Team fasilitator dari Wiridan Sarikrama juga mengingatkan bahwa sesi 27 Juli akan ditutup dengan pentas bersama yang menghadirkan penonton.
Sanggar Sendang sedang memasuki babak baru dengan belajar ten-tang teater rakyat. Semoga bekal berharga ini bisa memperkuat komitmen untuk bersama-sama membangun wadah seni ini. (Yudhit)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: