Krisis Pangan & Berbagi Suami

Krisis Pangan = Terancamnya Sebuah Negara

Diskusi Jumatan Bengawan 29 Agustus lalu membedah majalah BASIS edisi Agustus yang bertema “Kedaulatan Pangan”. Untuk merangsang diskusi malam itu, team Sanggar Sendang mementaskan sebuah sketsa pendek dengan tema yang sama. Rangkuman hasil diskusi disajikan dalam tulisan di bawah ini :

Semakin lama krisis pangan semakin dirasakan oleh masyarakat. Harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Ironis memang, mengingat Indonesia adalah negara berbasis agraria yang seharusnya sangat mumpuni dalam bidang pertanian, tapi fakta berkata lain. Dengan kata lain negara ini semakin miskin.
Tak hanya di Indonesia, krisis pangan ini juga sedang menimpa dunia secara global. Tidak sulit bagi kita untuk mengetahui berbagai gejolak yang terjadi dikarenakan oleh krisis pangan. Awal 2007 di Meksiko, 75.000 manusia turun ke jalan, menuntut penurunan harga makanan pokok mereka. Kejadian serupa juga terjadi di Senegal, Pantai Gading, Kamerun, dan Bangladesh. Bahkan di Haiti, belum lama ini, protes yang sama membuat pemerintah terpojok ke dalam krisis.
Krisis pangan kali ini tak lagi bisa diselesaikan dengan cara-cara lama: berbelas kasihlah pada mereka yang miskin, dan bantulah mereka. Karena lingkup persoalan bukan lagi hanya mengenai si miskin, tapi mengenai dunia secara global, dan mengenai kesalahan globalisasi sendiri. Bank Dunia memperkirakan, kelaparan akan mengancam 33 negara, karenanya akan pecah kekerasan dan pemberontakan.” Jika kita membiarkan keadaan demikian, resikonya tak hanya mengenai negara nasional, tapi juga mengancam stabilitas secara global,” demikianlah kata Direktur FAO, Jacques Diouf.
Jika kita telaah lebih dalam, krisis yang dialami oleh Indonesia dan berberapa negara miskin-berkembang, mempunyai penyebab yang sama. Campur tangan pihak luar ( invisible hand ) adalah salah satu penyebab yang paling berpengaruh. Dalam hal ini, invisible hand yang disebutkan adalah IMF, Bank Dunia, dan WTO. Tiga lembaga ini secara tak langsung menjerumuskan negara-negara miskin-berkembang ke dalam krisis. Mereka menawarkan pinjaman kepada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi, dan negara-negara tersebut menerimanya tanpa berpikir jauh. Padahal taktik inilah yang justru membuat negara-negara ini menjadi terikat dengan ketiga lembaga tersebut. Bisa dikatakan pola seperti inilah yang menghantarkan kita pada pola perbudakan modern.
Tetapi krisis pangan kali ini juga berdampak buruk bagi lembaga-lembaga dunia itu. ”Jelas, sejarah sedang memasuki sebuah periode protes!” begitulah yang dikatakan oleh seorang pakar sosiolog, John Walton, lewat bukunya yang berjudul ”Pasar Bebas dan Revolusi Kelaparan.” Beliau berkata seperti itu karena kelaparan dan krisis pangan kali ini akan menimbulkan serangan terhadap globalisasi dan pasar bebas, dua pilar yang selama ini menjadi alasan utama lembaga-lembaga dunia yang disebutkan sebelumnya, yang mengatas namakan kemakmuran negara-negara Barat yang kaya. Dan serangan itu telah terjadi, seperti misal negara Argentina. Pada akhir 2007 mereka telah memprotes keras salah satu dari lembaga tersebut, terkait masalah pinjaman luar negeri, dan Argentina telah melepaskan diri sepenuhnya dengan melunasi pinjamannya belum lama ini. Hal serupa juga terjadi di Nigeria baru-baru ini, hanya saja mereka belum melunasi pinjaman luar negerinya. Bilamana Indonesia berani bertindak juga terhadap lembaga-lembaga luar negeri tersebut? Mungkin itulah pertanyaan yang harus disodorkan kepada pemerintah dan para petinggi negara ini.
Krisis pangan sangat berdampak bagi kelangsungan sebuah negara. Sebuah negara yang berdaulat juga harus mempunyai kedaulatan pangan. Beberapa negara seperti Jepang, Canada, dan Australia telah melakukan proteksi terhadap produksi dan perdagangan pangannya. Bahkan mereka memberi subsidi hingga mencapai 600%. Hal itu terjadi sebaliknya di Indonesia. Jika demikian maka bisa dikatakan Indonesia belum berdaulat sepenuhnya karena belum mempunyai kedaulatan pangan.
Ibarat negara adalah seorang manusia yang akan jatuh ketika kehilangan kepercayaan dirinya, maka negara juga terancam jatuh ketika kepercayaan diri sebuah negara terkikis sedikit demi sedikit dan akhirnya hilang. Seperti halnya Indonesia yang akan kehilangan kepercayaan dirinya karena desakan globalisasi dan pasar bebas. Apakah hal tersebut akan terjadi? Itulah pertanyaan yang menuntut peran kita sebagai OMK untuk meningkatkan percaya diri bangsa dengan lebih percaya akan kualitas produksi dalam negeri.
Emmanuel Bayu

Berbagi Suami

Suasana nonton film malam itu, Jumat 5 September, kerap diselingi siulan-siulan “nakal”. Maklum saja, film ini memang masuk kategori dewasa yang banyak disensor. Tapi, begitu masuk dalam diskusi, topik ini menjadi serius
Diskusi Jumatan di Komkep kali ini mengambil tema mengenai gender dengan pemutaran film “Berbagi Suami” karya Nia Dinata. Film yang dikemas ringan namun sarat pesan ini mengajak kita untuk ikut merasakan sebuah gerakan feminisme modern di era sekarang.
Dalam film ini dikisahkan kehidupan tiga perempuan dengan beragam kelas sosial, ekonomi dan suku serta perbedaan karakter dan cara pandang terhadap persamaan kondisi yang mereka alami yakni hidup dalam perkawinan poligami.
Tokoh Salma mewakili perempuan dengan derajat sosial, pendidikan dan ekonomi yang tinggi (dokter ahli kandungan, wanita muslimah berkerudung) yang sangat mengutamakan status, martabat (kehormatan) sebagai wanita ‘kelas atas’. Tokoh Siti mewakili golongan menengah ke bawah serta budaya Jawa yang sering mencetuskan kedudukan perempuan sebagai “konco wingking” (teman di belakang, teman di ranjang dan dapur). Golongan masyarakat yang menganggap cukuplah apabila sandang, pangan dan papan terpenuhi. Ming tokoh yang menjadi simpanan majikannya. Ming dianggap mewakili golongan non muslim yang menentang poligami (tapi toh melakukan dalam bentuk lain) dan kesukuan masyarakat Tionghoa yang cenderung berorientasi pada materi/harta.
Ketiga perempuan itu masing-masing bergulat dengan perasaan, pemberontakan ‘kecil’ yang timbul dalam hati dan berbagai bentuk implementasi sikap dalam pembebasan diri dari situasi yang mereka alami.
Berbagai bentuk perjuangan mengenai penyetaraan gender antara pria dan wanita sudah diupayakan sejak jaman Kartini sampai saat ini. Tetapi seringkali konstruksi tatanan sosial yang dibangun masyarakat mengenai kedudukan perempuan terkadang cukup kuat dan menjadi penghambat dalam upaya ini.
Tidak terbantah lagi apabila masyarakat di Indonesia sebagian besar menganut sistem patrialistik dimana jelas terlihat superioritas kaum pria dan telah membudaya turun temurun sehingga sulit untuk ditebas. Perempuan dianggap lemah, tidak bisa mandiri sehingga sering kita jumpai hal-hal seperti berlakunya jam malam perempuan karena dianggap tidak bisa melindungi diri, perempuan yang telah menikah dipanggil dengan nama suami, adat istiadat suku yang mengharuskan wanita menjadi pengurus rumah tangga dan berbagai hal lainnya. Hal-hal tersebut telah menjadi suatu budaya sehingga seringkali para perempuan ikut terpola menjadi sebuah objek di dalamnya. Desturuksi terhadap tatanan sosial yang semakin mengakar inilah yang membutuhkan keberanian dan kerja keras dari kita sebagai kaum muda. Gerakan yang perlu diungkapkan melalui tindakan nyata, meyakini bahwa perempuan dapat melakukan hal-hal dengan sama baiknya dengan pria.
Hal lain yang dapat kita pertajam lagi melalui diskusi film ini adalah mengenai hubungan antar manusia di dalamnya yang merupakan cerminan masyarakat Indonesia pada jaman sekarang. Sikap individualistik menjadi semakin kuat menancapkan kukunya dalam pergaulan hidup antar manusia. Kemudahan fasili-tas akibat kemajuan teknologi, perkem-bangan pemikiran manusia yang sedemi-kian pesat mengancam dan mengikis ke-butuhan untuk membentuk masyarakat komunal karena satu manusia makin da-pat mencukupi kebutuhannya sendiri dan semakin tidak membutuhkan orang lain. Maka menjadi refleksi para kaum muda seperti kita untuk semakin me-nempa diri menghadapi tantangan jaman demikian.

Yuliana Kristiani Dewi

One Response to “Krisis Pangan & Berbagi Suami”

  1. andreas iswinarto Says:

    Salam pembebasan,
    Di tingkat global setelah kisah krisis air, krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kini krisis finansial naik panggung, Paradoksnya jalan krisis itu terus ditempuh. Masih saja mekanisme pasar dan korporasi dianggap solusi yang menjanjikan. Ironi abad ini, rasionalitas yang irasional. Rasionalitas yang paling tidak masuk akal.

    It’s the capitalism, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)

    Silah kunjung
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: