Siap untuk Terlibat

Siap untuk Terlibat

”Mereka yang cakap atau berbakat hendaknya menyiapkan diri untuk mencapai keahlian politik yang sukar sekaligus amat luhur, dan berusaha mengamalkannya, tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi atau keuntungan materil” (Gaudium et Spes, 75).

hal-4Enggan untuk bicara dan terlibat urusan politik konon lekat dengan OMK, begitu kata orang-orang. Tapi mungkin terlalu tergesa-gesa memberikan cap ”enggan” sehingga lupa melihat sebab dari keengganan itu. Enggan bicara bagi saya bukan karena tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu, mungkin hanya tidak punya teman bicara, tidak memiliki kesempatan untuk curah gagasan tentang politik dan mungkin lingkungan kita yang belum siap. Itu kemungkinan pertama.
Kemungkinan lain adalah kita terlanjur alergi pada politik. Sikap dan perilaku politisi, karut-marut praktik politik yang kita saksikan melalui media massa membuat kita tambah enggan dan alergi. Keteladanan yang diharapkan dari aparat penyelenggara negara tidak kunjung muncul. Yang muncul malah kecurangan, manipulasi, saling menjegal dan menjatuhkan. Siapapun pasti jijik, tidak hanya OMK.
Tentang kemungkinan pertama. Enggan bukan kerena tidak tahu, atau tidak mau tahu. Alasannya adalah karena setiap pribadi memiliki kapasitas yang khas yang tidak dimiliki pribadi yang lain. Setiap pribadi OMK tentu memiliki kapasitas khas tentang politik, artinya OMK pada dasarnya tahu politik. Ketahuan kita tentang politik lantas tidak berkembang atau tumpul lantaran kita tidak punya teman untuk bicara politik. Atau mungkin teman-teman kita pada kabur kalau diajak bicara, tapi pada protes kalau BBM naik, menggerutu kalau kencing saja harus bayar dan mengumpat kalau aktivitasnya di kampus tidak direstui rektor, dll. Ironi bila OMK tidak punya teman bicara politik, karena kita punya Mudika, Rekat, KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) dan masih banyak yang lainya yang berpotensi jadi teman diskusi bahkan jadi komunitas politik yang aktif dan partisipatif.

Ataukah lingkungan OMK (contoh : Mudika dan KMK) belum siap kalau OMK cakap politik dan belum siap jadi wadah pengisian dan pengembangan kapasitas. Kemungkinan itu tetap ada, tapi bisa diubah. Eksklusivisme yang melekat pada organ kategorial maupun parokial harus secara perlahan diubah, dengan memberikan stimulus aktivitas dan wacana alternatif. Penggunaan media alternatif yang dekat dengan dunia anak muda seperti film, komik, stiker dan musik bisa jadi pintu masuk yang bisa dicoba. Karena hanya organ yang inklusif (terbuka dengan informasi, gagasan, inovasi baru) yang bisa jadi wadah pengembangan kapasitas. Organ parokial maupun kategorial yang inklusif tentu merupakan lahan basah pengembangan wacana alternatif dan berpotensi sebagai aksis gerakan OMK untuk ikut serta dalam aktivitas politik.
Tentang OMK yang alergi dengan politik, saya melihat ada kaitan dengan kemungkinan pertama. Enggan bukan karena tidak tahu, tidak punya teman dan lingkungan yang belum siap menjadikan kapasitas kita untuk bicara politik melemah dan tumpul. Jadi tidak mengherankan kalau kita masih menganggap politik itu kotor dan menjijikan, karena wacana lain tentang politik jarang muncul dalam dialog, aktivitas dan bahkan sengaja tidak dimunculkan. Sehingga kita terjebak pada pemahaman bahwa politik adalah mempertahankan, merebut, dan memperoleh kekuasaan (eksekutif, legislatif maupun jabatan publik lainya) yang kadang memang dilakukan secara tidak etis oleh pelaku politik /politisi. Pada kenyataannya, kekuasaan dan kedudukan politik hanya salah satu dimensi politik yang disebut politik prosedural atau politicking.
Dimensi lain dari politik, kalau dirunut dari akar katanya dalam bahasa Yunani, ”politik” berasal dari kata ”polis” yang artinya negara (tepatnya negara kota). Kemudian Platon (+347 SM) dengan bukunya Politea (negara ideal) yang membahas tentang tugas negara. Ada pula yang menyebutkan politik sebagai segala sesuatu tentang kepentingan umum (respublica). Dari pengertian diatas, politik dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama dan dilakukan untuk mewujudkan bonum commune (kesejahteraan bersama). Inilah dimensi politik yang disebut politik kultural. Kalau politik dijalankan sesuai esensinya, tidak ada alasan lagi untuk alergi. Yang jelas kita harus alergi dengan praktik kotor manipulasi dan kecurangan yang merusak esensi politik.
Pada esensi politik inilah kita OMK terlibat dan berpartisipasi secara aktif. Terlibat dan berpartisipasi aktif mulai dari areal aktivitas dan lingkungan kita masing-masing. Untuk terlibat kita membutuhkan kapasitas-kapasitas berupa pengetahuan dan pemahaman politik, ketata-negaraan, peraturan perundang-undangan, dan ajaran gereja sehingga kita tidak enggan dan canggung untuk berbicara dan memperjuangkan kebaikan bersama.

Andre Yuris (Koordinator TRPP Komkep KS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: