Di Batas Langit

Di Batas Langit

hal-3Lima puluh ksatria berkumpul pada hari itu. Berdiri tegak di kaki gunung Arjuna. Lima puluh rakyat terpilih dari negeri Sura yang usai melewati Kawah Candradimuka. Di dadar selama sembilan puluh hari untuk sebuah gerakan anti kekerasan. Lalu tuntas melakonkan pentas semalam yang diberi judul ala negeri Paman Sam, “Three Dimension Project for Peace” (Desember 2007). Kelima puluh ksatria itulah yang berkumpul di kaki gunung Arjuna. Mengumandangkan sumpah kepada langit. Berikrar untuk membangun sebuah tempat untuk menempa diri. Sebuah tempat dimana rakyat negeri Sura lainnya juga akan datang untuk menempa diri. Menjadi satria-satria wiwaha di atas panggung seni budaya negeri Sura. Bahkan hingga Alengka dan Madangkara. Melahirkan adikarya dalam rupa kebenaran. Mewujudkan lakon yang mewakili keadaan rakyat kebanyakan. Di waktu itulah, saat matahari sedang terik membakar bumi, disertai angin dingin yang mengalir dari dasar lembah, sebuah sanggar lahir. Sebuah sanggar yang empat belas hari kemudian diberi nama Sanggar Sendang (Januari 2008).
Lalu mulailah para ksatria itu bergeliat. Bergejolak siang malam, mengolah otak hingga jemari, mengolah raga juga jiwa. Di setiap malam, hari yang kelima, di setiap minggu genap pada bulannya, para ksatria itu berkumpul. Bercerita satu sama lain, berbagi olah-olah kanuragan baru. Melatih diri lahir dan batin, sehingga siap jika sewaktu-waktu panggung pertempuran memanggil. Sebab kebenaran yang menjadi penyanggah kehidupan harus terus ditegakkan, sedang kebatilan dari hari ke hari semakin gelap. Menyelimuti bumi dari barat hingga timur, dari utara hingga selatan.

Saat aktualisasi diri pun kemudian datang silih berganti, dari “Temu Moderatores Jawa Plus” (April 2008), Shooting Sinetron Rohani “Jejak Langkah Peziarah” (Mei 2008), Pentas Undangan “Launching Album Sindiekat” (Mei 2008). Namun semua itu tidak mampu untuk membuat para ksatria itu bertahan. Satu demi satu mereka berguguran. Sebagian lari bersembunyi. Desersi. Bukan gelapnya panggung yang membuat para ksatria hilang satu demi satu. Tapi panggung kehidupan yang kejamnya ala kepalang, mencerabut roh para ksatria satu demi satu. Panggung kehidupan ternyata jauh lebih berat daripada panggung seni budaya. Menuntut pilihan-pilihan yang memabukkan. Satu demi satu kehilangan arah. Sanggar yang baru berdiri tidak lebih dari dua kali umur jagung mulai kehilangan penghuninya. Sang Begawan pun mulai bingung. Pusing tujuh keliling. Beliau berjalan berputar-putar mencoba mencari jawaban dari bayangan-bayangan yang tertinggal. Perwujudan tak kasat dari para ksatria yang telah hilang.
Dalam perjalanannya sang Begawan menemukan seorang sahabat lama. Seorang sahabat dari masa lalu, saat menjadi cantrik di padepokan Kentrungan. Seorang sahabat yang telah bertumbuh menjadi sebuah komunitas bernama Wiridan Sarikraman (Yogyakarta). Sebuah komunitas yang sudah bersahabat dengan alam. Yang melantunkan jiwa lewat seni teater rakyat. Yang menemukan kesunyian dan keramaian di dalamnya. Yang telah menari tanpa henti. Didatangkanlah lima orang punggawa dari mereka untuk datang ke sanggar dan memberikan sebuah “Lokakarya Teater Rakyat” (Juli 2008). Sesaat, Sanggar kembali ramai. Hiruk pikuk laksana pasar. Memang tidak ada separuh dari ksatria pertama yang kembali. Tapi rakyat biasa yang sebelumnya tidak begitu peduli, hadir untuk mengganti. Sanggar seakan menemukan jiwanya kembali. Dan jiwa itu kemudian diperbaharui. Sarikraman pun menjadi panutan. Dan teater rakyat menjadi roh baru yang mencerahkan. Hiruk-pikuk terus ramai, hiruk pikuk semakin ramai. Dan para satria mulai terbagi. Antara mereka yang menemukan lentera baru dalam teater rakyat, dan mereka yang kehilangan panggung gempita semacam drama musikal. Dan sebagian lagi kembali tercekam pekatnya panggung kehidupan dengan pilihan- pilihan yang memabukkan.
Tiga produksi lahir sesudahnya. Dua bersama kelompok diskusi Jumatan, yaitu “Petani, Oh, Petani” (29 Agustus 2008) dan “Pendidikan Turbo” (Oktober 2008), dan satu lagi untuk memenuhi undangan diskusi politik di Paroki Pagesangan yang melahirkan sebuah parodi berjudul “Warung Waras” (November 2008). Dua workshop juga mengiringi. Yang satu bersama kelompok Pierre Giorgio dan yang lain bersama para seminaris di seminari Garum. Namun jurang antara para ksatria semakin lebar. Sedemikian lebar, hingga tak tahu di mana ujungnya. Sedemikian dalam, karena lahir dari hati yang tak menemukan tautan.
Sudah hampir satu tahun sanggar ini berdiri, aku si juru kunci masih di sini. Kupandangi ksatria-ksatria itu satu demi satu. Entah kasat, entah hanya bayangannya saja. Begitu lekat, ditingkahi rindu serta haru. Antara rela juga tidak. Tapi sudah saatnya untuk melangkah lagi, sebab sejarah tak boleh terhenti di nostalgia. Batas langit mulai memerah. Para ksatria yang tersisa mulai berkemas-kemas. Jumlah mereka sedikit saja. Tak ada separuh dari awalnya. Para ksatria duduk dalam satu lingkaran, menguatkan hati satu sama lain. Menyongsong hari dengan hati, menjalani kebenaran yang telah mereka yakini. Dalam gentarnya, para ksatria berjalan menuju batas langit yang memancarkan cahaya putih keperak-perakan.

Erick ‘Genjour’ Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: