Siapa itu? … Kawan!


Oleh: Peter Megantara

“Horda!!!”, seharusnya dijawab “Pring!”. Siapa pun yang pernah mendengar banyolan Suroboyoan ala Kartolo pasti tahu itu. Dahulu di salah satu radio swasta di Surabaya setiap malam tertentu, mulai pukul 23 malam sampai kira-kira pukul 1 dinihari diputar rekaman-rekaman koleksi ludruk Kartolo-cs yang cukup menghibur di saat-saat lembur menyelesaikan tugas. Bukan hanya menghibur tetapi benar-benar menemani, membuat pikiran tak lagi stress dan memberi semangat kerja kembali. Di sisi lain, banyolan-banyolan cerdas ini juga bisa menyentuh sisi manusiawi kita, mengasah logika tiga dimensi kita dalam memahami dunia yang memang tidak dua dimensi dan selanjutnya bisa diteruskan dalam ruang refleksi melalui pesan dan makna yang tersirat dalam bungkusan humor. Tertawa, menertawakan tokoh-tokoh yang diperankan tetapi sekaligus menertawakan diri kita sendiri, tanpa kita merasa tersinggung. Itulah kekuatan banyolan.
Misalnya dalam episode “Kuro Kandas” yang sempat dijadikan bahan diskusi Jumatan Bengawan tanggal 2 Agustus 2008 yang lalu, kami sempat terpingkal-pingkal sewaktu mendengar bersama-sama. Tetapi ketika masuk dalam sesi diskusi, suasana bisa berubah menjadi begitu serius. Ditemukan dalam diskusi tersebut bahwa apa yang kita tertawakan sebelumnya ternyata memang gambaran dunia nyata di mana “yang bodoh”, “yang malas berpikir”, hukumnya adalah dijadikan bahan olok-olokan, menjadi sasaran bagi yang cerdas. Parahnya adalah bahwa kita semua ternyata sering menjadi korban hanya karena kita sering tidak sadar bahwa kita dibuat bodoh, dibuat malas berpikir. Penyakit anak muda saat ini (dan mungkin sudah sejak lama) adalah malas berpikir kritis. Begitu mudah ikut-ikutan, terombang-ambing dalam badai budaya instant dan akhirnya terdampar dalam pulau konsumerisme. Sifat labil pada masa proses pencarian jati-diri bisa berarti positif juga sebenarnya, yaitu: lentur (baca: progresif) terhadap perubahan . Tidak kaku berkarat alias konservatif. Asal saja mempunyai prinsip yang jelas dan tetap kritis.
Konon kata “Horda” berasal dari kata bahasa Belanda “Wie is dat” (“Who’s that?”, Siapa itu?). Dan jawabannya adalah “Pring” yang berasal dari kata bahasa Belanda “Vriend” (“Friend”, kawan). Rupanya orang-orang Jawa di jaman itu yang terbiasa mendengar bagaimana tentara Belanda di Indonesia yang sedang patroli dan selalu menanyakan dengan berteriak “Siapa itu?” kepada mereka yang lewat di wilayah patroli mereka akhirnya ditiru untuk mencegat orang lain yang lewat. Hanya saja lidah yang biasa makan tewel (nangka muda) itu tidaklah mudah menirukan lidah yang biasa makan keju.
Bagai tongkat yang bisa dipakai untuk memukul tetapi juga bisa menjadi tongkat gembala. Makna pun bisa bergeser tergantung pada tangan siapa dia berada. “Siapa itu?”, awalnya adalah pertanyaan yang penuh curiga, tetapi juga bisa dihayati sebagai pertanyaan kritis. Pertanyaan “Siapa itu?” ingin menanyakan siapa kamu tetapi juga memberi penjelasan siapa aku. “Siapakah aku sebenarnya” atau dalam bahasa yang lebih filosofis: “eksistensiku” (baca keberadaanku) ditentukan oleh jawaban “siapa kamu” bagiku. Ketika kau menjawab “kawan”, sebenarnya kau ingin mengatakan bahwa dirimu adalah kawanku dan aku adalah kawanmu. Seketika itu pula aku yang sebelumnya bukan apa-apa menjelma menjadi kawan bagimu. Meskipun jawaban “(aku adalah-) kawan (-bagimu)” yang awalnya adalah jawaban ingin selamat dari moncong senjata patroli ini ternyata menyiratkan jawaban yang meraih ke-selamat-an dan memberi hidup. Bukankah inti dari ajaran agama mana pun adalah Keselamatan? Jadi menjawab “aku adalah kawanmu”, sama saja artinya dengan “aku akan berbagi keselamatan padamu”.
Moncong senjata patroli Belanda itu kini telah tiada, tetapi ancaman jaman tidak pernah berubah dan selalu menghantui hidup kita. Jawaban “aku adalah kawanmu” yang memberi keselamatan bagimu (dan juga bagiku sendiri) akan selalu relevan sampai kapan pun. Menjadi teman seperjalanan, menjadi sahabat yang siap berkorban. Bukankah kita sering mendengar bahwa Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yohanes 15:13). Se-ekstrim itukah? Ya, itulah keselamatan kristiani yang ingin diwartakan.
Telah satu tahun Buletin “Horda” menyapa kita “Siapa itu?” kepada kawan-kawan muda di keuskupan Surabaya dengan tujuan berbagi keselamatan, mengajak selalu berpikir kritis, tegak berdiri memandang masa depan dengan lebih optimis dan membuka ruang refleksi bagi jiwa-jiwa yang letih. Sebagai media cetak yang baru lahir tentu masih jauh dari sempurna, tetapi bukankah orang muda tidak perlu menunggu sempurna untuk bergerak? Justru dalam ketidak sempurnaan itulah kami ditantang untuk selalu mencari yang otentik dan orisinil. Sering ceroboh, tetapi selalu siap untuk berjalan lagi melanjutkan perjalanan hingga usai. Satu tahun waktu yang pas untuk melakukan evaluasi dan refleksi, cukup dewasa untuk menerima kritik dan cukup landasan ancang-ancang untuk lebih melaju.
Di salah satu sudut ruang diskusi kami di jalan Bengawan terdapat empat baris tulisan yang seakan berbisik lirih di tengah riuhnya canda-tawa atau kelit jurus adu argumentasi. Bunyinya: Membaca membuat kita penuh, Refleksi membuat kita tajam, Berdiskusi membuat kita siap, Menulis membuat kita cerdik. Mungkin jika disambungkan dengan empat rangkaian program Komkep Surabaya menjadi: “Sanggar Sendang” (teater) membuat kita penuh, “Komkep Nyepi” membuat kita tajam, “Jumatan Bengawan” membuat kita siap dan Buletin “Horda!!!” membuat kita cerdik. Setelah penuh, tajam, siap dan cerdik; lalu apa selanjutnya? Itulah yang kita tunggu dari setiap insan OMK yang terlibat di dalamnya. Tugas kita belum selesai.

Tulisan ini dipersembahkan kepada Buletin “Horda!!!” sebagai peringatan satu tahun lahirnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: