Soe Hok Gie yang Menulis & Komkep Nyepi

Diskusi Jumatan Bengawan
Soe Hok Gie yang Menulis

Dalam suasana peringatan HUT kemerdekaan RI ke- 63, Jumatan Bengawan 15 Agustus lalu mengambil tema kemerdekaan lewat pemutaran dan diskusi sebuah film Indonesia karya sutradara muda Riri Reza yang berjudul Gie.
Film ini menceritakan profil seorang aktivis pergerakan dan juga seorang penulis Soe Hok Gie yang diperankan oleh Nicholas Saputra.
Gie adalah OMK yang kuliah di Universitas Indonesia. Ia juga seorang Tionghoa yang kritis lewat tulisan-tulisan berupa pemikiran terhadap kondisi sosial politik di Indonesia. Lewat tulisan-tulisannya itulah Gie dikenang sebagai seorang idealis yang berani.
Dalam diskusi usai menonton film, muncul sebuah pertanyaan menarik, “Apa keistimewaan seorang Soe Hok Gie?”. Generasi jaman sekarang mungkin tidak kenal dengannya, namun bagi para generasi muda era tahun 1965-1969 (terutama para aktivisnya) nama Soe Hok Gie cukup familiar dan menjadi salah satu sumber inspirasi bagi gerakan mahasiswa jaman itu. Mungkin Soe Hok Gie memang bukan seorang pahlawan nasional. Dia hanya penulis lepas yang karya-karyanya sering dimuat di koran nasional.
Gie melewatkan pendidikannya di SMAK Kanisius. Tahun 1962 – 1969 ia menamatkan kuliah di Jurusan Sejarah. Ia kemudian masuk organisasi Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS). Sementara keadaan ekonomi makin kacau. Gie resah. Dia mencatat: “Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi ‘chaos’. Lebih baik mahasiswa yang bergerak.”
Hari-harinya diisi dengan program demo, termasuk rapat penting di sana-sini. “Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini, menyadari bahwa mereka adalah ‘the happy selected few’ yang masih bisa kuliah dan karena itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya.”
Soe dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya “Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, “dan “Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul “Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul “Di Bawah Lentera Merah”. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul “Orang-orang di Persimpangan Jalan “(Bentang, 1997).
Tulisan Gie kebanyakan adalah opini yang didasari dari banyak sumber lisan ataupun tertulis. Juga berupa asumsi yang dihasilkan lewat diskusi, pengamatan, dan penelitian yang mendalam.
Perjuangan Gie yang ditempuh lewat jalur jurnalisme setidaknya merupakan sebuah tantangan dan juga jawaban atas sebuah statement bahwa generasi muda Indonesia belakangan ini merupakan generasi yang sudah jauh dari kebiasaan proses berpikir atau dengan kata lain “malas berpikir”.
Dengan segala usahanya itu, menurut saya Gie sudah menjadi pahlawan bagi OMK.
Dalam diskusi yang dihadiri 15-an orang itu juga muncul perdebatan tentang manfaat sebuah aksi demonstrasi yang semakin marak dilakukan oleh mahasiswa. Sebagai salah satu “alat perjuangan”, aksi demonstrasi dapat saja dilakukan. Tapi selain aksi demonstrasi, masih ada “alat perjuangan” lain yaitu lewat tulisan seperti yang dilakukan Gie. Juga lewat jalur berkesenian seperti seni teaterikal, pembacaan puisi atau bermusik.
Semua bentuk itu bisa saja dirangkum dalam sebuah aksi demonstrasi. Namun, perlu dicatat, alangkah baiknya jika aksi demonstrasi yang dilakukan bersifat damai dan sebisanya tanpa unsur anarkis ataupun kekerasan.
Juga terbiasa refleksi
Gie getol sekali naik gunung. Dia juga mati karena hobinya naik gunung. Sehari sebelum ulang tahunnya ke 27, dia mendaki Semeru dan meninggal karena kecelakaan.
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”
Rupanya Gie tidak hanya sekedar menyalurkan hobi, tapi juga memanfaatkan acara naik gunung sebagai kesempatan untuk refleksi.
Kebetulan, keesokan harinya Komkep juga melaksanakan kegiatan Komkep Nyepi sebagai wujud kegiatan refleksi sebagaimana telah diagendakan.
Kiranya kematian Soe Hok Gie yang misterius tidak menjadikan refleksi Komkep Nyepi juga menjadi sebuah kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang misterius pula, namun dapat menghasilkan sebuah bentuk yang kongkret untuk secara khusus memajukan Komkep di masa-masa mendatang dan secara umum untuk OMK.
“Kita membutuh kan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.” (Editorial Mingguan Mahasiswa Indonesia, Bandung 1969)
Setiohadi Purwanto “Tyo”

—————————–

Komkep Nyepi – Agustus 2008

Apa jadinya kalau orang muda di Komkep berkumpul untuk belajar menjadi tenang dan hening?
Apa jadinya kalau orang muda di Komkep berkumpul untuk belajar berefleksi?
Apa jadinya kalau orang muda di Komkep berkumpul untuk belajar berkonsentrasi merumuskan masalah dan solusi?
Prosesnya memang berjalan lamban, tapi harta karun memang harus digali; lama, berat dan diombang-ambing ketidakpastian
Berikut reportase Komkep Nyepi 2008 :

Setahun sudah Komkep berkarya kembali. Seakan bangkit dari tidur, Komkep dengan wajah barunya memancarkan harapan akan adanya perubahan. Dalam kurun waktu setahun itu pula, banyak proses yang sudah terjadi. Berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan informal seperti diskusi Jumatan, seminar, aktivitas kelompok seni seperti Sanggar Sendang dan Siendikat, pendampingan tim retret sampai dengan pagelaran konser untuk kampanye gerakan aktif tanpa kekerasan menjadi arena belajar sambil berkarya bagi setiap insan yang terlibat di dalamnya.
Komunitas yang dimotori oleh Rm. Cuncun (sapaan akrab Rm. Tri Kuncoro Yekti) ini, mampu menggerakkan dan memberdayakan segenap OMK di Keuskupan Surabaya. Di tengah kesibukkan yang tiada henti itu, perlu rasanya bagi Komkep untuk “beristirahat” sejenak. Komkep Nyepi menjadi satu kesempatan bagi setiap volunteer Komkep untuk merefleksikan pengalaman-pengalaman selama berproses di KOMKEP. Bertempat di Wisma Resi Aloysi, Claket, Mojokerto, pada 16-18 Agustus 2008, proses ini berlangsung.
Konsep ‘Nyepi’ dimaksudkan bahwa proses refleksi berangkat dari ketenangan. Suasana tenang ini akan menghantarkan setiap pribadi pada penemuan makna dari setiap hal yang telah dilakukan.
Aktivitas ini terbagi dalam beberapa tahap. Tahap pertama berlangsung pada hari pertama sampai dengan pertengahan hari kedua. Tahap pertama dibagi menjadi beberapa fase yaitu ; (1) ‘diam’ untuk menemukan ketenangan, (2) mengingat peristiwa-peristiwa, (3) mencari pengalaman-pengalaman unik, (4) merenungkan mengapa pengalaman tersebut unik dan (5) mencari hikmah dari pengalaman unik tersebut. Di sini, setiap orang mensharingkan masing-masing pengalaman dan hikmah yang dipetik. Tujuannya adalah agar pengalaman tersebut dapat menginspirasi satu dengan yang lain.
Melanjutkan proses sebelumnya, pada hari kedua setiap orang diminta untuk mengingat kembali sumber inspirasi terkait dengan pengalaman pribadi dan hikmah yang telah didapat untuk kemudian dihubungkan dengan pengalaman spiritual yang dialami.
Setelah melewati proses tersebut, sampailah pada satu tahap di mana setiap orang yang terbagi dalam kelompok mencoba untuk Komkep mendatang. Dalam proses ini nampak gambaran Komkep saat ini terkait dengan realita yang sedang terjadi, Komkep esok terkait dengan visi dan misi Komkep, isu strategis terkait dengan cara-cara yang dapat dilakukan guna mencapai visi dan misi tersebut serta kualifikasi terkait dengan standar kompetensi dan karakteristik subyek yang akan terlibat di dalamnya.
Di sini setiap orang berproses bersama dengan melebur segala pengaruh yang menunjukkan adanya otoritas antara satu dengan yang lain. Maka dari itu, tidak ada batasan antara peserta dan fasilitator. Diskusi merupakan metode yang paling banyak di-gunakan dalam proses ini.
Sekalipun dipenuhi dengan kegiatan diskusi dan refleksi, kegiatan inipun tidak terlepas dari unsur “orang muda”. Kegiatan ini dikemas sedemikian rupa dari, oleh dan untuk setiap orang yang terlibat dengan mengandalkan kebersamaan, sehingga dapat sekaligus menjadi kesempatan untuk lebih mengakrabkan diri. Setiap kali sebelum sessi dimulai, peserta diperbolehkan berekspresi bebas dengan musik dan tari.
Kegiatan yang bertepatan dengan perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-63 ini, juga menitipkan satu pesan tentang sebuah kebebasan, di mana setiap orang khususnya orang muda agar tidak lagi terbelenggu oleh hal-hal yang menghambat keinginan untuk belajar dan mengekspresikan diri lewat kegiatan-kegiatan yang ada.
Pada intinya, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara berlatih untuk menemukan hikmah dalam setiap peristiwa yang dialami tiap-tiap pribadi, sekecil apapun itu dengan mengandalkan ketenangan.
Satu hal unik sebagai closing ceremony sekali-gus menjadi “oleh-oleh” dari kegiatan yang diikuti 30-an orang ini adalah saat setiap orang diminta menemukan satu kata kunci yang mewakili aktivitas selama tiga hari ini. Kata kunci tersebut diharapkan dapat menjadi pemicu untuk kembali mengingat segala proses yang telah dilakukan demi penemuan sebuah hikmah. Maka, mari menjadi “tajam” dengan refleksi.
Agnes Lyta Isdiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: