OMK VS Hirarki

OMK (Orang Muda Katolik) adalah punggawa terdepan dari eksistensi gereja Katolik yang terdiri atas individu-individu yang tergabung dalam komunitas muda-mudi Katolik (Mudika). Tugas dan panggilan sebagai punggawa gereja itu mempunyai tanggung jawab yang begitu besar tidak hanya untuk gereja saja, tapi juga untuk membangun iman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan sosial di sekitar kita.

Sebagai OMK kita mempunyai impian serta semangat perubahan dan idealisme kepemudaan, yang seharusnya kita perjuangkan setiap saat. Dengan itu kita bisa menjumpai OMK dengan mental “against the flows” atau menentang arus dengan ciri-ciri dinamis, progresif, kreatif dan reformis. Arus yang ditentang adalah arus negatif jaman.

Tapi, ada yang bertolak belakang dengan semangat against the flows. Sering kita jumpai, kapabilitas, dinamika, talenta serta ide-ide OMK dalam lingkup gereja sering kali terbatas ketika berhadapan dengan hirarki gereja yang dianggap sakral. Rendahnya pemahaman atau ketidakberaniankah yang melatarbelakangi OMK sehingga sering berbenturan dengan hirarki?

Tidak hanya OMK, umat juga kerap merasakan benturan dengan hirarki. Seringkali kita mendengar keluhan-keluhan umat tentang keputusan pembangunan fisik gereja (balai paroki atau pastoran) yang tidak “melibatkan” umat secara keseluruhan. Hal ini kerap menjadi kasak-kusuk di kalangan umat dan OMK. Tapi sayang, kasak-kusuk itu hanya berhenti di tempat dan tidak berlanjut menjadi tindakan.

Fenomena ini sudah jamak. OMK terkesan tidak berani, sungkan atau terlalu menghormati struktur hirarki paling tinggi dalam gereja. Sebenarnya apa susahnya sih kita meminta klarifikasi perihal sebuah kebijakan yang tidak melibatkan umat dengan mengadakan dialog bersama?.

OMK janganlah takut berpikir dan bertindak kritis terhadap situasi perkembangan gereja maupun lingkungan sosial karena itu akan mematikan ide-ide dan angin perubahan. Dinamika OMK harus memberikan kesadaran sikap, perilaku baru dan pengetahuan baru sebagai bekal kita bertindak mengaktualisasikan iman Katolik.

Maka, kita perlu ingat bahwa hirarki memang organ kesatuan Gereja, tetapi Roh Kuduslah prinsip kesatuan. Perbedaannya menyangkut perbedaan antara segi batin dan segi lahir, aspek ilahi dan insani Gereja. Dengan kata lain, Kristus tidak hanya memenuhi Gereja dengan RohNya, tetapi juga melengkapinya dengan sarana-sarana yang tepat bagi kesatuan yang tampak dan sosial.

Kesatuan batiniah yang berasal dari Roh menyatakan diri dalam kesatuan lahiriah, dan agar kesatuan lahiriah dapat berkembang dan menyatakan diri dalam bentuk sosial maka Gereja diberi bentuk hirarki. Dan sesuai dengan pandangan Perjanjian Baru yang melihat hirarki pertama-tama secara fungsional dan tak pernah berbicara tentang pangkat atau kehormatan, maka Konsili Vatikan II pun menyebutnya “jabatan”, “pelayanan”, “tugas”, dan “pengabdian” sehingga hirarki ada di tengah-tengah umat sebagai saudara di antara saudara yang melayani dengan kasih dan mengkomunikasikan iman.

Tugas ini dijalankan di segala bidang kehidupan Gereja, terutama di bidang doktrin (pengajaran) kultus (ibadat), dan bimbingan (kegembalaan) yang sesuai dengan ketiga tugas Kristus sebagai nabi/guru, iman dan raja/ gembala. Bila kekhususan fungsi hirarki mau ditonjolkan dalam perbedaannya dengan fungsi kaum awam maupun dengan fungsi seluruh Gereja, pertama-tama harus dikatakan bahwa tugas hirarki merupakan tugas kegerejaan, dan kemudian bahwa tugas itu tugas kepemimpinan dalam komunikasi yang penuh kharisma.

Tugas tersebut di atas mencakup tugas kegerejaan (ad intra – ke dalam) demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia yang mengarahkan dunia kepada Kristus dan ad extra yakni menyatakan iman dalam hidup kemasyarakatan yang konkret dalam kerasulan awam.

Penjelasan diatas merupakan tataran kehidupan menggereja tugas hirarki harus selalu disesuaikan dengan kemungkinan dan kebutuhan umat. Karena bertugas menghidupkan semangat dan sikap iman di dalam umat, dan mengingat perlunya “selalu memperbaharui diri” maka tidak dapat ditentukan apriori bentuk pelaksanaan konkret tugas hirarki.

Kita semua adalah bagian dari pelayanan gereja dan murid Kristus seyogyanya kita bersama-sama menguatkan spritualitas Katolik dengan pelaksanaan tugas yang baik. Maka perlu kita sadari bahwa OMK yang merupakan suara minoritas dalam gereja sudah sepantasnya mempunyai jiwa-jiwa kepeloporan untuk mendobrak segala bentuk ketidakadilan sosial dan hirarki yang melenceng dari relnya.

Oleh : Yohanis Kristian “Yayank”

Ketua Mudika Paroki St Yohanes Pemandi Wonokromo Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: