Analogi Katapel

Ada lima tugas hidup menggereja, yakni leiturgia, diakonia, kerygma, koinonia, martyria. Sebagai tugas hidup, kelima-limanya mesti dilaksanakan oleh segenap lini Gereja. Tentu ada perbedaan intensitas di antara berbagai lini tersebut dalam melaksanakan lima tugas menggereja. Perbedaan macam itu wajar dan mesti diterima serta disyukuri sebab Gereja memiliki “banyak anggota dan satu tubuh”.

Dalam tugas martyria dapat diletakkan topik kaderisasi. Kita sudah mengetahui betapa pentingnya hal ini digarap secara serius. Ada banyak alasan mendasar untuk itu, entah demi pengembangan sosio-ekonomis-historis bangsa kita, atau demi cita-cita hidup menggereja, atau demi Sabda Allah sendiri yang mendorong kita untuk melakukan kaderisasi. Wacana berkenaan dengan kaderisasi amatlah kaya. Catatan pendek berikut ini mengajukan satu analogi untuk memudahkan orang dalam memandang dan mengapresiasi kaderisasi dalam kerangka hidup menggereja dan memasyarakat.

Struktur katapel dapat kita pakai untuk menggambarkan secara sederhana paradigma yang digunakan dalam kaderisasi. Katapel memiliki tiga bagian penting; satu batangnya dan dua cabangnya. Batang katapel haruslah kukuh-kuat dan kedua cabangnya mesti seimbang kekuatannya.

Batang katapel. Bagian ini menunjuk pada proses pokok dalam hidup menggereja. Dalam proses ini seorang calon kader menerima warisan imannya dan menjadikannya sebagai pilihan hidupnya. Di situ terjadi penanaman dan penguatan keyakinan bahwa iman itu mesti diungkapkan dan diwujudkan, tidak cukup hanya dimiliki dan dihayati secara amat pribadi. Batang katapel ini menunjuk proses katekese harian yang membangun fondasi hidup sebagai murid. Inilah bagian tak kelihatan yang menjadi dasar dalam proses kaderisasi. Tanpa bagian ini, seorang kader akan selalu mengalami kesulitan besar untuk menemukan tujuan hidup dan tugas perutusannya, nilai-nilai yang menjadi dasar dalam bertindak dan berelasinya, kesatuan dirinya sebagai bagian dalam hidup menggereja, dinamika iman yang terus mencari pengungkapan dan perwujudannya secara tepat dalam konteks hidupnya.

Tanpa meremehkan berbagai pihak yang memang memiliki peran penting dalam katekese dasar, kita mengakui bahwa pihak yang paling erat terlibat dalam bagian ini adalah keluarga. Di situlah anak mendapat pendidikan iman dan kemanusiaan. Selain keluarga, barangkali kita dapat mencermati peran komunitas lingkaran akrab (mis: peer-group). Di situ orang muda dengan sukarela membuka diri untuk mengenal dunia yang lebih luas. Dalam suasana keakraban dan relasi yang intensif, orang muda belajar mengenal dan mengelola hidupnya. Nah, kita dapat bertanya. Pengaruh dan suasana macam apakah yang diterima dan membentuk orang muda (= calon kader) dalam komunitas keluarga dan komunitas akrabnya? Apakah pengaruh dari “Gereja”, atau “poros pasar”? Metode apakah yang praktis membentuk suasana dalam keluarga atau komunitas akrab itu? Metode/sistem sel dan praktik katekese, ataukah iklan dan aneka hiburan?

Dua cabang katapel. Cabang pertama menunjuk pada kaderisasi yang mengarah pada perjuangan signifikansi internal dan cabang kedua menunjuk pada perjuangan relevansi eksternal. Signifikan secara internal artinya warga Gereja sendiri menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari Gereja, ia dapat menimba makna kehidupannya dari Gereja, ia bisa menimba kekuatan dari Gereja untuk mengembangkan hidupnya, keluarganya, imannya dan sebagainya. Sementara relevan secara eksternal berarti Gereja diakui dan diperhitungkan kehadirannya, disegani dan dihormati serta dicintai oleh masyarakat, oleh pemerintah, oleh siapapun.

Dua cabang ini merupakan kancah yang kelihatan dalam proses kaderisasi. Dalam hal ini, kita mesti terus saling mengingatkan bahwa kaderisasi cabang yang satu jangan dipisahkan secara total dengan cabang yang lain. Analogi katapel dengan jelas menunjukkan kesatuan dua cabang ini. Kaderisasi aktivis Gereja dan aktivis masyarakat harus selalu diusahakan selalu dalam koordinasi dinamis yang hangat akrab dan saling melengkapi. Dan keduanya mestilah menyatu-erat berurat-jaringan pada batang katapel yang sama, yakni proses katekese dasar yang kukuh-kuat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: