Pengembangan Aktivis Muda

Hal 6Orang muda katolik (OMK) sampai hari ini masih (sungguh?) dipandang sebagai lumbung pemimpin katolik hari ini dan masa dapan. Walaupun begitu, praktek lapangan sehubung posisi stategis OMK masih perlu dipertanyakan kesungguhannya. Banyak kasus, kelompok OMK bergantung pada sosok tertentu dan tidak memiliki kemandirian.

Ketidakmandirian ini mempengaruhi suplai terhadap jumlah pemimpin muda katolik yang berkualitas. Jika hari ini kita mengalami krisis OMK yang berkualitas, maka yakin saja 20 dan 30 tahun mendatang pemimpin katolik tidak dapat diandalkan bagi kemajuan kemanusiaan, lingkungan bangsa dan negara.

Prioritas

Mengembangkan OMK secara umum merupakan pekerjaan yang sulit. Sebab membutuhkan waktu lebih, tenaga magis serta anggaran yang cukup. Oleh karena itu, kita perlu membuat batasan. Menentukan batasan memerlukan prioritas. Dan saya menilai bahwa aktivis muda perlu mendapatkan prioritas utama (selain penggemblengan calon imam) dalam rencana strategi pengembangan OMK.

Ada tiga alasan mendasar mengapa aktivis muda perlu diprioritaskan. Pertama. Mereka adalah orang-orang bebakat di bidangnya sehingga punya potensi untuk terus berkembang. Kedua mereka memiliki kerpihatinan yang menjadi alasan bagi dirinya untuk bertindak. Inilah yang membuat mereka lebih aktif bergerak bila dibandingkan dengan yang lain. Dan ketiga, mereka memiliki niat baik. Niat baik menjadi salah satu faktor yang membuat aktivis muda tersebut aktif dalam melayani macam-macam kegiatan di gereja/parokinya masing-masing. Aktif di tingkat keuskupan serta aktif pula di kelompok-kelompok katergorial lainnya. Dalam banyak hal mereka menjadi penggerak dan motor bagi lingkungannya.

Ketika aktivis muda mengalami diri sebagai penggerak dan motor bagi lingkungannya maka mereka teridentifikasi sebgai agen Kristus, gereja dan pelaku perubahan (selanjutnya aktivis muda disebut agen Kristus-pelaku perubahan) . Agar menjadi agen Kristus-gereja-pelaku perubahan yang mumpuni maka bakat, keprihatinan dan niat baik saja tidaklah cukup. Kita butuh lebih yaitu keunggulan diri yang berkelanjutan. Itu semua perlu dikembangkan. Kualitas ini diperoleh melalui program pendidikan dan latihan yang berkelanjutan.

Hal 7Bentuk Pengembangan

Saya membagi bentuk pengembangan agen Kristus-pelaku perubahan menjadi dua bagian. Yaitu jalur formal dan informal. Kedua jalur ini memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing-masing. Oleh karena itu, dua-duanya perlu berjalan seiring. Agar saling melengkapi. Sangat bagus jika kita (baca : masyarakat gereja katolik) memiliki unit kerja Pelatihan dan Pengembangan Aktivis. Sebuah unit yang bertanggungjawab khusus untuk melakukan pelatihan dan pengembangan Aktivis, dalam hal ini agen Kristus-gereja-pelaku perubahan yang ada di seluruh wilayah Keuskupan Surabaya. Karena saat ini kita belum memiliki unit kerja tersebut, maka sangat progresif jika tanggungjawab tersebut menjadi perhatian Komisi Kepemudaan.

Bayangan saya, setiap enam bulan sekali kita memiliki pemusatan latihan bagi pengurus kelompok/organisasi OMK baik itu kelompok/organisasi teritorial maupun kategorial. Pelatihan tersebut tidak saja terjadi dalam level keuskupan melainkan juga dijalankan di tingkat kevikepan, paroki dan wilayah atau stasi. Tema pelatihan disesuaikan dengan hasil analisa kebutuhan pelatihan. Semakin sering kita melakukan pelatihan terorganisir, saya percaya mutu agen Kristus-pelaku perubahan sedang mengalami peningkatan. Peningkatan yang terjadi terus menerus akan mendorong aktivis muda mencapai keunggulan diri. Keunggulan diri disertai tingkat kesadaran dan refleksi diri yang otomatis akan membuat aktivis muda tangguh dan memiliki semangat magis dalam beraktifitas selaku agen Kristus dan pelaku perubahan.

Jalur formal

Keprihatinan saya adalah standar bahkan minimnya pendidikan formal agen Kristus-pelaku perubahan. S1 saja tidak cukup. Kita membutuhkan agen Kristus-pelaku perubahan yang memiliki pengetahuan khusus-komprehensif mengenai bidang yang menjadi keprihatinannya. Sebab mereka selalu berada di garis terdepan dalam perjuangan kemanusiaan Kristus. Dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam maka kita memiliki agen Kristus-pelaku perubahan yang tidak asal bergerak, tetapi bergerak sambil berpikir menjadi yang terbaik dibidangnya-demi semakin mulianya nama Tuhan..

Arah pemikiran saya semakin jelas. Bahwa kita perlu membuat program studi lanjut S2 dan S3 bagi agen Kristus-gereja-pelaku perubahan. Inilah salah satu strategi penting mengatasi ke-krisis-san kualitas pemimpin muda katolik. Yaitu membangun manusia bukan sekedar membangun tanah-gedung dengan dana miliaran rupiah. Jika kita  (baca : keuskupan) bisa menghabiskan dana miliaran rupiah untuk tanah-gedung maka lebih mudah lagi bagi kita untuk menjalankan program beasiswa studi lanjut S2 dan S3 bagi aktivis muda karena kita membangun tepat pada manusia bukan pada faktor penunjangnya.

Manfaat

Program ini, baik jalur informal dan formal memberikan manfaat jangka pendek dan jangka panjang bagi gereja lokal. Program ini secara berkelanjutan meningkatkan keseimbangan kualitas intelektual, emosi dan spiritual aktivis muda. Keadan ini menempatkan gereja lokal berkecukupan tenaga handal yang siap pakai bagi kemuliaan nama Tuhan. Sangat menyenangkan kalau mintra kerja para imam ini pun memiliki kualitas yang seimbang, sehingga memudahkan penyesuaian ritme kerja.  

Penanggungjawab

Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana mewujudkan program beasiswa studi lanjut tesebut? Jawabannya adalah harus ada pihak yang menunjukan diri sebagai pihak yang lebih berkepentingan terhadap pengembangan kualitas agen Kristus-gereja-pelaku perubahan. Pihak tersebut adalah masyarakat gereja katolik  sendiri yang diwakili oleh institusi keuskupan. Dalam hal ini Keuskupan Surabaya. Selanjutanya, mengenai pendanaannya dapat diambil melalui anggaran belanja tahunan keuskupan maupun sumbangan donatur. Oleh karena itu, program ini sangat mudah untuk diterapkan apabila ada komitmen bersama.

Akhir kata

Jika kita memiliki aktivis muda, mereka yang menjadi agen Kristus dan pelaku perubahan, memimpin dan berada digaris terdepan dalam perjuangan kemanusiaan Kristus, memiliki kualitas pengetahuan yang mendalam tetang bidang ilmu/keprihatiannya, maka kita sudah berada dalam situasi tanpa krisis kader katolik. Itu semuanya butuh komitmen yang bisa dipercaya.

 Oleh Urbanus X. L. Avélandobolo

* Pemimpin Pelatihan AVÉMEDIA

 

Hal 8

One Response to “Pengembangan Aktivis Muda”

  1. Silvester Woru Says:

    saya coba menanggapi tulisan sdr Urbanus…saya kira bagus, meskipun perlu diperbaiki soal penggunaan bahasa yang tepat. Sdr Urbanus mencoba membuka cakrwala kita soal pengembangan aktivis muda sampai dengan soal2 teknis. Dalam pandangan saya memang soal pengembangan aktivis belum mendapat perhatian serius dari stakeholder, bisa aja Keuskupan menurut Urbanus, bisa aja negara dan bisa juga institusi pendidikan. Gambaran soal aktivis muda memang sangat beragam sesuai dengan minatnya masing-masing. Ada yang ke sosial kemasyarakatan, ada yang ke politik, ada yang yang konsen ke intelektual membentuk kelompok diskusi, kajian, ada juga aktivis dibidang kerohanian dan sebagainya. Namun beragamnya aktivis muda itu merupakan sebuah proses panjang yang harus mereka lalui. Tidak serta merta langsung jadi. Nah..dalam tulisan Urbanus membagi pengembangan aktivis muda dalam jalur formal dan non formal. Misalnya memberi beasiswa studi lanjut. Beasiswa ini sebagai upaya pengembangan kapasitas dalam ranah keilmuan. Namun demikian perlu dipikirkan juga para aktivis muda yg konsen ke sosial kemasyarakatan dan politik. para aktivis ini tidak hanya dibekali oleh intelektual dan emosi yang mumpuni, tapi mereja juga perlu dibekali yang dalam bahasa saya “soal strategi untuk menghadapi menghadapi musuh”. Ibaratnya diluar aktivis muda Katolik adalah musuh”. Maka sebelum masuk ke medan perang mereka harus dipersiapkan dengan baik. bagaimana berargumen didepan umum dengan cerdas dan meyakinkan, bagaimana mempertahankan pendapat, bagaimana mempengaruhi massa, pengambilan keputusan yg tepat, bagaimana mengacaukan jalan sidang atau pertemuan, bagaimana membangun relasi dengan kelompok yang dianggap paling keras dan dan bahkan paling fanatik dan sebagainya. Selama ini pengembangan seperti ini memang jarang dilakukan. untuk mengambil pilihan seperti ini adalah orang berani terutama..para aktivis politik dan sosial kemasyarakatan.

    sekian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: