Rekoleksi Mudika Mojokerto

Rekoleksi Mudika Mojokerto

Merasa prihatin akan luntur-nya kerinduan untuk ber-kumpul, bercengkrama dan membuat komunitas yang le-bih guyub, maka pada 5-6 Juli lalu, Mudika Paroki St. Yosef, Mojoker-to mengadakan rekoleksi dengan tema “Semangat mengereja dalam tubuh Mudika” yang diadakan di wisma Bintang Kejora, Claket.
Acara guna pemersatukan kem-bali Mudika Paroki Mojokerto dan Stasi Pacet ini difasilitasi oleh Kom-kep yang diwakili, romo Cuncun, Dawer, Sad Adi dan penulis sendiri. Dalam kesempatannya, romo Cun-cun mengingatkan agar orang muda tidak usah takut terhadap omong-an-omongan miring tentang Mudi-ka. “Seandainya Bunda Maria takut untuk merima tantangan dari malai-kat Gabriel, maka karya Allah tidak akan pernah terjadi,” ujar mengana-logikan dengan kegiatan OMK.
Menurut Ronny, ketua Mudika, acara rekoleksi ini senga ja digelar guna mempersatukan Mudika, mengingat adanya gap yang terjadi antar Mudika Paroki dan stasi. “Kami rindu semua Mudika bisa guyub lagi seperti dulu,” tuturnya. Ronny yang juga menjadi ketua panitia, mengatakan bahwa semua mudika itu sama. Ini dibuktikan dengan berbaurnya semua panita dan menjadi peserta. Keseriusan untuk membuat mudika lebih semangat lagi dalam mengereja, terlihat oleh komitmen mereka yang dibuat bersama. Salah satunya semua handphone dikumpulkan pada panitia selama sesion.


Acara dibuka dengan perkenalan, lalu dilanjutkan acara pendalaman materi oleh Dawer dan Sad Adi tentang definisi Mudika. Banyak peserta yang mendefinisikan Mu-dika sebagai tempat untuk berkumpul dan beraktivitas, baik sosial ataupun rohani; Mudika adalah bibit gereja. Se-cara umum memang benar akan tetapi agar tidak terjebak pada konteks komunal, yang artinya terpaku pada sebuah komunitas stuktural, Sad Adi mencoba mengarahkan agar Mudika tidah terfokus pada orga-nisasi yang bersifat komunal. Ma-salah mooddy (tergantung suasana hati) di dalam Mudika juga tak lu-put dari Sad Adi untuk didiskusi-kan bersama. Acara setengah hari ini ditutup dengan pemutaran film yang bersifat informal.
Esok harinya, sesudah sesi olahraga, acara dilanjutkan dengan wejangan ringan dari romo Cun-cun. Romo Cuncun dibantu team mempresentasikan kembali hasil sharing peserta tentang dua per-masalahan yang menurut mereka paling rumit untuk diselesaikan. Mayoritas menuliskan bahwa per-masalahan paling rumit dalam tu-buh Mudika adalah soal kurang di percaya, gap-gap-an hingga ego individu.
Kompleksitas persoalan umum yang tidak hanya terjadi di Mudika Mojokerto coba dirumuskan oleh romo Cuncun. “Intinya harus ada penerimaan,” lanjutnya. “Menerima perbedaan yang ada dalam tubuh Mudika adalah salah satu solusi yang paling baik,” tutur romo 34 tahun ini.
Kesempatan itu juga diisi pembeberan tentang visi dan misi Komkep yaitu (1) perluasan dan penguatan jaringan dan (2) pen-didikan nilai.
Mengutip Asas dan Dasar Mudika yang dirumuskan oleh Forum Pendamping Kaum Muda Keuskupan Agung Semarang, kita dapat terus bercermin dan meningkatkan kualitas pribadi kita :

Tantangan adalah kesempatan mengolah potensi,
ruang dan waktu adalah
papan menuliskan sejarah.
Belajar dan bekerja adalah kesempatan untuk memuliakan Allah,
dan dengan ini mengkuduskan berkat kemanusiaan yang ada padanya
yang sepenuhnya dipercayakan pada dirinya sebagai orang muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: