Bukan Generasi Kepalang Tanggung

Saat ini sedang ramai diperbincangkan tentang kaderisasi di dalam gereja bagi orang muda Katolik (OMK). Selain penting bagi pewartaan karya penyelamatan Gereja, kaderisasi juga dirasa mendesak mengingat kompleksitas masalah yang ada di sekitar kita. Prioritas program pertama untuk OMK dalam Ardas Keuskupan Surabaya 2009-2019 adalah tentang kaderisasi (lihat box).

Namun apakah sesungguhnya arti “kader” itu?

Kader dalam bahasa Perancis, cadre, yang artinya elite (golongan atas yang terpilih dari terbaik karena terlatih). Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Peter Salim, 1995), kader berarti “orang yang diharapkan bakal mampu memangku jabatan yang penting di kemudian hari”. Sumber lain menyebutkan, kader adalah individu yang percaya terhadap teori dan nilai yang selanjutnya diwujudkan dalam tindakan atau perilaku (hafismuadab.wordpress.com)

Dari pelbagai pengertian itu dapatlah kita sederhanakan arti kata kader sebagai orang yang disiapkan sedemikian rupa lewat berbagai pelatihan, pembinaan dan pendampingan sehingga seluruh potensi, bakat, minat dan orientasi hidupnya didedikasikan untuk kebaikan bersama.

Sementara kaderisasi dapat diartikan sebagai ruang dan waktu yang berupa kesempatan untuk melatih, membina dan mendampingi seseorang untuk menjadi kader.

Kaderisasi kerap dihubungkan dengan regenerasi karena dengan kaderisasi yang baik maka tongkat estafet kepemimpinan di sebuah organisasi, lembaga atau komunitas dapat berjalan lancar. Organisasi, lembaga atau komunitas yang sehat adalah yang tidak menciptakan patron (sosok sentral yang menjadi penentu kebijakan tunggal) melainkan melahirkan kader.

Kaderisasi juga identik dengan kepemimpinan karena salah satu tujuan kaderisasi adalah melahirkan seorang pemimpin yang minimal mampu memimpin dirinya sendiri.

Salah satu tantangan besar bagi kaderisasi adalah modernisasi. Dalam modernisasi yang diwakili oleh gaya hidup modern (individualis, konsumtif, hedonis, dll) orientasi hidup seseorang menjadi sangat pendek dan sempit. Baginya, hidup tak lain adalah tentang dirinya sendiri dan masa depannya. Keseluruhan sejarah hidupnya dalam berbagai aspek (beragama, berpendidikan, bersosialisasi, bekerja, berkeluarga) selalu berujung pada kesejahteraan dirinya sendiri. Singkatnya, segala hal adalah “tentang aku”, bukan “tentang kita”.

Modernisasi melahirkan generasi yang kepalang tanggung. Dalam hal pendidikan mereka nanggung karena ijazah hanya dipakai untuk melamar pekerjaan sebagai karyawan toko, bukan menjadi pengusaha yang membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Dalam bekerja mereka nanggung karena yang dikejar adalah gaji bulanan plus income tambahan, bukan demi eksistensi dirinya sebagai manusia yang berdaya-guna. Demikian juga dengan aspek hidup yang lainnya. 

Dengan begitu maka kaderisasi adalah tugas kita semua (baik sebagai peserta maupun panitia). Kaderisasi akan menempa kita menjadi pribadi yang punya pengetahuan, kemampuan dan penghayatan akan nilai-nilai yang menggerakkan kita untuk berkarya demi hidup bersama yang lebih baik. Itu semua karena kita tidak ingin disebut generasi kepalang tanggung.

Yudhit Ciphardian

 ——————————————————-

Prioritas Program orang muda dalam  Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2009-2019

1. Penyelenggaraan pelatihan kader/ aktivis/ kepemimpinan tingkat dasar (tingkat paroki), menengah (kevikepan) & lanjut (keuskupan).

2. Penyelenggaraan kegiatan dalam hidup menggereja yang didedikasikan bagi keterlibatan banyak orang muda, baik sebagai peserta maupun panitia/ penentu kebijakan dalam kegiatan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: