Mari Berani Bermimpi

“Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia”. Kalimat ini adalah kalimat pertama lagu “Laskar Pelangi”. Lagu ini menjadi soundtrack film dengan judul yang sama. Lagu yang dinyanyikan grup band Nidji ini sama larisnya dengan film yang disutradari oleh Riri Reza dan novel yang ditulis oleh Andreas Herata. Tiga serangkai lagu, novel dan film ini menempati posisi pertama di chart lagu dan film serta buku terlaris di Indonesia selama berminggu-minggu.

Topik utama dari tiga karya seni (novel, film dan musik) ini adalah tentang keberanian bermimpi. Diceritakan bahwa Andreas Herata (yang dalam film dan novelnya memakai nama Ikal) adalah seorang pemuda dari provinsi Bangka-Belitung yang menempuh pendidikan dalam kondisi terbatas, mengingat kota tempat tinggalnya adalah daerah tertinggal, namun berani membangun mimpi atas hidupnya dan memperjuangkannya hingga terwujud.

Keberanian itu ia dapat dari guru, orangtua dan teman-teman sepermainan yang dalam film diceritakan dengan mengharukan. Berkat keberanian membangun mimpi itu, Ikal berhasil kuliah pascasarjana di Perancis dan di sanalah ia menulis novel pertamanya Laskar Pelangi yang sangat fenomenal.

Topik “keberanian bermimpi” ini ia ulangi di novel kedua yang juga difilmkan dengan judul yang sama, “Sang Pemimpi”.

Dengan dua film ini, kita diajak untuk berani bermimpi akan hidup kita. Keberanian bermimpi saat ini adalah “barang mewah” mengingat mimpi-mimpi kita sudah ditentukan oleh televisi dan iklan. Lihatlah betapa standart hidup sukses kita dewasa ini adalah sama seperti yang diiklankan di teve yaitu bekerja di perusahaan mapan, dengan rumah dan mobil mewah serta penampilan yang menawan. Dengan begitu standart kesuksesan juga mengalami pergeseran. Kesuksesan diukur dari benda-benda duniawi. Kita kesulitan untuk memimpikan hidup kita sesuai dengan yang kita inginkan untuk menjadi apapun yang kita mau.

Topik “berani bermimpi” ini pula yang menjadi tema utama Retret Siswa-Siswi SMAK Untung Suropati (Unsur) Sidoarjo pada 15-19 Februari lalu di wisam Canta Yumana Trawas. Retret yang difasilitasi penuh oleh team Komkep ini diikuti oleh 150 orang dari lima kelas dalam dua gelombang. Gelombang pertama (15-17 Februari) diikuti kelas IPS dan ge-lombang kedua (17-19 Februari) diikuti kelas IPA.

Menurut guru agama SMAK Unsur Ignatius Puguh, retret ini adalah acara tahunan yang diikuti oleh semua kelas XI. Untuk tahun ini SMAK Unsur mempercayakan seluruh materi dan kemasan acara retret pada Komkep dengan romo Kurnia Yudatama (staf Komkep) sebagai pastor pendamping. “Saya berharap retret ini dapat menjadi acara yang berkesan mendalam bagi murid-murid. Semoga mereka akan mengenang retret ini sebagai salah satu acara yang mengubah hidup dan cara pandang mereka,” ujar Ignas.

Alur materi dalam retret ini adalah peserta diajak untuk mengenali potensi dirinya sebagai pribadi yang berharga. Lalu dengan kesadaran itu peserta mengenali arti bermimpi dan berpengharapan. Lalu peserta diminta untuk berani merencanakan hidup hingga 10 tahun mendatang.

Selain ceramah dan tanya jawab, acara juga diisi dengan game, dinamika kelompok dan diskusi film. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: