Melihat Kemiskinan Dengan Lebih Terang

Kesan pertama pada film yang berdurasi 81 menit ini adalah ngeri. Bagaimana tidak ngeri? Di balik begitu anggun dan menariknya jalanan Malioboro dan kota Jogjakarta yang berpredikat kota wisata itu, ternyata tersimpan demikian kejam dan menyedihkan kisah hidup sebagian orang kelas bawah yang selama ini lepas dari pandangan mata awam. Bisa jadi, ini merupakan sebuah tamparan keras yang patut dipublikasikan kepada banyak pihak sehingga dapat dilakukan tindakan lebih lanjut terhadap kisah-kisah serupa di kota-kota lain.

Ada tiga kematian yang mewakili tiga titik penting kehidupan jalanan yang diangkat dalam film ini. Kematian bocah pertama ketika duduk di atas kereta mewakili kerasnya hidup di jalanan. Kematian kedua, secara eksplisit dikatakan dan dituliskan, sebagai korban mafia asuransi, dan kematian ketiga, karena salah tusuk, mewakili aksi kekerasan antar-preman jalanan.

Secara umum, kemiskinan itu sendiri mengacu pada dua hal yaitu penghasilan yang tidak mampu mencukupi kebutuhan dan tidak terpenuhinya hak hidup seseorang. Bagaimana kemiskinan ini terjadi? Manusia lahir, semua tanpa membawa apa pun selain tubuh, jadi, kalau ada orang yang kemudian menjadi miskin atau kaya, kita percaya bahwa ada sistem yang membuat mereka demikian. Inilah yang kemudian disebut kemiskinan struktural.

Seberapa keras seorang miskin itu berusaha dan bekerja, dia tak akan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Hal ini membuat mereka putus asa. Maka tak heran, ketika ada organisasi atau kelompok-kelom-pok yang berusaha memberi mereka pengalaman baru melalui bangku sekolah, mereka malah memilih untuk lari.

Sedikit distorsi. Pada awalnya pasti kita berpikir “omong kosong” tak bisa keluar dari lingkaran kemiskinan itu, sebab, saya sendiri bisa kok! Dulu saya miskin, sekarang, meskipun tidak kaya, tapi saya bisa hidup lebih mapan, karena saya mau bersekolah, belajar, dan bekerja keras. Oke, pendapat dan pengalaman itu tidak salah. Namun kalau boleh dibilang, maaf, ini adalah cara pandang liberal.

Kita bisa berkata demikian karena kita TIDAK berasal dari kelompok yang benar-benar miskin itu. Pada awalnya, kita berada di golongan menengah, meskipun menengah ke bawah. Coba kita amati lebih jeli golongan yang benar-benar berada di bawah. Untuk makan saja susah, baju ya hanya yang itu-itu saja. Mungkin susah untuk digambarakan melalui kata-kata, namun melalui sepenggal film kisah dalam film ini, atau pengalaman bersama mereka, kita bisa sedikit berada di pihak mereka, melihat dari sudut pandang mereka, barulah kita dapat benar-benar ada untuk mereka, kaum marginal.

Kembali ke topik utama. Jadi, mengapa mereka yang diberi kesempatan mencicipi bangku pendidikan malah lari? Sebenarnya mungkin bukan lari, hanya, caranya saja yang tidak sesuai, tidak “pas” dengan latar belakang kultur mereka. Kultur jalanan yang bebas. Jadi kalau memang mau, berilah pendidikan yang sesuai dengan kultur hidup keseharian mereka: di jalanan sambil belajar, atau di sawah sambil menggiring ternak. Kultur hidup mereka yang demikian bukan berarti mereka lebih tak beradab daripada kita, kan?

Cara lain? Program anak asuh, mungkin, bagi mereka yang sudah bersekolah namun tak punya dana untuk me-lanjutkan. Bagi yang sudah lebih besar, beri latihan kerja, tapi ingat, perlakukan mereka sebagai layaknya sesama manusia, bukannya sampah masyarakat.

Bantuan karikatif? Memang bantuan jenis ini masih dibutuhkan namun jangan dijadikan pola karena bantuan ini hanya bersifat temporer, moment-moment tertentu saja, tetap tak bisa menyelesasikan masalah. Selain itu, bantuan pinjaman modal dengan bunga lunak tentu sangat diperlukan untuk kelangsungan mereka yang mulai memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri secara kecil-kecilan. Namun seringkali, jenis pinjaman ini tidak tersedia di bank atau bahkan pengajuan kredit mereka ditolak. Kita bisa tawarkan pendidikan Credit Union bagi mereka (seperti pengalaman para pengusaha kecil di Kalimantan yang akhirnya malah membuahkan Credit Union terbesar di negeri ini).

Penyelesaian terhadap kemiskinan memang kasustik, artinya, di tiap daerah berbeda dengan daerah yang lain, unik. Jadi perlu dibuat pemetaan kasus yang teliti. Kita ambil contoh saja, mengatasi kemiskinan di metropolis. Ada daya tarik metropolis yang memicu terjadi- nya urbanisasi. Maka seharusnya  pembangunan di kota-kota kecil non metropolis juga digenjot sehingga terjadi pemerataan, buntutnya, untuk mendapatkan “sesuatu” yang tadinya hanya da-pat diperoleh di metropolis, dapat dicegah dengan pemerataan pembanguan ini.

Namun, jika kita hanya rakyat kecil, dari golongan menengah, baiklah kita lakukan perbaikan kultur dan sistem di sekitar kita saja dahulu. Selain itu, peran kita dalam media untuk memaparkan keada-an yang terjadi di sekitar kita tentu dapat membuka cakrawala lebih banyak orang, terutama pemerin-tah, yang searusnya bertanggung jawab atas fakir miskin dan anak terlantar, seperti yang tertulis dalam UUD ’45.

Sekarang, sekali lagi, sebagai kelas menengah yang “menggem-pur” ke atas dan mendidik ke bawah, bagaimana kita dapat ambil bagian? Peran mana yang dapat kita lakukan, yang paling sesuai dengan potensi diri kita? Mari bergerak, Muda 100%, Katolik 100%, dan Indonesia 100%.

Silvana Windharwati

team materi Jumatan  Bengawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: