KAWAT GIGI

KAWAT GIGI

hal-6Kejahatan sudah jadi perkara yang dangkal dan biasa. Bandel. Tak dapat dihentikan. Berkeliaran di sekitar kita. Kejahatan berada di antara atmosfir udara yang dihirup oleh hidung kita. Bahkan kemudian menjadi bagian dari kebiasaan hidup kita. Lalu, kita bertanya ”Apakah alasannya kita mesti tetap berbuat baik? Mengapa kita mesti terus menolak untuk bertindak jahat?”

Di satu majalah, saya membaca artikel yang lucu dan sekaligus kurang ajar juga. Tulisan itu membahas soal gigi dan kawatnya kemudian menghubungkannya dengan perkara ketidakadilan sosial. Sederhananya, tulisan tersebut mengajak pembaca untuk melihat orang yang memasang kawat pada giginya dengan sejenis lirikan yang menyebarkan sindiran rasa lucu-lugu (lumayan culun lumayan gubluk). Padahal tulisan itu dibuat oleh orang katolik juga, dan ia tahu ada banyak orang katolik, romo, dan (konon) juga uskup yang mengenakan kawat pada giginya.

Tentu saja tulisan tersebut tidak dimaksudkan sebagai anjuran atau propaganda murahan untuk bersikap sinis pada pengguna kawat gigi. Apalagi yang khusus ditujukan kepada orang katolik dan aparatnya. Tulisan tersebut menggunakan contoh sederhana itu untuk menunjukkan betapa akar kejahatan dapat menjalar dan membuahkan tindakan-tindakan yang amat biasa dan akrab dengan perilaku hidup harian kita semua.
Kita tahu tak semua orang bergigi rapi. Malah banyak yang tonggos. Nah, jaman ini menyediakan tehnologi ortopedi yang dapat membantu mengatur barisan gigi yang tak rapi menjadi lebih teratur dan keren. Masalahnya tidak semua orang itu mampu mengakses fasilitas tersebut. Tindakan ortopedis yang dilakukan sebagian orang pada gigi-giginya sendiri dapat menimbulkan rasa ’ketinggalan’, out of date, pada banyak orang lain yang sebenarnya sama-sama bergigi tidak rapi. Lalu feeling hidup harian orang-orang itu yang tidak berduit (dan giginya tetap tidak rapi) menjadi bertambah berat.

Dalam situasi ini, ada gejala yang sedang berlangsung baik pada orang yang memiliki akses atau tidak, yakni obsesi pada kesempurnaan hidup pribadi. Obsesi ego-perfeksionis ini demikian kuat sehingga menghasilkan menumpulkan kemampuannya untuk peduli pada nasib orang lain. Salah satu gejalanya adalah pengalaman rasa ’ketinggalan’ atau out of date. Rasa itu dapat tumbuh pada orang yang bergigi tidak rapi, yang tidak berkulit putih, yang tidak berpostur tinggi setelah melihat orang lain yang katanya lebih cool.
Obsesi ego-perfeksionis dan pengalaman rasa ’ketinggalan’ dapat terjadi pada semua orang. Dan parahnya juga dapat mengenai perilaku dan penampilan apa saja. Bukan hanya mengenai hal-hal yang kita pandang sebagai mode. Juga terhadap perilaku kejahatan pun orang dapat merasa ’ketinggalan’. Kalau semua orang di sekitar ternyata berbuat curang dan mengambil keuntungan secara tidak fair, bukankah kita dapat dengan spontan merasakan suatu perasaan ’ketinggalan’, lalu ingin mengatasi ketertinggalan itu, supaya menjadi diri yang lebih ’lengkap’? Ketika pola ini berbiak secara kuat, lantas kejahatan menjadi perkara yang dangkal dan tidak penting untuk dipikirkan. Sebab ada yang lebih mendesak, dan rasanya jauh lebih penting, yakni mengatasi ketertinggalan tersebut. Maka berbondong-bondong, orang menyelinap dalam rombongan untuk melakukan kejahatan. Kata orang, korupsi berjamaah. Moral tak lagi menjadi ’teguran’ batin. Demikian juga olah rohani, tak lagi menjadi faktor penentu.

Rupanya inilah masalah dan pertanyaan hidup kita dewasa ini. Mengapa kita mesti berbuat baik, kalau tindakan tersebut tidak menjawab masalah hidup seperti yang terungkap dalam perasaan ketinggalan dan out of date? Mengapa kita mesti menolak berbuat jahat, padahal itu adalah jembatan menuju pemuasan rasa kesempurnaan diri?
Karena ini memang masalah besar, saya juga tidak berpretensi untuk mengecilkannya. Tidak ada jawaban mudah untuk perkara-perkara yang sungguh penting. Namun kiranya kita akan menemukan jawaban yang tepat terhadap perkara tersebut bilamana kita berhasil menghayati suatu sikap yang tepat dalam mencari jawab. Sikap itu dapat kita telusuri dari inspirasi perayaan Natal yang baru lewat.

Natal merupakan peristiwa inkarnatoris. Dalam momentum itu Yang Ilahi menjelma menjadi manusiawi. Salah satu golongan orang dalam gelombang pertama yang mampu melihat keilahian dalam kemanusiaan tersebut adalah para gembala. Mereka hidup di tengah padang gurun yang jauh dari hiruk pikuk kesibukan masyarakat kota. Hidup mereka diwarnai oleh banyak keterbatasan. Bukan kebetulan saja kalau mereka termasuk dalam orang-orang yang bergembira melihat momen inkarnatoris tersebut. Ada kualitas tertentu yang mereka hayati. Itulah sikap asketisme yang diajarkan oleh situasi padang gurun kepada para gembala. Dan asketisme pula yang dapat menjadi inspirasi sikap hidup di jaman ini, yakni keberanian membatasi diri dengan mengatakan ’cukup’. Asketisme inilah yang akan menahan gelombang dan arus besar jaman yang muncul dalam gejala ego-perfeksionis.

Dengan keberanian asketis ini orang sebenarnya sedang menghemat tenaga dan pikirannya. Ia tidak lagi disibukkan dengan perkara mengejar berbagai asesoris hidup demi mengatasi rasa out of date tadi. Maka orang mempunyai lebih banyak waktu, tenaga batin, dan kesempatan untuk mengunyah aneka pengalaman hidupnya dan menemukan makna rohani di dalamnya. Penemuan-penemuan makna rohani akan makin mempertajam penglihatan batin orang. Pada pola sikap itulah, pada saatnya, orang akan menemukan bahwa Yang Ilahi sungguh hadir dan masih berkarya dalam dunia harian jaman ini. Sekalipun orang itu mengalami dunianya banyak dirusak oleh kejahatan namun mereka percaya jagat ini dapat menjadi baik, lalu ikut mengusahakan. Bukan yang banyak akan menjadi baik, tapi yang baik akan menjadi banyak. Selamat Tahun Baru 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: