Pembentukan Tim Relawan Politik Komkep

Pembentukan Tim Relawan Politik Komkep

horda-14-hal-1Komkep berencana membentuk Tim Relawan Politik (TRP) yang akan bergerak di ranah politik OMK (orang muda Katolik) yang selama ini kosong dan belum tergarap.
“Relawan politik” berarti orang yang bersedia melakukan kegiatan politik dengan sadar dan ikhlas tanpa paksaan dari pihak-pihak tertentu, tetapi berdasarkan niat dan minat orang tersebut.
Alasan pembentukan TRP ini didasari dari keprihatinan terhadap pandangan politik OMK yang menganggap politik itu kotor dan tidak bermoral. Hal ini yang menjadi alasan OMK enggan terlibat dalam aktivitas politik dan bahkan malas berbicara politik.
Rentetan konsekuensinya adalah makin berkurangnya kader Katolik di wilayah politik. Hal ini berpengaruh di tingkat parlemen. Kurangnya wakil Katolik yang duduk di parlemen berpengaruh pada keterwakilan aspirasi umat.
Ditambah lagi dengan kurangnya tokoh Katolik yang sangup berbicara banyak dalam politik dan mempengaruhi pembuatan kebijakan-kebijakan publik.
TRP ini dimaksudkan untuk menjadi pelopor komunitas politik di kalangan OMK Keuskupan Surabaya yang selama ini masih belum ada. TRP nantinya juga akan menjadi wadah yang bisa menginspirasi OMK Keuskupan untuk nantinya membentuk komunitas-komunitas yang sama.
Dengan kata lain TRP menjadi embrio dari aktivitas politik OMK. Dengan dibentuknya TRP, diharapkan OMK dapat menambah pengetahuan dalam bidang politik sekaligus sebagai tempat penanaman nilai kristiani bidang sosial-politik.
TRP juga diharapkan menjadi tepat penyaluran aspirasi politik OMK dan menjadi “batu loncatan” bagi OMK yang ingin berkarir di bidang politik dan nantinya menjadi tokoh politik katolik.
TRP berbentuk komunitas diaspora di bawah koordinasi Komkep. Yang dimaksud komunitas diaspora adalah komunitas yang keanggotaannya cair berdasarkan minat atau keprihatinan yang sama di bidang politik.
TRP terbagi dalam tiga bidang besar yaitu pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta bidang pengabdian masyarakat. Tiga bidang ini mengadopsi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sudah kita ketahui bersama.
TRP akan bekerja dengan prioritas memperkuat jaringan yang nantinya akan berujung pada gerakan bersama demi perubahan.
Salah satu yang membedakan orang tua dan orang muda adalah etos kreatifnya. Meski berusia muda, jika kreativitasnya mati, ia masuk golongan tua. Begitu pula jika sebaliknya.
Etos kreatif itu harus dipakai untuk membongkar kemapanan (status quo) dan kondisi serba nyaman (comfort zone). “Tidak ada yang abadi kecuali perubahan”. Kalimat ini bisa menjadi alasan bagi tumbuh-suburnya kreativitas dengan mengemasnya menjadi sebuah perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Wujudnya adalah ide-ide progresif didukung dengan etos kerja yang baik.
Patut diduga, OMK sekarang terjebak dalam dua wilayah itu ; kemapanan dan zona nyaman. Sharing para OMK se-Keuskupan Surabaya saat acara Seminar Penyadaran Politik di Kediri (Agustus lalu) menguatkan dugaan itu. Meski tidak ada data statistik yang valid, namun sharing para OMK itu sendiri (sebagai pelakunya) sudah bisa dijadikan dasar argumentasi yang cukup kuat bahwa OMK apatis, lebih suka “seputar altar”, “jago kandang”, dan seterusnya.
Setelah etos kreatif (berupa ide progresif) dan etos kerja (cerdas, militan, mobile) bertemu, dukungan banyak pihak akan mengalir dengan sendirinya. Semoga.

Albertus Prameidy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: