Pengalaman Jadi Anggota KPPS

Pengalaman Jadi Anggota KPPS

Hal-5Berawal dari ketidaksengajaan yang berakhir keberuntungan. Mungkin ini yang dapat menggambarkan pengalaman pertamaku menjadi anggota KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara) di tempat aku tinggal, tepatnya di daerah Semolowau. Kenapa? karena aku nggak menyangka banget bisa dapat tawaran itu. Aku dapat tawaran itu karena aku tercatat sebagai pengurus karang taruna di kampung. Sebelum Pemilu Legislatif April kemarin, aku juga jadi anggota KPPS untuk Pemilu Gubernur Jatim dua putaran, tahun lalu.
Menjadi anggota KPPS itu ada enak dan nggak enaknya juga. Enaknya, aku dapat terlibat langsung dalam proses Pemilu dan dapat honor yang lumayan banget. Padahal kerjanya juga nggak terlalu berat-berat amat. Aku lebih banyak duduk dan mengawasi para pemilih dan jalannya pemilihan. Nggak berat kan? Andai tiap hari ada Pemilu, mungkin aku sudah bisa beli mobil sendiri dari honor yang besar itu.
Tapi, ada juga nggak enaknya. Banyak warga yang complain sama aku cuma gara-gara nggak dapat surat undangan memilih. Aku sendiri juga sebel banget sama pejabat yang buat DPT (Daftar Pemilih Tetap), karena hampir semua alamat warga salah semua. Itu yang buat tugasku jadi tambah repot. Aku harus mencocokkan data yang ada di buku induk penduduk dengan data yang ada di DPT. Aku saja yang jadi anggota KPPS nggak dapat undangannya, padahal aku yang bertugas. 
Pemilu kali ini memang kacau pendataannya. Pantas banyak partai yang memprotes hasil penghitungan suara karena dianggap DPT-nya semrawut.
Yang lebih nyebelin lagi, nggak sedikit warga yang marah-marah dan mengira kalau kita (KPPS) nggak becus kerjanya. Masa, ada orang yang sudah meninggal masih tercantum dalam DPT? Memangnya orang mati bisa nyontreng?
Ada juga kejadian lucu yang perlu kuceritakan. Ada warga yang “konsultasi” ke petugas KPPS tentang pilihan yang harus dipilih sambil marah-marah. Rupanya dia nggak tahu siapapun dan bingung harus memilih yang mana (tapi jangan pakai marah-marah dong, tante..).
Kalau dipikir-pikir, jadi anggota KPPS itu capek juga. Apalagi saat itu tepat hari Kamis Putih dimana aku harus misa di gereja malam harinya. Aku mengira tugasku itu akan selesai siang, ternyata proses penghitungan cukup lama sampai malam. Akhirnya setelah menyelesaikan tugas, aku langsung pulang dan siap-siap berangkat ke gereja. Kebetulan ketua KPPS-nya juga Katolik sehingga penghitungan dilakukan dengan ngebut untuk mengejar jam misa. Untungnya saksi dan pemantau di TPS tempatku bertugas cukup maklum dengan hak beribadah.
Begitulah pengalamanku menjadi anggota KPPS, melelahkan tapi seru. Semoga bermanfaat untuk OMK semua.

Nurita Yulianti
OMK Paroki St Maria Tak Bercela Sby

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: