Jumatan & Temu Relawan Politik Komkep KWI

Jalan Pulang ke Rumah

RV dalam film ini berarti Runaway Vacation yang bisa diterjemahkan secara bebas sebagai ‘liburan pelarian’. RV dalam arti sebenarnya merupakan kepanjangan dari Recreational Vehicle (RV) yang berarti kendaraan rekreasi.
Film komedi keluarga ini mencoba menggambarkan usaha dari seorang kepala keluarga (Bob Munro) untuk mengembalikan fungsi keluarga yang sesungguhnya melalui sebuah perjalanan liburan dengan menggunakan RV. ‘Liburan pelarian’ ini dipilih sebagai ganti dari liburan ke Hawai -yang telah disepakati sebelumnya- karena ia memperoleh perintah kerja dari atasan yang nyaris memecatnya. Berkendara dengan RV memungkinkan keluarga tersebut melakukan banyak hal secara bersama-sama. Selain berfungsi sebagai alat transportasi untuk rekreasi, RV juga berfungsi sebagai rumah bagi keluarga tersebut selama melakukan perjalanan rekreasi.
Dalam film ini, ada beberapa catatan menarik yang ditemukan. Pertama, bergesernya fungsi keluarga dari home menjadi house. Keluarga sebagai suatu ruang untuk bertemu, berproses, dan saling mendukung, dalam perjalanan waktu mulai bergeser dan terkikis arti dan perannya. Ia menjadi sebuah bangunan (saja) dimana masing-masing anggota dapat menciptakan ruang bagi dirinya sendiri, yang meski menjadi bagian dalam bangunan tetapi memiliki spirit (bisa juga dibaca sebagai: roh) yang terpisah dengan ruang yang lain.
Kedua, kekuatan yang mengancam runtuhnya home. Tembok-tembok semu antar ruang dalam suatu bangunan keluarga, yang meski tidak nampak, tetapi semakin tinggi dan kuat, yaitu: kepentingan. Setiap anggota mempunyai kepentingan, itu sudah seharusnya. Akan tetapi, kepentingan yang meniadakan anggota yang lain selanjutnya akan menjadi ancaman bagi perkembangan home itu sendiri. Kepentingan eksistensi, kepentingan memenuhi kebutuhan, kepentingan untuk berprestasi, dan banyak kepentingan lain akan mampu menyelamatkan home ketika diletakkan sebagai satu kesatuan yang terintegritas dalam home itu sendiri. Kekuatan lain di luar home yang tak kalah ampuh mengancam adalah kepentingan pasar. Dengan lincah, ia menyelinap masuk ke dalam home melalui teknologi dan media.
Ketiga, usaha menciptakan home sweet home. Keluarga Bob Munro yang baru pertama kali melakukan perjalanan dengan RV bertemu dengan keluarga Gornickers. Hal yang menarik adalah cara pandang keluarga Gornickes yang selalu positivis dan optimis -serta bersemangat- yang kemudian dianggap sebagai hal yang aneh bagi keluarga Bob Munro. Setiap home memiliki warnanya masing-masing. Warna yang nampak merupakan pancaran dari setiap pribadi yang ada di dalam home itu sendiri. Meskipun demikian, “Nothing is what it seem”, sesuatu tidak selalu tepat sama seperti penampakannya. Mary Jo (istri Travis Gornickes) sangat menghayati hal tersebut dalam hari-harinya. Ia berpikir bahwa keluarga Munro sedang mengalami kebingungan sehingga tidak menanggapi ‘sapaan’ mereka ketika mengejar RV keluarga Munro -untuk memberikan laptop milik Bob Munro yang dicuri. Di akhir cerita, nampak benar bahwa usaha penemuan home yang dilakukan oleh Bob Munro menjadi berhasil tak lepas dari bantuan keluarga Gornickes. Mungkin saya hanya melihat dua hal ini sebagai kuncinya: keterbukaan dan kerendahan hati.
Keempat, keluarga tidak hanya ruang yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga juga dapat berupa jiwa-jiwa (baca: orang-orang yang memiliki jiwa) dalam komunitas yang memiliki mimpi bersama. Kalau saya hanya menemukan dua kunci, mungkin ada yang mau menyumbangkan kunci yang lain? Sehingga kita cepat menemukan jalan pulang ke rumah….
Reza Kartika

horda-15-hal-4-5

Temu Relawan Pendidikan Politik OMK se-Indonesia

Wisma Samadi, Klender Jakarta Timur menjadi saksi bisu karena pada hari itu, Kamis (27/11) sampai Minggu (30/11) lalu, 62 OMK perwakilan 25 Keuskupan di Indonesia hadir untuk mengikuti Temu Relawan Pendidikan Politik yang diadakan oleh Komkep KWI. Komkep Keuskupan Surabaya diwakili oleh Yudhit Ciphardian, Andre Yuris dan Ari Susanto.
Acara ini dibuka oleh Rm Dwi Harsanto (sekretaris eksekutif Komkep KWI). Dalam sambutannya beliau menyerukan bahwa sudah saatnya OMK “membuat sesuatu” dan bukan lagi hanya berbuat. Ini diartikan bahwa OMK bukan hanya sebagai pelaku yang melaksanakan tetapi sebagai pelaku yang membuat bentuk/konsep kegiatan yang berhubungan dengan politik. Itu sebabnya metode utama pertemuan ini adalah workshop, sehingga diharapkan OMK dapat membuat bentuk kegiatan untuk pendidikan politik di setiap keuskupan masing-masing.
Bentuk kegiatan ini terbagi menjadi dua garis besar; (1) pendalaman atau pemahaman tentang politik, (2) workshop untuk membuat bentuk kegiatan dalam pendidikan politik. Pendalaman atau pemahaman tentang politik terbagi menjadi beberapa sesi; (1) Sistem Politik Indonesia Aktual yang dibawakan oleh Tomi Legowo dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen, (2) Tantangan Pemilu 2009 oleh Rm. Edy Purwanto, sekretaris eksekutif Komisi Kerasulan Awam KWI, (3) Tantangan Pendidikan Politik OMK oleh Billy J. Bibianus, sarjana politik dan (4) Spiritualitas Panggilan Keterlibatan Politik OMK dibawakan oleh Mgr. Yustinus Harjosusanto (Ketua Komkep KWI).
Setelah mendapatkan pemahaman tentang politik secara mendalam, pada hari ketiga peserta diajak untuk workshop tematik “Metode Alternatif Pendidikan Politik”. Workshop tematik dibagi menjadi empat kelas yaitu (1) pemanfaatan stiker dan poster, (2) pemanfaatan Riset Aksi Partisipatoris (RAP), (3) pemanfaatan jingle radio/produk rekaman suara dan musik (audio), (4) pemanfaatan film pendek.
Dengan berlatih memproduksi sesuatu dalam workshop ini, diharapkan peserta dapat mengembangkannya sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing keuskupan.
Keuskupan Surabaya sendiri menyusun rencana tindak lanjut berupa Kursus Politik baik untuk konsumsi internal maupun untuk OMK umumnya.
Di akhir acara, perwakilan peserta membuat Pernyataan Akhir di depan beberapa wartawan sekaligus launching buku Pendidikan Politik OMK yang diterbitkan Komkep KWI dan website yang dikelola Komkep KWI di alamat http://www.jejaringmudakatolik.web.id serta mailing list di alamat relawankomkep@yahoogroups.com.
Keberlanjutan program ini ditentukan oleh kehendak baik dan dukungan semua pihak, mulai dari hirarki gereja hingga umat, jika tidak, ranah politik akan selalu menjadi ranah sepi-sunyi bagi umat Katolik.
Ari Susanto

One Response to “Jumatan & Temu Relawan Politik Komkep KWI”

  1. loker15 Says:

    salam sukses… terus semangat…. tapi…. perlu ada rencana follow up dan monitoring jaringan yang bagus dan konsisten…. biasanya bikin si lebih mudah daripada melihara… 98-99 terbukti..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: