Sebuah Epos, OMK Tidak Golput

Sebuah Epos, OMK Tidak Golput

hal-6Epos adalah kisah keberanian, syair kepahlawanan. Di dalamnya selalu digambarkan kebaikan mengalahkan kejahatan.
Epos umumnya didongengkan dengan sangat heroik. Tokoh pengusung kebaikan (protagonis) biasanya tanpa cacat. Ia sempurna. Sebaliknya, tokoh pengusung kejahatan (antagonis) biasanya dideskripsikan sebagai tokoh dengan emosi yang tidak stabil. Ia rapuh.
Tapi tulisan ini tidak berpretensi membedakan “yang baik” dan “yang jahat”. Tulisan ini hanya ingin menggambarkan betapa kampanye “OMK Tidak Golput” adalah kampanye yang berat. Kata “epos” dalam artikel ini ingin mengatakan bahwa ini adalah tentang “keberanian”.
Tiga prinsip
Di tengah suasana apatisme dan ketidakpercayaan besar yang melanda masyarakat, kampanye “Tidak Golput” ibarat Yohanes Pembaptis berteriak-teriak di padang gurun, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 3 : 1).

Ada 3 prinsip yang melandasi kampanye ini, yaitu 1) perubahan, 2) partisipasi dan 3) harapan. Perubahan merujuk pada sistem dan cara baru Pemilu 2009 ini. Dengan keputusan penetapan suara terbanyak, perubahan “wajah” anggota parlemen niscaya terjadi. Di Pemilu 2004, partai politik berkuasa penuh menentukan anggotanya yang menjadi anggota parlemen. Rakyat memang menyumbang suara, namun yang menentukan tetap partai politik. Di Pemilu 2009, segalanya berubah.
Prinsip kedua tentang partisipasi terkait dengan perutusan dan panggilan OMK dalam melakoni hidup berbangsa dan bermasyarakat. Kampanye ini ingin mengingatkan bahwa hidup beriman kita juga diwujudkan dalam berbagai bentuk partisipasi di tengah masyarakat. Pemilu ini adalah salah satu kesempatan bagi OMK untuk menunjukkan kepedulian.
Prinsip ketiga, harapan. Berpengharapan bukan berarti diam memohon, tapi aktif berupaya. Ini bukan se-mangat yang pasif, tapi persis sebaliknya. Berpengharapan mungkin lebih akrab kita dengar dalam istilah ora et labora. Bekerja dan berdoa.
Ketiga prinsip itu sedang keropos dan rapuh saat ini. Hanya sedikit orang Indonesia yang masih memperjuangkan tiga prinsip itu. Selebihnya sudah tak mau tahu.
Ketiga prinsip ini juga saling beririsan. Jika orang mulai kehilangan harapan, ia lalu beringsut menutup diri dan menolak berpartisipasi. Hasil akhirnya jelas, tidak ada perubahan.
Kemana arah pendidikan politik?
Pertanyaan ini wajar mengemuka. Apakah program ini ingin mencetak kader-kader politik Katolik? Atau ada “hidden agenda” di balik program panjang ini?
Jika merujuk pada kerangka besarnya, pendidikan politik ini ada dalam bingkai pendidikan nilai. Yang ingin dibangun dari pendidikan nilai ini (salah satunya) adalah semangat solidaritas.
Dengan lugas dikatakan bahwa OMK harus “keluar dari dirinya sendiri” dan ikut pula memikirkan lingkungan sekitarnya.
Jika kemudian ada kader-kader politik praktis Katolik yang berhasil dicetak, itu semata-mata adalah buah dari benih yang sudah disebar. Atau, jika kemudian kepentingan-kepentingan internal gereja (dalam hal politik) mulai lancar tersalurkan, itu juga buah kerja pendidikan politik.
Maka, arah besar pendidikan politik adalah membangun semangat man for others dengan “mentalitas berkelimpahan”.
Bukan perkara mudah memang. Maka dari itu, artikel ini “memprovokasi” di awal tulisan dengan mengusik naluri manusiawi kita yang bernama keberanian.
Siap tidak siap, OMK harus berani. Seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yesus Sang Guru.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: