MERINTIS PERSATUAN, KESETARAAN DAN KEMERDEKAAN

MERINTIS PERSATUAN, KESETARAAN DAN KEMERDEKAAN


Saya mengakui bahwa peristiwa Sumpah Pemuda dan sejarahnya, jauh lebih rumit daripada yang saya kira sebelumnya. Saya cenderung memikirkan peringatan Sumpah Pemuda sebagai sesuatu yang sudah jadi, tak perlu diperhatikan, sebab memang sudah jadi, taken for granted. Ya sudahlah, peringatan itu sudah ada sejak aku mulai sekolah, jadi marilah memperingati juga hari Sumpah Pemuda itu. Saya tak pernah bertanya sejak kapan peringatan Sumpah Pemuda dilaksanakan secara nasional seperti yang terjadi dewasa ini. Saya tak terusik juga untuk bertanya, sejak kapan pula ‘keputusan kongres’ mulai disebut sebagai ‘Sumpah Pemuda’? Saya juga tak pernah menyelidik mengapa ada perbedaan rumusan ‘mengaku berbahasa satu’ dan ‘menjunjung bahasa persatuan’. Saya tidak menyadari sungguh bahwa Amerika baru mempunyai bahasa nasional sejak 18 Mei 2006, 230 tahun setelah merdeka; sementara di sini, sudah sejak 15 tahun sebelum merdeka sudah mulai disebut-sebut mengenai satu bahasa nasional. Saya terheran-heran ketika mengetahui bahwa ada orang asli Australia yang melakukan penelitian mengenai sejarah Sumpah Pemuda, dengan semangat, selama lebih dari dua tahun dan menghasilkan (hanya) sebuah artikel; sementara saya tidak antusias dan tidak bertanya-tanya apapun mengenai hal yang sama; dan juga tidak terinspirasi olehnya.

Dari hasil penelitian orang Australi itulah saya mendapat ceritera yang lebih hidup mengenai beberapa peristiwa dalam kongres pemuda yang menghasilkan putusan yang nantinya disebut sebagai Sumpah Pemuda. Begini. Kongres tersebut diikuti oleh para terpelajar. Kaum terpelajar jaman itu dididik dalam sekolah-sekolah yang berbahasa Belanda. Maka dapat diduga bahwa sebagian besar, atau bahkan semua peserta kongres tahu dan terbiasa dalam berbahasa Belanda. Memang pada jaman itu, orang berkumpul dan bermusyawarah biasanya menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pertama. Nah, kongres pemuda tahun 1928 itulah yang pertama kali menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kongres. Padahal tidak semua peserta fasih bahasa Melayu, bahkan sebenarnya sangat sedikit yang fasih berbahasa Melayu. Akibatnya ada banyak kesalahpahaman sepanjang kongres tersebut. Namun kaum terpelajar, kaum intelek, kaum kelas tinggi ini mau, dan sungguh dengan sukarela tidak merasa dipaksa, untuk menggunakan bahasa Melayu dalam acara formal selama kongres tersebut, sekalipun dalam percakapan di luar acara formal mereka tetap menggunakan bahasa Belanda yang mana mereka semua sudah fasih. Peneliti dari Australi tadi juga menemukan beberapa dokumen sejarah yang melaporkan peristiwa mengharukan yang terjadi dalam kongres. Dia mengatakan “ada beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan dalam bahasa Belanda karena belum bisa berbahasa Indonesia. Dan kelihatannya ada seorang peserta yang sebelum menyampaikan pertanyaan, meminta maaf terlebih dulu. Minta maaf karena sebagai anak Indonesia yang tinggal di pulau Jawa dia merasa belum bisa berbicara dengan menggunakan bahasanya sendiri. Pilihan katanya sangat mengharukan, “belum bisa bahasanya sendiri”. Padahal dia bisa bahasanya sendiri, bahasa Jawa, tetapi di hadapan kongres “bahasanya sendiri” adalah bahasa Melayu.”
Keputusan yang berani untuk menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi adalah siasat yang jenius berwawasan luas dan mulia. Sebagai fenomena sosial peristiwa ini terhitung luar biasa. Kaum intelek, kaum tinggi, kaum elit yang menguasai bahasa Belanda dan menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari, mengambil sikap memisahkan antara dunia privat dan dunia publik dalam konteks nasionalisme Indonesia. Dalam ranah privat-nya mereka tetap menggunakan bahasa Belanda, tapi dalam ranah publik mereka memilih menggunakan bahasa Melayu. Sebab disitulah terletak simbolik dari cita-citanya, yakni mewujudkan persatuan, kesetaraan dan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia.
Kiranya ini menjadi tindakan simbolik yang indah, bahwa mereka ini dengan ikhlas dan serius telah memaksa diri untuk mengindentifikasi diri secara total, baik teoritis maupun praktek, ke dalam kehidupan dan perjuangan rakyat jelata yang mayoritas. Kepentingan umum, terutama kaum kecil dan marginal yang mudah terinjak, menjadi pertimbangan utama mereka. Inilah inspirasi yang cemerlang. Mereka berani melepaskan kepentingan daerah dan agamanya. Mereka berani meletakkan egoismenya. Demi makin mekarnya kemajuan semua pihak.
Kiranya itu adalah juga inspirasi untuk orang beriman. Jika orang tak memiliki keyakinan teguh bahwa Tuhan sedang dan tetap berkarya menjadikan dunia lebih baik, menuju sempurna; bahwa Tuhan mencintai semua orang, apalagi yang sering ditindas; bahwa Tuhan pasti akan menang, maka kaum elit dan terpelajar tersebut yang relatif jauh dari sengsara dan kelaparan itu tidak akan repot-repot memaksa diri untuk mengidentifikasi dengan perjuangan kaum jelata. Solidaritas dengan sesama dan keyakinan iman mendalamlah yang mendorong pilihan berani meletakkan kepentingan pribadi.
“Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6). “ Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: