KISAH-KISAH PASKA DI ANTARA PEMILU

KISAH-KISAH PASKA DI ANTARA PEMILU

Hal-6KISAH PASKA 1: MENANGISI HIDUP YANG RUSAK
Kata orang, menangis adalah tanda kelemahan. Maka kerap kali orang merasa perlu menyembunyikan diri ketika ia menangis. Namun sebenarnya, menangis dapat juga menjadi tanda pengolahan batin yang amat intensif. Pada saat itu, menangis justru menjadi tanda keberanian dalam menghadapi dan mengolah masalah dengan mempertaruhkan segenap daya upaya manusiawi.

Keberanian itulah yang kiranya ditampilkan dalam kisah paskah mengenai Maria yang menangis di dekat kubur. Apakah masalah yang sedang dihadapi Maria? Ia sendiri mengatakan “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Maria menangis sebab kehilangan Tuhan. Baginya, Tuhan adalah segalanya. Maka kehilangan Tuhan berarti kehilangan segalanya. Namun ia tetap tegak berdiri dan dengan berani menghadapi masalah itu dan mengolahnya dengan kejujuran yang mempertaruhkan segenap kemanusiaannya. Ia tidak melarikan diri atau mencari solusi murahan sebab ia tidak mau dikuasai rasa takut. Ia mencari dengan sungguh, dengan segenap daya upaya dan dengan tangis. Maria menangis, sebab ia berani dan jujur.
Hidup bersama kadang-kadang juga mengalami kehilangan orientasi. Tidak lagi berjalan demi perwujudan kesejahteraan bersama. Menjijikkan. Mengerikan. Mematahkan hati. Pengalaman itu bagaikan pengalaman Maria yang kehilangan Tuhan di tengah perjalanan hidupnya. Dalam saat-saat semacam itu, kualitas hidup orang sedang diuji dan dimatangkan. Orang mengalami pendewasaan dan peningkatan kualitas hidup ketika ia berani mengakui masalah dan dengan jujur mengolahnya di hadapan Tuhan. Berhadapan dengan situasi hidup bersama yang rusak, ada bisikan lirih, ”Menangislah, sebab engkau berani dan jujur”.

KISAH PASKA 2 : TAK USAH SEMBUNYI, TAPI BANGKITLAH
Kisah paska berikutnya menceritakan kehidupan para murid yang diajak Petrus untuk menyibukkan diri dalam pragmatisme keseharian sebagai nelayan pencari ikan. Rupanya mereka tak kuat lagi menanggung derita dan kesedihan sebagai murid yang ditinggal Gurunya. Ketika sedang bergulat dengan pekerjaan mereka, menjaring ikan dari atas perahu di tengah danau, tiba-tiba salah seorang murid mengenali kehadiran Tuhan Yesus yang bangkit. Mendengar hal itu, reaksi Petrus tampak aneh. Ia yang semula telanjang, malah mengenakan pakaian lengkap lalu terjun ke danau. Seolah-olah hendak dikatakan bahwa Petrus ingin menutup diri dan bersembunyi dari penglihatan Gurunya yang sudah bangkit. Barangkali rasa malu karena kesalahan memilih dan pengkhianatan yang pernah dilakukannya sebelum ayam berkokok yang mendorong Petrus hal berbuat seperti itu.

Rasa bersalah dan kecewa pada diri sendiri dapat mendorong orang untuk bersembunyi. Rasa takut dapat menjadi penyebab ketidakmampuan untuk percaya dan menerima kasih pengampunan. Kiranya Petrus mengalami situasi tersebut. Bukan tidak mungkin, orang katolik juga mengalami hal semacam itu dalam konteks kehidupan berbangsa. Rasa bersalah, rasa kecewa dan rasa takut terlanjur membebani, sehingga sebagian orang katolik enggan terlibat dalam upaya perwujudan kesejahteraan bersama. Maunya peduli pada kesejahteraan pribadi, keluarga dan kelompok saja. Tak mau direpotkan dan dipusingkan dengan urusan hidup bersama.

Hidup bermasyarakat di tengah jaman ini memberikan beraneka tawaran mengenai cara mengelola hidup. Tidak seluruh tawaran tersebut sungguh mampu mengembangkan kehidupan. Bahkan banyak yang justru merusak cita-cita kesejahteraan bersama. Repotnya, kebanyakan tawaran selalu bermuka manis dan memberikan janji suksesnya. Dalam situasi ini, demi menjaga mutu hidup dan mengembangkannya, tidak cukuplah orang diingatkan untuk menjadi lebih cermat dalam memilah dan memilih, juga makin dibutuhkan dukungan dan kasih pengampunan kepada orang-orang yang tertipu oleh tawaran jaman dan yang terjebak pada kegetiran hidup. Maka marilah dengarkan bisikan itu, ”Dukunglah inisiatif dan ampunilah kesalahan sebab itulah tindakan Tuhan yang bangkit”.

KISAH PASKA 3 : MENJUMPAI SESAMA DAN TUHAN
“Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Mk 16, 11-13).

Tuhan Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati para murid yang tidak percaya pada orang-orang yang telah menyaksikan kebangkitan Tuhan. Padahal para saksi kebangkitan itu adalah rekan-rekan mereka sendiri. Rupanya yang dicela oleh Yesus adalah hati para murid yang begitu dicekam rasa takut hingga tak lagi mampu mempercayai rekan sendiri. Solidaritas mereka hancur karena dilanda tekanan sosial dan rasa takut. Itulah yang dicelaTuhan. Itulah yang mesti kita waspadai. Dan inilah yang mesti kita bisikkan satu sama lain, ”Jangan sampai solidaritas hancur lebur karena ancaman dan ketakutan yang besar yang sedang menindas kita”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: