Temu Relawan Pemantau Pilpres

(sebuah catatan pribadi)

 

Hal-6Hal-7

Malam itu, asa yang hadir dalam dada kawan-kawan TRPP Komkep sangatlah besar. Nama seratus OMK pemantau Pilpres sudah ada di tangan. Semua akan hadir pada pembekalan akhir yang diselenggarakan dengan tajuk ”Temu Relawan Pemantau Pilpres 2009” pada esok harinya.

Malam itu, Jumat 3 Juli, hampir semua relawan TRPP berkumpul di sekretariat, mempersiapkan segala hal untuk keesokan harinya. Esok adalah hari besar. Hari kesadaran politik layak dikumandangkan.

Sabtu, 4 Juli. Sedari siang tampak koordinator TRPP sudah teramat sibuknya. Ia menyiapkan beberapa materi yang masih belum usai ditulis malam tadi. Tak lama kemudian para relawan TRPP mulai muncul menampakkan diri.

Ruang pertemuan mulai dibuka, kursi-kursi di-tata. Layar, laptop dan proyektornya mulai disiapkan. Sound system dan penyejuk ruangan dinyalakan dan mulai dicoba.

Bagian administrasi sibuk dengan komputer menyiapkan segala macam formulir yang diperlukan. Bagian acara asyik pula berlatih beberapa lagu yang akan digunakan sebagai penyegar suasana.

Semua bersemangat. Semua meyakini, hari ini adalah hari istimewa.

Pukul empat sore adalah waktu yang dicantumkan dalam undangan. Belum ada satu orang peserta pun yang datang. Padahal selepas ashar meja registrasi sudah dibentang. Wajah panitia mulai digelayuti kecemasan. “Akankah ada yang datang? Jika tidak, mengapa tiada kabar”. Kira-kira pertanyaan itu yang berkecamuk. Padahal sebagian janji sudah tuntas diucapkan kemarin malam. Waktu terus beranjak hingga menjelang petang. Jam sudah menunjuk pukul lima sore. Baru empat orang yang datang. “Apa yang terjadi? Apakah janji sedang diingkari?” Tak ada berita hingga detik ini. Tak ada seorangpun yang tahu.

Senja itu, para relawan TRPP pun rapat mendadak. Laksana punggawa mereka bersidang, mencoba mencari jawaban. Keputusan segera diambil. Keputusannya ; the show must go on.

Satu persatu calon peserta ditelepon langsung. Beberapa orang menyatakan akan terlambat, namun sebagian besar tak dapat hadir. Alamak, tak lebih dari dua puluh orang yang menyatakan diri jadi hadir. Sebagian dari mereka baru akan tiba terlambat.

Ada sedikit kecewa, menguas dalam dada. Ada berita yang tak tuntas edarnya sehingga hari ini tak teragenda sebagai hari besar buat para OMK calon relawan pemantau pemilu. Komunikasi tak berjalan sebagaimana mestinya. “Hari besar” buat TRPP ternyata hanyalah “malam minggu biasa” bagi para OMK.

Tapi sudahlah, 20 OMK telah siap untuk hadir. Memang mereka tak serempak datangnya. Tapi mereka akan hadir, dan tiga diantaranya jauh-jauh menempuh perjalanan dari luar kota. Seorang dari Blitar dan dua lainnya dari Nganjuk.

20 OMK cukup untuk merayakan hari ini. Hari dimana kesadaran politik layak untuk dikumandangkan. Sebab ada dua puluh OMK yang telah hadir menyiapkan diri menjadi relawan pemantau politik. Dan sisanya, tetap akan menyiapkan diri mereka dengan caranya masing-masing.

Mengapa Temu Relawan ini diselenggarakan? Pertanyaan ini cukup banyak menggelayut di benak para calon relawan. Bukankah sudah ada buku pedoman pemantauan yang sudah dibagikan lewat email dan facebook yang siap online 24 jam. Apakah masih kurang informasi yang perlu didapatkan oleh para calon pemantau?

Pilihan waktu sabtu sore di dalam kota juga jadi salah satu alasan. Jika weekend ini digelar di luar kota mungkin lain soal. Jika di dalam kota, weekend ini sangat berharga. Ada kekasih yang harus ditemui, ada calon mertua yang harus disapa, ada keluarga yang harus diakrabi, sahabat yang harus ditemani, komunitas yang harus dihidupi. Malam minggu telah menjadi watu pribadi yang teramat berharga untuk ditukar dengan kegiatan semacam ini. Malam minggu adalah satu-satunya waktu untuk bersosialisasi dan ber-happy di tengah padat dan penatnya hari-hari lain dalam arus kehidupan semacam di Surabaya ini. Malam minggu adalah satu-satunya waktu dimana jiwa-jiwa lelah mendapat ruang istirahat.

Pertanyaan di atas, seharusnya digulir menjadi lebih dalam lagi. Apa yang sebetulnya dicari dari aktivitas pemantauan ini? Apakah sekedar data perilaku masyarakat dalam sebuah pesta demokrasi yang sudah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1955, atau apa?

Aktivitas Pemantauan Pilpres yang diselenggarakan oleh TRPP Komkep sesungguhnya jauh dari sensasi. Para relawan pemantau yang bergabung di TRPP Komkep tidak terdaftar dalam database Komisi Pemilihan Umum. Aktivitas pemantauan ini “tidak resmi”, kalau tidak mau dikatakan ilegal. Sebab memang tidak ada badan hukumnya (legalitas). Namun bukan berarti melanggar hukum. Sebab aktivitas pemantauan yang dilakukan tetap dalam tata aturan pemantauan yang ditetapkan oleh KPU dalam undang-undang Pemilu.

Disinilah letak keistimewaannya, aktivitas pemantauan telah menjadi wujud kepedulian seorang warga negara terhadap proses pemilu yang terselenggara di lingkungan sekitarnya. Kepedulian yang lahir dari kesadaran subjektif dan berkembang menjadi kesadaran kolektif. Dan semakin istimewa karena dilakukan oleh OMK. Sebuah komunitas yang sering dipandang minor dalam hal kepedulian politik.

Untuk mencapai taraf kesadaran kolektif itulah kegiatan temu relawan politik ini diselenggarakan. Kesadaran-kesadaran subjektif yang telah hadir, harus disatukan. Sebab, jika tidak disatukan, kesadaran-kesadaran ini hanya terhenti pada kesadaran subjektif saja. Akhirnya yang muncul adalah kerja mekanik, karena ide hanya tersimpan dalam mezbahnya masing-masing. Tak sempat jadi upacara bersama yang memuliakan pencerahan. Datang ke TPS, melakukan pemantauan, pulang, mengisi formulir hasil pantauan, kemudian entah esok atau beberapa hari kemudian mengirimkannya kepada TRPP. Tanpa ada ruang pertukaran ide tentang kesadaran politik yang signifikan.

Dalam aktivitas pemantauan pilpres yang bersifat independen inilah ada harapan bahwa pendidikan politik dapat terselenggarakan dengan benar. Menjadikan manusia sebagai manusia. Yang sadar dan peka akan problematika hidupnya. Dimana problematika itu tidak pernah lepas dari persoalan-persoalan politik yang carut marut dalam kehidupan bangsa ini.

Perbuatan sekecil apapun yang diselimuti oleh harapan besar akan sebuah perubahan, sangat layak untuk diperjuangkan.

 

Erick “Genjour” Saputra (Anggota TRPP Komkep)

 

 

Hal-8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: