Daya (ke)-Pelopor-an

Sebuah catatan reflektif dari Rekpol

 

Hal-4Sempat dirisaukan kalau pendidikan politik ibarat barang dagangan stok lama yang kemungkinan untuk laku sangat kecil. Sebagai barang yang susah laku, penjual tentu tidaklah perlu memasang target yang muluk. Kerisauan, yang dalam hemat saya sangat wajar bila melihat dinamika kehidupan orang muda. Walaupun tertatih-tatih, toh pada prosesnya ternyata barang yang awalnya sulit dijual ternyata direspon positif alias laku. Yang perlu disadari bersama adalah, respon  positif  ini  tentu tidak muncul serta-merta. Tidak juga muncul tanpa daya. Dia lahir dari upaya dan tindakan bersama, dia juga lahir dari daya yang terpancar dari tiap pribadi dan komunitas.

Apa jadinya daya bila tidak diberdayakan?, bisa jadi daya itu akan lenyap atau mungkin berubah ke arah yang justru merusak. Dari pengalaman selama proses pendidikan politik, disadari bahwa daya yang menguatkan dan mendorong setiap pribadi dan komunitas untuk terlibat, perlu dihidupi bersama.

 

Ke-Pelopor-an

Pelopor, istilah yang dipilih romo Cuncun untuk menggambarkan daya yang ada dalam setiap pribadi dan komunitas OMK. Pilihan istilah yang secara pribadi saya akui menggelitik dan terasa keras. Pelopor  dalam benak saya hanya bisa dilekatkan pada orang-orang super seperti Thomas Alfa Edison, Dr. Soetomo, Ki Hadjar Dewantara dan sederet nama besar lainya yang secara nyata membuka jalan bagi generasi selanjutnya dan memberikan dampak positif bagi orang lain.

Apakah OMK yang menjadi penggiat pendidikan politik pantas menyandang predikat sebagai pelopor?.

Menjadi pelopor bukan persoalan pantas atau tidak. Pelopor mengisyaratkan mentalitas yang ada dalam setiap pribadi yang mampu melihat dan menyadari situasi hidup. Situasi hidup yang ditandai dengan perubahan-perubahan yang mengubah dan mengharuskan kita untuk melakukan sesuatu yang kerap tidak kita sadari.

Disadari atau tidak, sesungguhnya kita memiliki daya kepeloporan yang bila dihidupi bersama akan bermanfaat positif bagi setiap pribadi yang terlibat. Juga bagi gereja dan bangsa.

 

Perlu Langkah Nyata

Ketika daya sudah disadari, lantas apa yang bisa dibuat?. Membiarkannya dapat berarti lenyap atau mungkin jadi mudarat. Pilihannya adalah dihidupi. Untuk menghidupi, kita butuh langkah dan tindakan nyata yang menjadi bentuk dan saluran bagi daya tersebut.

Sadar akan arus yang menopang hidup sebagai OMK adalah sadar akan anugerah sakramen sebagai tanda pemberian rahmat Allah. Melalui baptisan kita dibebaskan dari dosa, dan menjadi anggota Gereja. Kesadaran yang sungguh menjadi akar daya, yang kadang terlewatkan dan mungkin perlahan terkikis.

Akar daya yang lebih akrab kita sebut sebagai spiritualitas panggilan dan keterlibatan kita sebagai OMK adalah arus yang menjadi penopang bagi langkah nyata. Langkah nyata yang diambil dalam konteks pendidikan politik tentu sedapat mungkin mampu mendukung tujuan pendidikan politik.

Esensi pendidikan politik adalah mendorong kesadaran dan kepekaan untuk terlibat dalam dinamika politik. Untuk mendorong partisipasi dan keterlibatan, langkah nyata yang diambil tentu sedapat mungkin mendekatkan OMK dengan realitas politik.

Pilihan langkah nyata yaitu menjadi relawan Jaringan Pemantauan Pilpres ’09, diharapkan semakin menghidupkan daya yang ada dalam tiap pribadi maupun sebagai komunitas muda Katolik. Menjadi relawan dan terlibat dalam jaringan pemantau adalah upaya menghidupkan daya kepeloporan. Daya kepeloporan yang ditopang spritualitas panggilan sebagai muda Katolik.

Kita adalah pelopor. Pelopor bagi diri kita sendiri, umat, gereja dan Indonesia.

 Andre Yuris – Koordinator TRPP Komkep

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: