OMK Sebagai Martir

OMK Sebagai Martir

hal-6Jumatan Bengawan 30 Januari lalu membahas majalah BASIS edisi terbaru tentang “filsafat Platon” yang disampaikan oleh Reza Wattimena dari STF Driyarkara dan Sanggar Sendang yang diwakili oleh Erick Genjour menampilkan monolog “Kemajuan yang Sia-sia” sebagai pengantar materi.
Tema diskusi kali ini memang cukup berat karena menyentuh tataran philosophy of mind dimana terdapat relasi antara idea, language, symbol, and reality. Platon mengemukakan bahwa filsafat merupakan jalan utama untuk sampai pada kebenaran dan keutamaan. Platon banyak menghasilkan banyak teori, metode, dan dialog. Teori yang terkenal dari Platon adalah teori tentang forma dan teori tentang keabadian jiwa.
Teori tentang forma mengacu pada pengetahuan tentang suatu benda yang tidak berada di dunia empiris, tetapi merupakan eidos (ide) yang bersifat abadi, tidak berubah, dan cukup diri. Sedangkan teori tentang keabadian jiwa mengasumsikan bahwa jiwa dan tubuh merupakan dua entitas yang terpisah, yang saling bergandengan di dalam diri manusia pada waktu hidup dan akan murni terpisah pada saat orang meninggal.
Platon memakai “metode bidan” yang didapatnya dari Socrates dalam mengemukakan pendapatnya. Metode bidan adalah metode yang menggunakan pertanyaan sebagai alat untuk sampai pada kebenaran. Jadi, seperti bidan yang membantu ibu melahirkan anak, begitu pula seorang filsuf mengajukan pertanyaan untuk membantu orang melahirkan kebenaran yang sudah ada di dalam dirinya.
Filsafat Platon sering dilawankan dengan filsafat Jaques Derrida. Ambillah contoh kasus tentang kebenaran. Menurut Platon, kebenaran adalah eidos dari kebenaran yang bersifat universal, abadi, dan tidak berubah. Di sisi lain, Derrida berpendapat bahwa kebenaran bersifat relatif dan tergantung pada konteksnya.

Monolog yang disajikan oleh Erick Genjour mengambil ponsel sebagai contoh dari “kemajuan yang sia-sia” dimana ponsel telah berubah fungsi dari alat komunikasi yang diperintah manusia menjadi alat komunikasi yang memerintah manusia. Hal ini tampak nyata dalam kehidupan masyarakat dalam kurun waktu satu dekade ini. Permasalahan ini tercermin dalam filsafat Platon yang menunjukkan tegangan yang besar antara apa yang ideal (das sein, apa yang seharusnya) dengan apa yang faktual (das sollen, apa yang terjadi).
Saat ini, peta politik Negara kita sedang mengalami relativitas kaderisasi dimana golongan mayoritas menekan golongan minoritas dan tidak adanya pemimpin yang mampu menyatukan kepentingan semua golongan. OMK ditantang untuk menjadi “martir” bagi negaranya. “Martir” artinya, OMK adalah anak zaman yang harus mampu menjaga jarak dengan zaman. Ikut arus tapi tidak terbawa arus. Cerdas dan tangguh dalam menyikapi masalah dan mampu mempertanggungjawabkan prinsip hidup Katolik dalam masyarakat. Pada akhirnya, mampukah OMK menjadi “martir” pada zamannya?

Citra Eka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: