Putih Golongannya

Putih Golongannya
Oleh : Efek Rumah Kaca
Disadur dari Kompas 7 Maret 2009

hal-7Pemilu tinggal sebulan lagi, semua sibuk siap-siap. KPU, Bawaslu, partai. Caleg apalagi. Bagaimana dengan pemilih? Sudah menemukan yang cocok? Ada yang berkenan? Caleg sebanyak itu tidak ada yang sreg? Karena golongan putih sudah dilabeli haram oleh MUI, (kami Muslim, maka harusnya kami terikat dengan fatwa itu), rencana menjadikan golput sebagai pilihan sebaiknya dipikirkan ulang. Dipikirkan ulang belum tentu berarti tidak jadi tentunya.
Golongan putih di Indonesia dimulai pada Pemilu 1971, diprakarsai oleh para tokoh muda. Gerakan ini lahir karena adanya gejala Pemilu 1971 tidak demokratis. Karena itulah Arif Budiman cs merasa perlu ada suatu gerakan moral yang menitikberatkan pada kebebasan masyarakat untuk menentukan pilihannya di bilik suara. Selain itu, karena memilih merupakan hak, masyarakat juga berhak untuk tidak memilih.
Golput adalah sebuah gerakan yang terdiri atas pribadi-pribadi, tidak terorganisasi, dan tidak ada ketua ataupun kartu anggota. Mereka melakukan gerakan itu mengikuti semua aturan hukum yang berlaku.

Artinya, atas kesadaran penuh mereka tidak mau melanggar aturan karena golput sebagai proses pendidikan politik menjadi kontraproduktif apabila dalam pelaksanaannya melanggar ketentuan hukum. Itu golput murni. Ada juga golput yang karena kecelakaan seperti malas bangun pada saat pemilu atau tidak mengerti tata cara mencoblos.
Singkat cerita, Pemilu 1971 selesai, golput cuma 5%. Pada pemilu-pemilu berikutnya golput meningkat, tetapi tidak terlalu signifikan secara persentase. Setelah reformasi, rakyat bebas buat partai, sistem dan undang-undang pemilu membaik, golput malah meningkat cukup tajam.
Golput murni seperti tahun 1971 yang melawan represi negara sudah tidak lagi eksis karena tidak lagi ada yang dilawan. Semua keran sudah dibuka. Yang banyak adalah golput kecelakaan atau orang-orang yang apatis terhadap politik. Kenapa apatis? Karena politik tidak berpihak kepada mereka. Kasarnya, banyak orang yang merasa hidup tanpa pemerintah.
Di Amerika Serikat yang tradisi golputnya tinggi, kemunculan Barack Obama menghancurkan tradisi itu. Pemilih yang menggunakan hak suaranya meningkat, bahkan kabarnya Pemilu 2008 adalah yang tertinggi dalam partisipasi pemilihnya.
Bisa jadi, banyak-tidaknya golput tergantung dari ada atau tidaknya sosok yang bisa dipercaya.
Jujur saja, menurut kami, DPR periode ini (mungkin DPR sebelumnya juga, hanya KPK saat itu belum ada atau ditidakadakan) lebih banyak merepotkan KPK karena harus melakukan investigasi, penyadapan, dan lain sebagainya apabila ada anggota Dewan yang ”bermain”.
Belum lagi, setelah mereka (anggota DPR) tahu bahwa sekarang mereka menjadi target penyadapan, baik telepon maupun rekening pribadi, dicarilah berbagai cara untuk menghindari intaian KPK.
Kembali ke hari pemilihan, di bilik suara nanti hanya kita dan Tuhan yang tahu ada atau tidaknya sosok yang bisa dipilih. (*)

hal-8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: