Kelas Workshop Untuk Peningkatan Kapasitas

Rekaman Temu Moderatores 2009
Kelas Workshop Untuk Peningkatan Kapasitas

Anda tidak perlu menunggu menjadi ahli untuk mendampingi OMK, karena dengan melakukannya Anda menjadi ahli
(homili Ketua Komkep KWI, Mgr Hardjosusanto dalam Misa Penutupan Temod 2009, mengutip pernyataan seorang motivator kondang).
hal-2hal-3Acara Temu Moderatores (Temod) tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masih mengangkat tema seputar pendidikan politik untuk OMK, Temod tahun ini mengurangi sessi ceramah dan menambahkan sessi kelas workshop. Hal ini terkait dengan tema yang memang bertujuan untuk membekali para pendamping dalam program pendidikan politik.

Di hari pertama (2/2), setelah misa pembukaan oleh Mgr Julianus Sunarka di gereja katedral Purwokerto, ada sessi perkenalan peserta dan panitia. Malam itu juga peserta diboyong naik ke lokasi kegiatan di Hening Griya, Baturaden.
Hari kedua (3/2), sessi sejarah Temod dan pengantar proses dibawakan oleh Rm Tri Kuncoro Yekti sebagai koordinator Steering Committe (SC – panitia pengarah). Sessi berikutnya diisi oleh Rm Dwi Harsanto (sekretaris eksekutif Komkep KWI) berisi tentang pentingnya pendidikan politik. Dalam setiap sessi di hari kedua ini, peserta diminta untuk menanggapinya di diskusi kelompok.
Di hari ketiga (4/2), setelah penjelasan secukupnya, peserta dibagi dalam empat kelas workshop yaitu (1) kelas Manajemen Program yang difasilitasi oleh Felix Iwan Wijayanto dari Keuskupan Agung Jakarta (mantan staf Komkep KAJ), (2) kelas Animasi yang difasilitasi oleh Tommy Basoeki dari Keuskupan Surabaya (manager training CHIPS Computer Surabaya), (3) kelas Teater Rakyat yang difasilitasi oleh Rm Teguh dari Keuskupan Agung Jakarta dan (4) kelas Fund Raising (penggalangan dana) yang difasilitasi oleh Rm Agung Noegroho dari Keuskupan Agung Semarang (mantan ketua Komkep KAS).
Sepanjang hari itu semua peserta tekun mengikuti kelas pilihannya masing-masing dengan segala dinamikanya. Kelas workshop berlangsung sampai keeesokan harinya (5/2) dan diakhiri sore hari dengan presentasi dari kelas Fund Raising. Penutup hari itu adalah pentas teater dari peserta di kelas Teater Rakyat. Dua kelas lainnya, yaitu kelas Manajemen Program dan kelas Animasi mendapat tugas yang tak kalah ringan. Kelas Manajemen Program mengampu sessi terakhir yaitu sessi Rencana Tindak Lanjut dan kelas Animasi mengampu keseluruhan proses Temod sejak hari ke-5 sampai selesai acara.
Dalam penjelasannya menjelang peserta masuk kelas workshop, Rm Dwi Harsanto menegaskan arti pentingnya peningkatan kapasitas dan kompetensi pendamping. Dikatakan bahwa sekarang sudah waktunya para pendamping terus berbenah memperbaiki diri agar OMK (sebagai konstituen) juga menerima manfaat dari pendampingan dan karya pastoral.
Kualitas pendamping dan kualitas acara harus terus-menerus ditingkatkan agar pesan dan tujuan acara tercapai. Rm Santo, panggilan akrabnya, juga menekankan pentingnya kaderisasi pendamping. Komkep adalah ”kawah candradimuka” atau tempat penggemblengan kader untuk meningkatkan kualitas pribadi dan selanjutnya harus berkarya di tempat lain yang lebih tinggi dan lebih luas karya pastoralnya. Diingatkan agar pendamping yang sudah terlalu lama berkarya di Komkep agar segera melakukan kaderisasi penggantinya.
Nah, penjelasan di atas memperkuat alasan dibukanya kelas workshop dalam Temod kali ini. Rupanya Komkep KWI ingin memperkuat metode kelas workshop ini dalam berbagai forum nasional Komkep. Sebelum Temod tahun ini, Komkep KWI juga membuka kelas workshop dalam acara Temu Relawan Pendidikan Politik Komkep di Jakarta November tahun lalu (baca HORDA! Edisi Desember 2008).
Metode lama berupa input session (ceramah dan tanya-jawab bersama narasumber) tetap berguna sebagai pembuka wawasan peserta, namun di era perkembangan dinamika OMK yang berubah cepat ini, kelas workshop dibutuhkan untuk peningkatan ketrampilan pendamping. Dalam kelas workshop, peserta tidak hanya mengenal teori tapi juga mempraktekannya.
Tahun ini Komkep KWI juga merencanakan program besar berupa Training For Trainer (TFT – pelatihan bagi pelatih) dengan kebutuhan yang sama, yaitu peningkatan kapasitas pendamping OMK.
Program Komkep nasional ditinjau kembali
Di hari ketiga, ada forum para ketua Komkep dan kemahasiswaan untuk membicarakan soal program nasional Komkep. Dalam kesimpulan yang dibacakan di akhir acara disebutkan beberapa hasil forum itu yaitu, antara lain pengurangan kuota peserta tiap keuskupan untuk Temod berikutnya. Hal ini dimaksudkan agar beban pembiayaan tuan rumah Temod tidak terlalu membebani. Tuan rumah Temod berikutnya (2010 di Bandung) hendaknya tidak bermewah-mewah dalam mengemas acara.
Delegasi Keuskupan Surabaya berjumlah 15 orang (10 dari Komkep dan 5 dari PPM) membuat rencana tindak lanjut berupa Kursus Politik untuk OMK dan mahasiswa yang akan digelar 7-9 Maret mendatang (nantikan liputannya di HORDA! Maret).
Kini, Komkep se-Indonesia kian serius menapaki program pendidikan politik dan upgrading pendamping. “Buahnya” tentu tidak bisa serta-merta dipetik, tapi setidaknya pondasi sudah diletakkan.

(Yudhit Ciphardian)
Keterangan gambar (kiri-kanan) : Suasana kelas Animasi bersama fasilitator Tommy Basoeki – suasana kelas Fund Raising bersama fasilitator Rm Agoeng Noegroho – suasana kelas Manajemen Program bersama fasilitator Felix Iwan – suasana kelas Teater Rakyat bersama fasilitator Rm Teguh dan Misa
Harian dengan selebran Rm Agus Wibowo, Rm Iswandir dan Rm Eko Wiyono

One Response to “Kelas Workshop Untuk Peningkatan Kapasitas”

  1. pETRUS bAHTIAR Says:

    Profisiat bagi para moderator se Regio Jawa. Temod Bandung 2010 dan ifen temod ini sendiri juga akan menjadi salah satu referensi kami di Komkep Jayapura.

    Oya.. kami juga ada ifen dua tahunan yaitu TEMU OMK KEUSKUPAN yang juga ajang bagi para moderator se Regio Papua (Lima Keuskupan) untuk bersua.

    Temu OMK 2010 ini adalah kali pertama yang adalah KTL dari SINODE OMK KEUSKUPAN 2008. 26-30 Juni 2010 nanti Dekenat Pegunungan Bintang dengan icon Gunung Botaknya akan menjadi tuan rumah.

    Kalu saja ada dari Komkep Regio Jawa yang berminat ikut dipersilahkan saja, batas akhir pendaftaran peserta 16 Mei, mengingat keterbatasan pebernangan ke Oksibil, ibu kota pegunungan bintang dengan biaya tiket dari Sentani-Jayapura 1,3 jt naik dan 0,75 jt turun.

    So…. OMK Mantap… Bangkit dan bergeraklah………

    Salooom
    Petrus Bahtiar
    Sekretaris KPK (Komisi Pastoral Kepemudaan) Keuskupan Jayapura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: