Peka, Mandiri dan Terlibat

Tiga kata kunci yang menjadi judul tulisan ini berasal dari rumusan Visi Komkep 2005-2009 (rumusan lengkap ada di Horda September 2009).

Ketiga kata ini bukan kata yang pasif melainkan aktif. Artinya, ini bukan semangat yang kita bawa sejak lahir, melainkan semangat yang perlu ditumbuhkan terus-menerus seiring dengan kedewasaan kita. OMK yang memiliki tiga semangat ini tentulah OMK yang telah banyak berlatih mengolah diri, berefleksi dan dengan tekun dan penuh kesadaran terus berupaya memupuk semangat ini sebagai roh untuk beraktivitas.

Kita dapat merasakan dua dimensi yang tercermin dari visi ini yaitu dimensi ke dalam dan keluar. Ke dalam berarti Komkep memberi ruang, memfasilitasi  serta mendorong agar OMK menjadi bagian dari karya pastoral gereja di Keuskupan Surabaya lewat berbagai bentuk. Tanpa melupakan dunia OMK yang sangat dinamis dan bergerak cepat, Komkep (dengan visi ini) ingin menyebarkan semangat ini sebagai nilai-nilai luhur dalam setiap bentuk kegiatan.

Berdimensi keluar berarti semangat ini hendak diwujudkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di mana OMK menjadi bagian daripadanya. Pada dimensi ini, peran dan fungsi Komkep terasa kurang optimal. Beberapa ajakan dari rekanan, mitra dan jejaring Komkep untuk bergumul dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang kongkret, kurang mendapat sambutan yang memuaskan. Dalam berbagai rapat, diskusi dan kegiatan, kurang terasa gairah untuk berkarya di tengah masyarakat. Masalah kompetensi, kapasitas dan minimnya relawan menjadi faktor utama yang mengemuka sejauh ini.

Jika merujuk pada rumusan aslinya, visi ini diawali dengan kalimat “OMK yang mempunyai kemauan belajar terus-menerus dalam pengembangan diri dan organisasi..” Dari kalimat pertama ini nampak jelas kemana arah pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukan Komkep yaitu pengembangan diri dan organisasi. Maka, yang menjadi bingkai besar dari ketiga kata kunci itu adalah pengembangan diri dan organisasi.

Menjadi OMK yang peka, mandiri dan terlibat adalah antitesis dari semangat umum yang sedang menghinggapi orang muda jaman sekarang, yaitu semau gue, individualis dan hedonis (mencari kenikmatan semata). Dengan begitu, maka visi ini tidak mudah dijalankan. Perlu kesabaran, energi  ekstra dan daya tahan tinggi untuk tetap setia menjaga visi ini di tengah gempuran modernisasi.

Dua prioritas program untuk bidang pastoral OMK yang dihasilkan dalam Musyawarah Pastoral, November kemarin, adalah kaderisasi dan pemberdayaan. Beberapa bidang pastoral lainnya (kerasulan awam, dan hubungan antaragama) juga memprioritaskan progam yang senada.

Dalam perjalanan waktu, prioritas program kaderisasi dan pemberdayaan ini dapat menjadi agenda bersama yang jika dilakukan dengan intens dan penuh komitmen tak mustahil akan terwujud.

Sembari bersiap untuk bersinergi dengan komisi-komisi lain guna melaksanakan Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019, Komkep dapat memulainya dengan merancang dan memikirkan visi-misi berikutnya sebagai pedoman berpastoral bagi OMK. Mari!

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: