Mengais Kebangkitan Dengan Puisi Rakyat

Jumatan Bengawan 15 Mei 2009

PENGANTAR REDAKSI : Berikut ini adalah artikel yang disarikan dari materi Jumatan Bengawan Komkep pada Jumat 15 Mei lalu. Jumatan waktu itu berisi apresiasi dan diskusi puisi-puisi karya Hartoyo Andangjaya. Selamat menikmati

Hal-3Pesta rakyat sedang berlangsung. Prosesinya belumlah usai. Yang baru lewat hanya menu pembukanya saja, sedang hidangan utama masih menanti di dapur demokrasi. Tiga pasangan calon sudah bersiap untuk mengisi daftar menu, menggoda rakyat yang lama menunggu.

Namun baru menu pembukanya saja, sekeranjang masalah sudah mengganggu selera. Diperkirakan lebih dari 40% rakyat yang memiliki hak pilih, tidak dapat menggunakan haknya. Sebagian memang memutuskan untuk tidak menggunakan, namun sebagian lagi terpaksa kehilangan.

Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang bermasalah telah sukses menyingkirkan berjuta-juta rakyat Indonesia sehingga mereka tidak dapat turut berpesta. Sebuah dosa yang lahir entah karena apa sebabnya.

Rakyat yang berpesta. Siapakah “rakyat”? Hartoyo Andangjaya menjawabnya dengan, “Rakyat ialah kita, jutaan tangan yang mengayun dalam kerja, di bumi di tanah tercinta…”.  Rakyat adalah kita dan bukan siapa-siapa. Kita yang bekerja, membangun negeri ini dan hidup di dalamnya. Dalam puisi berjudul “Rakyat” yang ditulisnya pada tahun 1963, Hartoyo Andangjaya ingin berkata bahwa Rakyat adalah yang utama.

Sejarah lahirnya Kebangkitan Nasional pun juga tercatat sebagai upaya untuk menjadikan rakyat Indonesia sebagai yang utama di negerinya sendiri. Setelah dikuras oleh Belanda tanpa mendapatkan apa-apa selama 250 tahun, maka dalam kesadarannya, pada Sabtu, 20 Mei 1908, pukul 9 pagi, Soetomo dan kawan-kawannya: Soeradji, Muhammad Saleh, Soewarno, Goenawan, Soewarno, R.M. Goembrek, dan R. Angka berkumpul dalam ruang kuliah anatomi STOVIA dan mendeklarasikan “Boedi Oetomo” menjadi nama perkumpulan yang baru saja mereka resmikan berdirinya. Sebuah perkumpulan yang dimaksudkan untuk mencapai kemajuan yang selaras (harmonis) buat negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, kebudayaan (kesenian dan ilmu pengetahuan).

Namun dalam sejarah pula, tercatat bahwa sesudahnya, Rakyat Indonesia pun ternyata tidak lebih dari sebuah komoditas. Sebuah komoditas politik dari mereka yang menguasai negeri ini. Setidaknya itu yang dialami oleh Hartoyo Andangjaya satu tahun sesudah ia menulis puisi berjudul rakyat. Sebagai salah seorang yang pertama menandatangani manifes kebudayaan, Penulis yang lahir di Solo pada 4 Juli 1930 ini pun pada masa Orde Lama sempat kehilangan haknya. Pada Mei 1994, manifes kebudayaan yang tidak sejalan dengan Lekra selaku organisasi kebudayaan penting di era itu dilarang oleh Presiden Soekarno dan Hartoyo tidak boleh lagi menjadi penulis.

Begitu pula di masa Orde Baru, begitu banyak orang yang kehilangan ke-Rakyat-annya hanya karena berseberangan dengan penguasa di masa itu. Demikian juga di era reformasi saat ini. Pemilu Legislatif yang baru lalu sudah menampakkan gejalanya. Keadaan multi partai yang seharusnya membawa angin segar demokrasi, malah memberikan rasa ngeri. Begitu banyak calon legislator yang tidak dikenal mengisi ruang-ruang reklame di jalanan. Rakyat lagi-lagi menjadi komoditas bagi kekuasaan.

Kapankah Rakyat akan menjadi, “… puisi kaya makna di wajah semesta, di darat, hari yang beringat, gunung batu berwarna coklat, di laut, angin yang menyapu kabut, awan menyimpan topan. Rakyat ialah puisi di wajah semesta…?” Menjadi komoditas kekuasaan mungkin memang takdir yang tak terhindarkan. Apalagi di tengah bangsa yang “fundamentalisme”-nya sedang menguat seperti Indonesia ini. Yang sedang terkepung dalam arus “kapitalisme” dan terjebak dalam lingkaran “neoliberalisme”. Dimana golongan-golongan menjadi lebih utama dari pada Rakyat itu sendiri.

Melahirkan redefinisi dari pengertian Rakyat menjadi mereka yang ada dalam golonganku, sehingga yang diluar akan terlempar ke tempat sampah sejarah. Inilah yang saat ini menjadi tantangannya setelah 101 tahun kebangkitan nasional itu dikumandangkan. Mampukah Rakyat menjadi “Rakyat” di negeri ini?

 

Erick “Genjur” Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: