OMK Merayakan Politik di Paroki Pagesangan

OMK Merayakan Politik di Paroki Pagesangan

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Lengan bajumu singsingkan untuk Negara
Masa yang akan datang kewajiban mu lah
Menjadi tanggungan mu terhadap nusa

Sebait syair yang dibawakan oleh band “Kamusamaku” (Kaum Muda Sakramen Maha Kudus) ini begitu menggugah. Syair lagu mengawali hari yang cukup bersejarah karena pada hari itu, Minggu 2 November 2008 tempatnya di Gereja Sakramen Maha kudus, OMK di Kevikepan Surabaya Selatan dan Barat berkumpul bersama untuk bersama-sama belajar dan berdiskusi tentang politik.
85 OMK tercatat hadir dalam acara yang bertema “Diskusi dan Parodi Politik: Peran OMK dalam Penentuan Masa Depan Bangsa” ini.
horda-14-hal-2Acara ini merupakan follow-up dari kegiatan Seminar Penyadaran Politik OMK yang diadakan pada 30-31 Agustus lalu di Pohsarang, Kediri di bawah koordinasi Komkep.
Mengawali acara, Romo Kuncoro Yekti (biasa dipanggil Romo Cuncun) selaku Ketua Komkep memimpin doa pembukaan. Disusul kemudian dengan sambutan oleh Romo Lucius Uran SVD selaku Romo Kevikepan Surabaya Selatan yang memberi apresiasi positif acara unik ini.
Sesaat setelah itu Sanggar Sendang Komkep membuka acara dengan sebuah parodi berjudul “Warung Waras” yang bercerita tentang persahabatan janda pemilik warung dengan sekumpulan mahasiswa pelanggan warung. Dikisahkan, warung milik Ning Tris itu akan digusur oleh pemerintah kota karena di lokasi itu akan dibangun sebuah mall. Topik ini menjadi bahan obrolan mahasiswa yang setiap hari nongkrong di warung itu. Tentu saja obrolannya seputar politik. Romo Cuncun mengomentari drama singkat itu sebagai ungkapan keberpihakan kaum terdidik terhadap kaum marginal. Sikap empati ini seharusnya juga dimiliki oleh setiap OMK.
Setelah pentas setengah jam itu, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama Ignatius Basis Susilo (Dekan FISIP Unair), Joko Susanto (dosen FISIP Unair) dan Yudhit Ciphardian (sekretaris Komkep) sebagai moderator.
Basis Susilo menceritakan sejarah partisipasi OMK saat era reformasi dan setelah reformasi. Beliau menyayangkan minimnya partisipasi politik dari OMK. Memelihara kepentingan umum dan ikut serta dalam kehidupan politik juga merupakan ungkapan iman. Demikian Basis Susilo mengutip surat Paus Pius XI.
Joko Susanto di kesempatan kedua membahas bentuk-bentuk partisipasi politik yang lebih sederhana, seperti melibatkan diri dalam organisasi kepemudaan, mengikuti forum diskusi, bedah buku, dan seterusnya. Menurutnya, dari situlah muncul bibit-bibit unggul dan tangguh yang kelak akan menjadi penerus masa depan bangsa.
Diungkapkan juga bahwa sekarang ini organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan sedang giat-giatnya melatih kepemimpinan kader-kadernya. Untuk itu OMK seharusnya tidak boleh ketinggalan.
Pemaparan kedua narasumber itu disambung dengan sessi tanya-jawab. Para peserta menunjukkan antusiasme yang cukup besar dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Setelah itu peserta diajak untuk menyuarakan pendapatnya lewat diskusi kelompok
Sebagai penutup, para pembicara menitipkan pesan agar OMK dapat lebih tergugah untuk berpolitik melalui berbagai macam kegiatan kemasyarakatan. Walaupun durasi acara terlalu lama sehingga membuat sebagian peserta pulang tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat peserta lain yang tetap bertahan hingga acara berakhir, bahkan menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi pada kegiatan berikutnya. Hal ini semakin membuat panitia lebih bersemangat untuk mengadakan kegiatan serupa dengan tema yang berbeda terkait bidang politik.
Jadi kapan kita akan mulai? Sekarang juga! Kiranya itu kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Dimulai dari kesadaran pribadi kita sebagai OMK yang mengemban tugas mulia sebagai penentu masa depan bangsa. Kalau bukan kita siapa lagi. Atau kita hanya akan menjadi penonton tanpa bisa berperan dan ikut mewarnai dinamika kehidupan bersama dalam kehidupan politik.
Acara yang diketuai oleh Dyah Ayu Setyorini (OMK Paroki Pagesangan) ini diharapkan dapat membuka wacana OMK untuk tidak apatis dan lebih terlibat dalam “dunia politik”. Untuk itu, rencananya acara ini akan digelar bersambung di tiga paroki di Kevikepan Surabaya Selatan dan Surabaya Barat dalam selang waktu 2-3 bulan berikutnya.
Acara ini dapat dikatakan sebagai pelopor acara bernuansa ilmiah dan sosial di kalangan OMK Surabaya. Dengan melihat semangat panitia dan antusiasme peserta, acara ini menjawab kegelisahan banyak pihak yang menyebut OMK lebih suka berkegiatan “seputar altar”.

Anastasia Edwina dan Ari Susanto
OMK Paroki St. Yoh. Pemandi Sby.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: