Sekali Merdeka Belum Tentu Terus Merdeka

Sekali Merdeka Belum Tentu Terus Merdeka

Jutaan pahlawan mengorbankan nyawa untuk merebut kemerdekaan. Kongres Pemuda Indonesia 1928 mengajak pemuda se-nusantara memikirkan Indonesia. Bung Karno dan Bung Hatta membacakan teks proklamasi agar bangsa-bangsa lain tahu bahwa kemerdekaan sudah digenggam. Singkatnya, kemerdekaan adalah buah dari perjuangan panjang, penuh pengorbanan dan tanpa henti.
Tetapi ternyata perjuangan harus dilanjutkan dengan penguatan ekonomi, pendidikan, pertahanan, politik, dan bu-daya. Semua hal itu penting karena tanpa kekuatan-kekuatan itu, bangsa ini akan menjadi bangsa yang bodoh, menjadi bu-lan-bulanan invasi pasar negara maju, serta generasi mudanya menjadi tercerabut dari akar budaya bangsa.
Apa yang terjadi pada bangsa kita hari ini adalah apa yang telah dikhawatirkan oleh Bung Karno saat dengan lantang berkata “go to hell Ame-rika..!” Bung Karno tidak ingin negara ini dihujam oleh kuku kapitalisme yang penuh racun. Lihat saja bumi Papua yang kaya te-lah dikeruk hingga hampir tinggal ampas. Hutan di Kalimantan sudah hampir gundul. Atau yang paling dekat adalah bencana lumpur Lapindo yang sampai hari ini tidak bisa diatasi. Selain Bakrie, perusahan multinasional (MNC-multinational coorporation) seperti Medco juga adalah pemilik saham yang besar di Lapindo. Semuanya ini belum termasuk pencaplokan pulau-pulau, penjualan BUMN, dan hutang luar negeri yang membuat bangsa ini seakan tidak punya wibawa dimata negara-negara lain.


So what gitu lho…!, demikian ungkapan orang muda jaman sekarang ketika ditanya pendapat tentang kondisi bangsa hari ini. Ungkapan ini adalah ungkapan individualis yang cende-rung egoistis. Tidak seperti orang dulu yang menjunjung ting-gi nilai gotong royong. Entahlah… mungkin saja betul begitu, namun kondisi orang muda hari ini tidak lepas dari lemahnya transformasi nilai-nilai budaya, hingga dengan mudah dihan-tam rubuh oleh pengaruh budaya asing lewat media-media in-formasi yang tidak mampu disaring. Secara, kearifan budaya-budaya lokal hanya menjadi cerita kuno orang tua di kampung dan desa.
Habermas, sosiolog yang tertarik pada ilmu komunikasi mengungkapkan bahwa politik modern bukanlah sekedar me rebut kekuasaan, melainkan bagaimana menguasai infor masi. Habermas telah menjelaskan secara gamblang bahwa penjaja-han bisa saja dapat dilakukan lewat media informasi, dan ini menjadi selaras dengan konsep hegemoni yang diungkapkan oleh Antonio Gramsci. Singkatnya, penjajahan baru yang di-lakukan melalui pola pikir adalah konsep penjajahan modern yang jauh lebih kejam dibandingakan penjajahan fisik.
Pertanyaannya adalah, apakah kita masih merdeka seperti saat bung Karno dan bung Hatta membacakan proklamasi hampir 63 tahun yang lalu. Ataukah kita telah kembali dijajah oleh kemajuan kapitalisme dan modernitas yang telah mem-pengaruhi pola pikir kita? Lihatlah budaya hedonisme dan konsumerisme yang melanda kita.
Sadarkah kita bahwa kemerdekaan bukan hanya sekedar membacakan teks proklamasi, bukan sekedar merubah UUD, bukan sekedar mengadakan Pemilu. Bukan sekedar mendiri-kan mall-mall besar dan bangunan-bangunan tinggi, bukan pula sekedar menaikan harga BBM dan keluar dari OPEC. Kemerdekaan adalah kebebasan dari semua rasa takut, takut dibilang kumuh, takut dianggap orang miskin, takut berbagi dengan sesama, takut turun dari jabatan, takut mengakui bahwa bangsa ini hanya bisa makan ubi dan jagung, takut mengakui bahwa bangsa ini sedang kelaparan.
Tapi sebagai orang muda katolik, kita tidak boleh hanya melakukan “onani intelektual”, demikian kata seorang teman saat diadakan diskusi di Komkep Keuskupan Surabaya. Orang muda katolik harus berkarya dengan penuh kesadaran, kesadaran bahwa merdeka bukanlah sebuah momentum belaka, namun kemerdekaan adalah sebuah proses perjuangan yang dilakukan tanpa henti. Berjuang agar kebijakan-kebijakan pemerintah harus berpihak pada rakyat kecil, berjuang agar rakyat menjadi lebih berdaya tidak hanya selalu diperdaya. Caranya dengan memberikan teladan pada masyarakat dan orang disekitar kita melalui kepedulian (namun bukan sekedar kepedulian yang bersifat karitatif), atau yang lebih spesifik dengan membantu mereka yang tidak mampu mengecap pendidikan lewat kursus-kursus gratis, pementasan dan penguatan budaya, hingga penyadaran politik. Itu semua hanya secuil contoh, masih banyak lagi contoh hal-hal yang bisa kita lakukan untuk turut memerdekakan bangsa ini.
Marilah belajar pada Wijhi Thukul, seorang aktivis buruh yang di”hilang”kan oleh Orde baru, dengan tegas dia telah menyindir para kaum intelektual dengan sebuah tamparan kata-kata “apa guna banyak baca buku kalau mulut terus terbungkam melulu, apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk membodohi”.
Kita mestinya sadar bahwa sekali menyatakan merdeka maka harus tetap merdeka, karena sekali merdeka belum tentu terus merdeka. Marilah teruskan pekikkan dalam sanubari kita “Merdeka atau mati…!”

Abner Paulus Raya

One Response to “Sekali Merdeka Belum Tentu Terus Merdeka”

  1. ANDRE YURIS Says:

    tulisanya bagus bos..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: