Menjadi Pewarta, Menjadi Indie

Pewartaan dalam Gereja Katolik memiliki beberapa bentuk yaitu pelajaran agama, katekese umat, atau homili. Dialog dengan agama lain juga oleh Gereja dinyatakan sebagai bentuk pewartaan yang sesuai dengan keadaan Gereja di tengah-tengah agama-agama di dunia. Pewartaan itu seluas Gereja sendiri, yang ingin membagikan pengalaman imannya dengan siapa saja yang ikut mencari kehendak Allah. (Iman Katolik, 1996, hal. 390).

Dalam perkembangannya, Gereja –lewat Konsili Vatikan II– menganjurkan media komunikasi modern seperti media cetak, film, radio, televisi dan sebagainya digunakan sebagai media untuk pewartaan Injil. Pada awal tahun ini, Paus Benediktus menerbitkan pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-44 yang jatuh pada bulan Mei mendatang. Paus menulis, “para imam ditantang untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, fitur animasi,blog dan website).

Lewat pesan itu Paus tidak hanya menganjurkan kepada para imam melainkan juga kepada semua warga Gereja yang karena pengalaman imannya mengalami karya Allah. Artinya, pewartaan juga menjadi kewajiban setiap umat beriman.

Orang muda Katolik (OMK) juga dapat menjadi pewarta dengan segala talenta yang dimilikinya, misalnya bernyanyi dan bermain musik. Memainkan musik rohani tentunya juga melalui proses yang sama seperti memainkan musik duniawi, antara lain, mengaransemen musik, diskusi lirik dan latihan memainkannya. Nah, dalam proses itulah nilai-nilai kekatolikan yang menjadi pesan utama sebuah lagu rohani akan menjiwai semua orang yang terlibat dalam musik itu.

Tentang Indie

Indie, yang berasal dari kata independen (mandiri) adalah sebuah gerakan bermusik yang mulai populer di Indonesia satu dasawarsa terakhir ini. Gerakan indie musik awalnya adalah gerakan perlawanan terhadap industri musik mapan yang kerap mengintervensi hasil karya kreatifitas musisi. Intervensi itu terjadi mulai dari mengganti nama band, mengganti lirik sampai secara mendasar ikut menentukan jenis musik sebuah kelompok band. Tujuan utama intervensi itu tak lain dan tak bukan adalah untuk memenuhi selera pasar. Jika musik yang dikeluarkan oleh perusahaan rekaman itu disenangi pasar, maka keuntungan akan diraup. Mereka yang menyebut dirinya “indie” tidak mau bergabung dengan perusahaan rekaman besar karena tidak mau disebut “melacurkan musik”. Mereka lebih memilih merekam, memperbanyak dan mengedarkannya sendiri. Tentu saja dengan resiko hanya segelintir orang yang berminat pada musik mereka.

Setelah melewati masa-masa krisis, kini gerakan musik indie mulai diapresiasi oleh banyak kalangan. Radio-radio di Jakarta, Surabaya, Bandung dan kota besar lainnya mulai membuat program acara untuk memutarkan musik-musik indie. Media cetak bertema musik juga mulai menyediakan space untuk gerakan musik indie agar gerakan ini tetap eksis.

Dua semangat, satu acara

Semangat untuk menjadi pewarta sekaligus men jadi indie inilah yang menjadi semangat pergelaran Festival Musik Rohani yang diadakan oleh komunitas Sindiekat (Surabaya Indie Katolik) pada 7 Februari lalu di gelanggang olahraga (GOR) Hayam Wuruk Surabaya. Sehari sebelumnya digelar Workshop Musik Digital untuk memperkaya wawasan para peserta tentang musik digital di aula serbaguna SMPK St. Yosef jalan Joyoboyo Surabaya.

Semangat untuk menjadi pewarta dalam Festival ini diwakili oleh pemilihan lagu wajib dari Puji Syukur yaitu “Jadilah Mereka Satu” (PS 671) dan “Alangkah Bahagianya” (PS 619). Dengan mengaransemen dan memainkan lagu wajib ini, para peserta menyebarluaskan pesan dan nilai yang terkandung dalam lirik lagu ini. Jika pesannya tidak dapat diterima dengan jernih oleh orang lain, minimal para musisinya dapat memetik hikmah dari penggarapan lagu ini.

Sementara, semangat untuk menjadi indie diwakili oleh proses pembuatan dan distribusi album kompilasi.

Sebagai informasi, pada acara Sindiekat I Oktober 2007 lalu, panitia berhasil memproduksi 100 keping cakram (compact disc) album kompilasi para pemenang dan mendistribusikannya hingga ke seluruh Indonesia.

Menurut rencana, panitia yang mayoritas adalah relawan Komkep ini akan merekam dan memproduksi album kompilasi yang sama dengan album sebelumnya untuk para pemenang kali ini.

Festival ini adalah acara kedua setelah tiga tahun sebelumnya digelar Festival Sindiekat part I. Dari sisi peserta sedikit ada penurunan jumlah. Berdasar evaluasi Sindiekat part I (yang juaranya didominasi paroki dari Surabaya), festival kali ini menggunakan pembagian zona wilayah agar tidak terkesan “Surabaya-sentris”.

Tema yang diusung dalam acara yang dihadiri ratusan OMK dari dalam dan luar Surabaya ini adalah “Be Unity in Harmony”. Menurut keterangan pers panitia, tema ini diambil antara lain untuk menyebarluaskan pesan “menjadikan keanekaragaman menjadi suatu keharmonisan”.

Panitia yang didampingi oleh Rm Sabas Kusnugroho, Pr. ini menghadirkan tiga orang dewan juri yaitu Vincent Son G (pemazmur, organis, pelatih koor dan guru vocal), DJ Micky (produser di music line Indonesia, penyiar radio DJ FM, promotor musik indie Surabaya) dan Bruder Nungky  O.Carm (Pengajar sinematografi dan elektra band).

Setelah acara ini ada dua agenda yang dipersiapkan yaitu proses rekaman album kompilasi dan persiapan untuk Sindiekat part III. Untuk membicarakan hal itu, panitia dan peserta berkumpul di sebuah villa di Pandaan pada 13-14 Maret lalu.

Dengan hajat ini, orang muda Katolik (OMK) Keuskupan Surabaya unjuk diri lewat musik rohani sekaligus menjadi pewarta karya keselamatan Allah dalam semangat indie.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: