Selamatkan Anak-anak Indonesia

horda-14-hal-5

Pernahkah kita melihat anak-anak kecil berlarian mengejar mobil yang sedang berhenti di perempatan lampu merah?, Ada yang jadi pengamen, berjualan koran dan juga ngemis. Atau di pelabuhan Tanjung Priok ada puluhan anak yang jadi kuli pelabuhan.
Pekerja anak di bawah umur adalah fenomena sosial yang parah di Indonesia. Hak mereka untuk sekolah, bermain dan mendapat kasih sayang orangtua dirampas oleh kemiskinan yang membelenggu mereka. Fenomena ini masih ditambah lagi dengan praktek kekerasan yang dilakukan orang-orang yang lebih tua dari mereka (aparat, polisi, majikan, dan seterusnya).
Hak dasar anak-anak untuk sekolah adalah topik utama yang diangkat dalam diskusi Jumatan Bengawan, 17 Oktober lalu di kantor Komkep. Film yang dipilih adalah Denias, Senandung di Atas Awan. Puluhan OMK hadir menyimak film yang diputar sejak pukul 19.00 ini.
Denias adalah film yang menceritakan perjuangan anak suku pedalaman Papua untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Seluruh setting lokasi dilakukan di pulau Cendrawasih ini. Cerita dalam film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata seorang anak Papua yang bernama Janias.
Demi mewujudkan niatnya untuk bisa bersekolah ia harus berlari ribuan kilometer, mendaki gunung, melewati hutan sampai nyebur ke rawa-rawa.
Film arahan sutradar John de Rantau dan diproduksi tahun 2006, dibintangi antara lain oleh Albert Thom Joshua Fakdawer, Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen dan Marcella Zalianty ini berisi kritik sosial terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Sebagian besar lokasi syuting bertempat di daerah kerja PT Freeport Indonesia sebuah perusahaan tambang asing yang bergerak di bidang pertambangan tembaga dan emas di Papua.
Lokasi perkampungan Denias mengambil tempat penyutingan di kawasan pegunungan Wamena. Rumah rumah yang dipakai untuk syuting merupakan rumah asli masyarakat setempat namun juga sebagian dibangun untuk kebutuhan syuting. Sebagian penduduk setempat juga berperan sebagai figuran.
Sedangkan untuk syuting sekolah Denias, semuanya bertempat di SD-SMP YPJ Kuala Kencana. Sebagian besar figuran dalam adegan sekolah di film ini merupakan siswa-siswi YPJ Kuala Kencana. YPJ Kuala Kencana merupakan satu dari dua sekolah dasar dan menengah pertama yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Jayawijaya, dan bernaung di bawah bimbingan PT. Freeport Indonesia.
Alasan dipilihnya sekolah ini karena salah satu pemeran sekaligus produser film ini (Ari Sihasale) merupakan alumnus dari sekolah YPJ yang lain, YPJ Tembagapura. Alasan kedua adalah karena Janias merupakan alumnus dari YPJ Tembagapura juga. Tempat-tempat lain yang juga digunakan dalam film ini adalah kota Timika dan Kuala Kencana.
Di dalam film, ibu gembala diperankan oleh seorang wanita (Marcella Zalianty). Dalam kejadian sebenarnya sang penolong Denias dalam memperjuangkan haknya bersekolah, adalah seorang pendeta (gembala pria).
Film Denias berhasil masuk panitia seleksi piala Oscar tahun 2008. Selain Denias, film Indonesia lainnya yaitu Opera Jawa dan The Photograph juga sempat akan diseleksi. Tapi akhirnya hanya Denias yang terpilih diseleksi untuk kategori film asing.
Dalam diskusi setelah pemutaran film, peserta diskusi banyak mengomentari adegan-adegan yang bergaya sinetron (kenalan setelah bertubrukan) dan mengganggu keutuhan cerita. Peserta diskusi juga menduga ada “kepentingan sponsor” yang masuk terlalu dalam dalam pembuatan film ini, sehingga keutuhan cerita tidak utuh antara awal dan akhir film. Banyak potongan-potongan gambar dalam film yang menguatkan dugaan ini. Sponsor yang dimaksud adalah PT. Freeport dan TNI Angkatan Udara.
Lepas dari berbagai cacat teknis, film ini harus ditonton oleh mereka yang mengaku peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah film yang dapat membuka pandangan kita tentang betapa pendidikan yang layak di negeri ini masih sangat mahal, masih sangat rumit dan masih banyak terjadi diskriminasi-diskriminasi yang tidak masuk akal.
Kesejahteraan rakyat Indonesia akan dapat tercapai jika mereka terdidik. Pendidikan akan menyelamatkan para pekerja anak yang berkubang kemiskinan. Jika hari ini anak-anak Indonesia banyak menjadi pekerja anak dan tak berpendidikan, kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktunya.
Fransiskus Gandhi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: