Pentas Perdana Sanggar Sendang

Setelah melalui latihan dan persiapan yang cukup panjang, akhirnya Sanggar Sendang Komkep menampilkan sebuah pentas produksi berjudul “Aku Kamu, Aku Aku” pada Sabtu 10 Oktober lalu di aula Catholic Center lantai 2 jalan Bengawan 3 Surabaya.

Pentas ini berdurasi 60 menit dengan disutradari oleh Erick “Genjur” Saputra. Lagu-lagu yang dibawakan oleh team musik turut menghantar jalannya pentas dari awal hingga akhir. Lagu “Aku Kamu, Aku Aku” dinyanyikan untuk mengawali pentas. Kemudian dilanjutkan dengan petikan gitar yang menemani perkenalan Ibu Harti (diperankan Reza Kartika), penjual nasi pecel yang menjadi tokoh sentral dalam pentas ini.

Celotehan-celotehan spontan dan menggelitik saat pentas berjalan seakan menjadi penghidup suasana. Sekitar 200 penonton OMK dari seluruh penjuru Surabaya yang hadir tampak menikmati pentas yang disuguhkan.

Dari beberapa dialog dan adegan tampak penonton tertawa lepas. Adegan dan dialog pak Dirga (diperankan Matius Dwi) yang menunjukkan betapa sibuknya dia sebagai ketua dewan paroki dan pengusaha, membuat tawa penonton keluar. Juga saat adegan dan dialog antara pengasong (Johan Baron) yang terus berusaha mendekati anak putri Bu Harti.

Namun sebaliknya, penonton seolah terbawa suasana tegang dan iba saat adegan penggusuran warung Bu Harti oleh para pamong praja. Juga saat adegan dan dialog antara Prana (Albertus Prameidy) dan Julia (Agnes Evani) tentang nasib kegiatan Mudika yang sedang mereka perjuangkan untuk disetujui oleh Romo (Andi Limantara).

Kelegaan muncul di wajah penonton saat cerita hampir berakhir dengan dibangunnya kembali warung Bu Harti dan berdamainya lagi Prana dan Julia untuk aktif di Mudika. (sinopsis singkat tentang cerita lakon “Aku Kamu, Aku Aku dapat dibaca di Horda Oktober 2009).

Sesudah pentas diadakan sessi dialog dengan penonton sambil ditemani dengan suguhan makanan ringan. Beberapa penonton dengan antusias memberi kritik dan saran atas pementasan yang baru berlangsung.

Beberapa peserta yang terlibat di teater kampus memberikan kritik dan saran seputar teknis, aktor dan alur cerita. Penonton yang awam di teater memberi pendapat yang beragam. Ada yang merasa cerita ini mewakili perasaannya sebagai mudika yang terpinggirkan di gereja. Ada juga yang menanyakan solusi untuk permasalahan mudika di parokinya.

Pentas perdana ini adalah sebuah hasil yang patut diacungi jempol dari usaha dan latihan rutin yang dijalani oleh Sanggar Sendang selama ini. Tentu saja pentas ini dapat berjalan lancar karena ada pengorbanan, komitmen dan kekompakan dari para pemain, kru dan semua pihak yang terlibat.

Semoga pentas ini dapat menumbuhkan semangat baru OMK untuk tetap berkarya.

Oleh : Martina Weking

OMK Paroki Hati Kudus Yesus Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: