Generasi Pendidikan Turbo

Generasi Pendidikan Turbo

horda-14-hal-4Saat mengerjakan sketsa untuk diskusi Jumatan Bengawan pada 31 Oktober lalu, dalam upaya untuk memahami materi berjudul “Melawan Pendidikan Turbo” yang menjadi tema Majalah BASIS bulan Oktober 2008, kawan-kawan Sanggar Sendang (selain membaca majalahnya) menyempatkan diri untuk melakukan refleksi tentang masa-masa kami bersekolah dalam rangka “menemukan roh” masalahnya. Seharusnya ini adalah pekerjaan yang mudah, karena kami semua adalah subyek pendidikan Indonesia sesungguhnya. Refleksi malam itu memang berjalan dengan mulus, hanya saja ada “bonus” yang kami terima bersama ; rasa perih di hati.
Inilah sebagian kisah reflektif mereka. Ada kawan yang masih sakit hati karena dicap sebagai anak nakal yang suka memberontak. Nilai yang tidak pernah beranjak dari angka enam adalah ganjarannya.
Ada kawan SMA yang sebal karena merasa waktunya habis untuk tugas dan ulangan. Dia merasa masa mudanya hilang. Lalu ada kawan lain yang merasa telah menyia-nyiakan hidup selama masa kuliah. Ijazah sarjana yang di dapatnya hanya menjadi pajangan di dinding rumah. Kuliah baginya pada saat itu, tidak lebih untuk menuntaskan sebuah tugas, yaitu berbakti kepada orangtua.
Hampir semua kawan yang terlibat dalam refleksi itu, pernah mengalami masa yang tidak mengenakan saat bersekolah dulu. Mungkin bagi sebagian orang, hal itu lumrah. Mana ada sih, orang yang sekolah merasakan enak terus. Yang menjadi tidak biasa adalah, bahwa hal-hal yang tidak enak tersebut telah membuat hidup mereka seakan berada di luar jalur. Mereka sudah menghabiskan banyak waktu (bahkan dalam hitungan tahun), untuk melakukan hal-hal yang tidak mereka senangi. Tidak ada pilihan, hidup adalah takdir untuk melalui jalan yang sudah digariskan oleh orang lain. Inilah yang kemudian disebut dengan “pendidikan turbo”.
Sebuah pendidikan yang bergerak laksana mesin turbo, berjalan dengan sangat cepat, tanpa memberikan kesempatan bagi manusia yang menjalaninya untuk dapat memilih. Semua ilmu digelontorkan tanpa peduli apakah yang menerima suka atau tidak. Semua ilmu dituangkan tanpa peduli apakah yang menampung butuh atau tidak. Semua ilmu dijejalkan tanpa perduli apakah nantinya berguna atau tidak.
Dalam hal ini, pendidikan telah menjadikan peserta didik tidak lebih sebagai ”alat”. Alat untuk memenuhi cita-cita orang tua, alat untuk memenuhi nafkah para guru, alat untuk memenuhi kepentingan bisnis para penyelenggara sekolah, alat untuk menambah jumlah pemeluk agama atau keyakinan, alat untuk memenuhi tujuan-tujuan penyelenggara negara. Tidak ada yang perduli apakah seorang manusia yang menjalani pendidikan itu bahagia ataukah tidak.
Hakikat pendidikan yang bisa memerdekakan manusia menjadi luntur digerus kepentingan banyak pihak yang disebutkan di atas.
Yang penting hanya angka-angka tinggi dan rapor biru, diterima di sekolah favorit biar berapapun harganya, masuk jurusan IPA agar masuk golongan orang-orang pintar, lulus dengan nilai tinggi, masuk perguruan tinggi bergengsi di jurusan yang memudahkan untuk mencari pekerjaan dengan gaji tinggi, lalu bekerja, sukses dan kaya.
Kondisi ini, pada akhirnya membuat seorang manusia tidak terbiasa mempunyai cita-cita. Dan kalau pun ada, cita-cita itu biasanya standar saja. Menjadi dokter, insinyur, guru, arsitek, polisi, tentara, pilot, artis atau presiden.
Jangan harap ada ruang untuk menjadi penata rambut, pengelola kolam renang, pemain teater, pengemudi bus kota, atau pemadam kebakaran selama “pendidikan turbo” masih diterapkan. Dalam sistem “pendidikan turbo”, imajinasi dan kreativitas peserta didik “dimatikan” demi memenuhi tuntutan kurikulum (yang selalu berubah tiap kali ganti menteri)
Dalam diskusi yang digelar setelah pementasan Sanggar Sendang, mayoritas peserta diskusi mengaku kecewa dengan sistem pendidikan Indonesia yang kian hari kian memprihatinkan.
Apa mau dikata, inilah wajah pendidikan Indonesia. Setiap orang harus berjuang sendirian mencapai hakikat pendidikan seperti “angsa yang kesepian” (yang ditulis oleh romo Sindhunata sebagai tajuk Majalah Basis).

Erick Genjour Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: