Tentang Pentas “Aku Kamu – Aku Aku”

Aku ajak kamu ke situ, dan kamu tak mau.

Kamu paksa aku ke sini, aku tak perduli.

Aku ke situ, kamu ke sini.

Aku membisu, kamu hindari.

Aku kamu, aku aku.

Tak mau tahu.

Hal 3Sinopsip

Bagaimana rasanya digusur? Badan digusur, ide digusur, semua digusur. Inilah balada orang-orang marginal. Berangkat dari perjumpaan di sebuah warung pecel milik Bu Harti, yang tidak lama kemudian digusur para pamong karena dianggap mengganggu keindahan kota, dua OMK, Prana dan Julia, memulai perjalanan menjadi orang tergusur. Perjumpaan sejenak sebelum berangkat ke gereja untuk menemui pak Dirga dan romo Dar itu seakan menjadi pertanda tentang hari buruk yang akan mereka jalani.

Sebuah proposal ditolak hari itu. Alasannya, lagi-lagi tak ada dana. Klasik sebetulnya. Namun penolakan hari itu memberikan luka mendalam di hati Prana. Karena ini adalah penolakan yang kesekian kalinya. Lagi-lagi stigma yang mereka dapatkan. Lagi-lagi kesalahan masa lalu (yang tidak pernah mereka lakukan) dilemparkan. Tembok tebal kapitalisme yang sedang melanda gereja kokoh berdiri menghalangi langkah. Lengkap dengan balista dan sepasukan pemanah mengarah ke dada. Membawa Prana sampai pada persimpangan, membiarkan amarah dan kebencian melanda hati, atau lari berkubang pada keputusasaan. Masih adakah harapan dalam awan hitam yang sepekat ini?

***

Lakon ”Aku Kamu Aku Aku”, lahir dari sebuah refleksi bersama kawan-kawan Sanggar Sendang dari guliran pengalaman. Banyak ditemui kawan-kawan OMK yang dulunya aktif di Gereja, kemudian saat ini memilih untuk beraktivitas di luar Gereja. Dan salah satu alasannya (yang menjadi sorotan) adalah “perasaan dipinggirkan”.

Kelemahan mendasar dari seorang aktivis OMK dalam bergerak, lagi-lagi klasik, persoalan dana. OMK yang masih belajar ini, masih banyak yang menggantungkan hidupnya pada orang tua. Begitu pula dalam berkegiatan mereka masih menggantungkan diri pada Gereja.

Di sisi lain ada sebuah keprihatinan yang dalam pada pola pikir banyak orang yang memuja pembangunan. Gereja seakan menjadi berharga apabila memiliki gedung yang megah, taman yang luas lengkap dengan pancurannya, atau Gua Maria yang indah.

Sesungguhnya segala hal itu baik-baik saja. Namun pemikiran di baliknya yang menjadi sorotan tajam. Bahwa segala keindahan dan kenyamanan itu dibutuhkan untuk memancing umat, khususnya mereka yang berada pada tingkat ekonomi tinggi. Lagi-lagi kaitannya dengan banyaknya jumlah kolekte yang akan diperoleh tiap minggunya.

Dua hal di ataslah yang kemudian melahirkan lakon ini. Coba gabungkan saja kedua faktor di atas. Akan ditemukan jejak-jejak kecil, mengapa OMK kemudian menjadi sedikit terabaikan. Kemudian, dimanakah harapan?

Lewat pementasan inilah, Sanggar Sendang mencoba untuk menawarkan lilin kecilnya. Pada persahabatan, pada solidaritas.

Erick “Genjour” Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: