PADA MULANYA TIDAK ADA JALAN

PADA MULANYA TIDAK ADA JALAN

horda-14-hal-6“Pada mulanya tidak ada jalan. Hanya bila ada yang memulai melangkah, maka akan terbuka jalan bagi banyak orang. Karena kemungkinan orang muda terlibat aktif dalam kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia bukan suatu hadiah dari pihak lain, maka tidak ada pilihan lain kecuali mereka bersama-sama mencoba melangkah menapaki peziarahan hidup ini.”

Kalimat-kalimat tersebut tertulis dalam buku peserta Pertemuan Nasional Orang Muda Katolik Indonesia 2005. Di dalamnya dapat dirasakan adanya hembusan kuat semangat orang muda yang merindukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan menggereja maupun memasyarakat. Yakni perubahan menuju keadaban publik. Slogan Pernas itu pun berbunyi ”Road of Change”. Mirip dengan semangat dan slogan kampanye Obama, ”Change”. Barangkali kebetulan saja, namun dari kemiripan dengan ”Change”nya Obama, dapat dirasa-rasakan suatu panggilan untuk mencermati lagi gerakan tersebut, bagaimana kisah kelanjutan semangat Pernas, pada saat sekarang ini setelah lewat masa 3 tahun?

Setahun setelah Pernas, pada paruh akhir tahun 2006, pengurus Komisi Kepemudaan KWI mengadakan evaluasi terhadap pengelolaan gerakan ’habitus baru’. Dalam evaluasi tersebut ditemukan adanya kekuatan dan kelemahan, dukungan dan tantangan. Di wilayah keuskupan-keuskupan Regio Jawa, hambatan yang dijumpai adalah berkenaan dengan orangnya (antara lain lemahnya inner spirit dan visi, minimnya kuantitas-kualitas), metodenya (minimnya data, jeleknya kemasan program maka ”tidak terbeli”, lalu tidak mendapat dukungan kuat dalam hal dana; kurangnya konsistensi dan fokus dalam pengelolaan gerakan), organisasinya (tidak sambungnya gerakan tersebut dalam jaringan organisasi paroki-keuskupan yang memiliki prioritas yang berbeda), kuatnya tantangan yang mau dihadapi (kuatnya daya pengaruh materialisme dan konsumerisme, makin kuatnya relatifisme). Sementara hal positif yang makin disadari adalah adanya orang-orang yang berkehendak baik (volunteer, mitra, dukungan pastor paroki dan uskup; tetap tingginya semangat belajar) dan makin kuatnya kesadaran mengenai peran penting yang dapat dilaksanakan oleh orang muda.

Berhadapan dengan pengalaman-pengalaman tersebut, pengurus Komkep KWI menyusun rekomendasi dan langkah-langkah sebagai berikut. 1/ mengefektifkan jaringan komunikasi komkep; 2/ membarui dan meningkatkan kualitas-kuantitas ”kemasan” program pendidikan nilai dan pendampingan; 3/membangun sistem monitoring dan evaluasi; 4/ membangun pendataan dan merintis penelitian-pengembangan.

Setahun kemudian, pada bulan September 2007, pengurus Komkep KWI berdiskusi lagi untuk semakin mengefektifkan gerakan yang sedang berjalan. Disadari adanya beberapa isu strategis yang perlu mendapat perhatian lebih demi memperkuat gerakan ’habitus baru’. Isu-isu strategis tersebut adalah sebagai berikut. 1/ memperkuat fungsi dokumentasi terhadap proses & pengayaan metode pendidikan nilai; 2/ memperkuat proses monitoring & aftercare terhadap tiap program yang dijalankan; 3/ mengangkat sejumlah masalah mendesak yang dapat menjadi ’pintu masuk’ gerakan pendidikan nilai, yakni ‘fundamentalisme’, ketidakadilan dan kekerasan, pendidikan politik, ekologi, globalisasi; 4/ merintis fungsi penelitian dan pengembangan dalam lembaga komisi kepemudaan keuskupan; 5/ merintis dan mendukung kerjasama sinergis dengan berbagai pihak, berdasar visi yang sama mengenai pendidikan nilai & kaderisasi

Forum yang sama, pada September 2008, berkumpul kembali dan menyepakati beberapa hal berikut. 1/ makin kuatnya serangan sekularisme di satu sisi serta fundamentalisme agama-agama di sisi lain harus dihadapi dengan gerak penguatan pengetahuan dan pendampingan penghayatan iman; 2/ gerakan pendidikan nilai tetap mendesak dan relevan untuk terus diperkuat; 3/ gerakan pendidikan politik perlu segera dijalankan secara sinergis; 4/ pelayanan yang baik namun tidak berdasar data masih merupakan keprihatinan; 5/ gerakan pendidikan pendamping (kaderisasi) yang sempat terlupakan mesti segera dirintis kembali.

Kembali pada fenomena Obama. Beberapa puluh tahun lalu, sebagian besar orang percaya bahwa orang kulit hitam harus selalu menjadi ’budak’, namun sekarang semua orang melihat bahwa ia dapat menjadi ’tuan’. Pada awalnya memang tidak ada jalan. Adanya jalan bukanlah hadiah, melainkan harus diperjuangkan. Dengan semangat hidup yang terus menyala di dalam batin dan visi yang tajam jauh ke depan. Dengan mengayunkan langkah konkret dan gerakan yang terus disempurnakan. Juga dengan menggunakan organisasi yang dikelola semakin rapi dan cermat. Kini, satu orang lagi berhasil merintis jalan setapak bagi perubahan. Banyak lagi yang lain terus berjuang. Semoga semakin banyak orang muda yang berani mendedikasikan hidupnya dalam merintis jalan setapak menuju keadaban publik demi mengikut Yesus Sang Pembebas.

Rm Cuncun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: